Minggu, 25 Oktober 2009

Objek Kajian Ilmu Aqidah (2)

Ada beberapa istilah lain yang dipakai oleh firqah/sekte selain Ahlus Sunnah sebagai nama dari ilmu ‘Aqidah, dan yang paling terkenal di antaranya adalah:

[1]. Ilmu Kalam
Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mutakallimin, seperti aliran Mu’tazilah, Asyaa’irah[1] dan kelompok yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena ilmu Kalam itu sendiri merupakan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.

Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai juga ka-rena bertentangan dengan metodologi ulama Salaf di dalam mene-tapkan masalah-masalah ‘aqidah.

[2]. Filsafat
Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

[3]. Tashawwuf
Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena merupakan pena-maan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka dijadikan sebagai rujukan di dalam ‘aqidah.

Kata Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Ia terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam.

Dr. Shabir Tha’imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan: “Jelas bahwa Tashawwuf me-miliki pengaruh dari kehidupan para pendeta Nashrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan tauhid. Islam memberikan pe-ngaruh yang baik terhadap kehidupan dan memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam.” [2]

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th. 1407 H) Rahimahullah berkata di dalam bukunya at-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashaadir: “Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang per-tama dan terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang di-nukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas per-bedaan yang jauh antara Shufi dengan ajaran al-Qur-an dan as-Sunnah. Begitu juga kita tidak pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi Shallallahu 'alaihi wa sllam dan para Shahabat beliau Radhiyallahu 'anhum, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah Subhanahu wa Ta'ala dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran tasawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta kezuhudan Budha, konsep asy-Syu’ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah Yunani, dan pemikiran Neo-Platonisme, yang dilaku-kan oleh orang-orang Shufi belakangan.” [3]

Syaikh ‘Abdurrahman al-Wakil Rahimahullah berkata di dalam kitab-nya, Mashra’ut Tashawwuf: “Sesungguhnya Tashawwuf itu adalah tipuan (makar) paling hina dan tercela. Syaitan telah membuat hamba Allah tertipu atasnya dan memerangi Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya Tashawwuf adalah (sebagai) kedok Majusi agar ia terlihat sebagai seorang yang ahli ibadah, bahkan juga kedok semua musuh agama Islam ini. Bila diteliti lebih mendalam, akan ditemui bahwa di dalam ajaran Shufi terdapat ajaran Brahmanisme, Budhisme, Zaratuisme, Platoisme, Yahudisme, Nashranisme dan Paganisme.” [4]

[4]. Ilahiyyat (Teologi)
Ini adalah nama yang dipakai oleh Mutakallimin, para filosof, para orientalis dan para pengikutnya. Ini juga merupakan penamaan yang salah sehingga nama ini tidak boleh dipakai, karena yang mereka maksud adalah filsafatnya kaum filosof dan penjelasan-penjelasan kaum Mutakallimin tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala menurut persepsi mereka.

[5]. Kekuatan di Balik Alam Metafisika
Sebutan ini dipakai oleh para filosof dan para penulis Barat serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena hanya berdasar pada pemikiran manusia semata dan bertentangan dengan al-Qur-an dan as-Sunnah.

Banyak orang yang menamakan apa yang mereka yakini dan prinsip-prinsip atau pemikiran yang mereka anut sebagai keyakinan sekalipun hal itu palsu (bathil) atau tidak mempunyai dasar (dalil) ‘aqli maupun naqli.

Sesungguhnya ‘aqidah yang mempunyai penger-tian yang benar yaitu ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang ber-sumber dari al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih serta Ijma’ Salafush Shalih.


[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1] Seperti Syarhul Maqaashid fii ‘Ilmil Kalam karya at-Taftazani (wafat th. 791 H).
[2] Ash-Shufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan (hal. 17), dikutip dari Haqiiqatut Tashawwuf karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al Fauzan (hal. 18-19).
[3] Hal. 50, cet. I, Idaarah Turjuman as-Sunnah, Lahore-Pakistan, 1406 H.
[4] Hal. 10, cet. Riyaasah Idaarah al-Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’, th. 1414 H.

Objek Kajian Ilmu Aqidah (1)

‘Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyat (hal-hal ghaib), kenabian, taqdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap Ahlul Ahwa’ wal Bida’, semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesat-kan serta sikap terhadap mereka.

Disiplin ilmu ‘Aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.

Di antara nama-namanya menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

[1]. ‘Aqidah (I’tiqad dan ‘Aqa-id)
Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah ‘Aqidah Salaf, ‘Aqidah Ahlul Atsar di dalam kitab-kitab mereka.[2]

[2]. Tauhid
Karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau peng-esaan kepada Allah di dalam Uluhiyyah, Rububiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu ‘aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Maka, dari itulah ilmu ini disebut ilmu Tauhid secara umum menurut Ulama Salaf [3]

[3]. As-Sunnah
As-Sunnah artinya jalan. ‘Aqidah Salaf disebut as-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah j dan para Shahabat g di dalam masalah ‘aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga ge-nerasi pertama.[4]

[4]. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah
Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi ke-sepakatan para ulama.[5]

[5]. Al-Fiqh al-Akbar
Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqh al-Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.[6]

[6]. Asy-Syari’ah
Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah ‘aqidah).[7]

Itulah beberapa nama lain dari Ilmu ‘Aqidah yang paling terkenal, dan adakalanya kelompok selain Ahlus Sunnah menama-kan ‘aqidah mereka dengan nama-nama yang dipakai oleh Ahlus Sunnah, seperti sebagian aliran Asyaa’irah (Asy’ariyah), terutama para ahli hadits dari kalangan mereka.


[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1] Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jama’ah (hal. 12-14).
[2] Seperti ‘Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadiits karya ash-Shabuni (wafat th. 449 H), Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (hal. 5-6) oleh Imam al-Laalika-iy (wafat th. 418 H) dan al-I’tiqaad oleh Imam al-Baihaqy (wafat th. 458 H). Rahimahullah
[3] Seperti Kitabut Tauhid di dalam Shahih al-Bukhari karya Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H), Kitabut Tauhid wa Itsbaat Shifaatir Rabb karya Ibnu Khuzaimah (wafat th. 311 H), Kitab I’tiqaad at-Tauhid oleh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Khafif (wafat th. 371 H), Kitabut Tauhid oleh Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitabut Tauhid oleh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (wafat th. 1206 H). Rahimahullah
[4] Seperti kitab as-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241 H), as-Sunnah karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (wafat th. 290 H), as-Sunnah karya al-Khallal (wafat th. 311 H) dan Syarhus Sunnah karya Imam al-Barbahary Rahimahullah
[5] Seperti kitab Ushuuluddin karya al-Baghdadi (wafat th. 429 H), asy-Syarh wal Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah karya Ibnu Baththah al-Ukbari (wafat th. 378 H) dan al-Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H).
[5] Seperti kitab al-Fiq-hul Akbar karya Imam Abu Hanifah t (wafat th. 150).
[6] Seperti kitab asy-Syari’ah oleh al-Ajurri (wafat th. 360 H) dan al-Ibaanah ‘an Syari’atil Firqah an-Naajiyah karya Ibnu Baththah.
[7] Seperti kitab asy-Syari’ah oleh al-Ajurri (wafat th. 360 H) dan al-Ibaanah ‘an Syari’atil Firqah an-Naajiyah karya Ibnu Baththah.

Penulis : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2

Peran Aqidah Dalam Kehidupan Seorang Muslim

MURAJA'AT FI FIQHIL WAQI' AS-SIYASI WAL FIKRI 'ALA DHAUIL KITABI WAS SUNNAH [Koreksi Total Masalah Politik Dan Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur'an dan As-Sunnah]


MUKADDIMAH
Para pemikir-pemikir Barat mulai menyuarakan melalui mimbar-mimbar ilmiah mereka, bahwasanya peperangan budaya dan ideologi telah dimulai. Dan peperangan antara konsep Islami dan konsep pemikiran sekuler telah dinyatakan terang-terangan. Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa kaum muslimin harus menyatukan barisan mereka dan memadukan visi dan misi mereka. Dan mereka harus mempelajari manhaj Islami yang benar.

Pergolakan pemikiran membangkitkan sentimen sebagian kelompok yang menggiring mereka melakukan beberapa aksi kekerasan. Aksi tersebut bersandar kepada beberapa metodologi berpikir yang keliru, secara tidak langsung merupakan sebab timbulnya beberapa kekacauan dalam lembaran sejarah dunia Islam.

Oleh karena itu, maka sudah sewajarnya kita menelaah dengan seksama pola pemikiran politik yang Islami menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan mengambil metodologi Ahlus Sunnah wal Jama'ah sebagai solusi dalam menghadapi segala tantangan zaman dan dalam membabat habis pemikiran-pemikiran yang menyesatkan.

Sebagai konsekswensinya umat Islam harus bersatu di atas pedoman Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Pedoman itulah yang dapat membantu umat ini dalam mengarahkan kebangkitan umat Islam dan memperbaiki perjalanan menuju ke arah sana.

Kebangkitan Islam telah muncul di atas dua manhaj :

Pertama : Manhaj yang memulai dengan menancapkan aqidah yang benar dan berusaha mengamalkannya, kemudian berangkat dan situ berusaha menelurkan ide-ide politik yang sejalan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kedua : Manhaj yang memulai dengan memunculkan ide-ide politik dan undang-undang sementara masalah aqidah dikebelakangkan. Akhirnya mereka jatuh dalam tindakan-tindakan yang salah.

Dibawah ini, akan saya salinkan secara berseri nasehat para ulama tentang masalah Politik dan Pemikiran, yang mana para ulama mengetengahkan asas-asas yang menjadi dasar dari kaidah bagi seluruh kafilah-kafilah dakwah Islam. Di samping mengetengahkan hubungan antara penguasa dan rakyat, amar ma'ruf nahi mungkar dan masalah perseteruan antara yang haq dan batil.

Ulama-ulama yang berbicara dalam kesempatan ini adalah ulama-ulama dan pemikir-pemikir Islam yang handal. Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah mufti Kerajaan Saudi Arabia merangkap ketua umum Lembaga Riset, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam. Kemudian Fadhilatusy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, beliau adalah anggota Lembaga Riset, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Saudi Arabia dan mantan Dekan Ma'had 'Ali Lil Qadha. Beliau adalah seorang peniliti yang matang yang telah bernadzar untuk selalu berkhidmat pada kepentingan agama dan penyebaran aqidah yang benar. Kemudian Fadhilatusy Syaikh Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan, seorang Guru Besar yang berpengalaman di Fakultas Syari'ah, seorang pengamat handal yang selalu tegak di atas manhaj yang lurus.

Dan sesungguhnya para ulama tertuntut untuk menjelaskan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam bidang politik dan pola pemikiran sebagaimana halnya mereka menjelaskan bidang aqidah. [1]


DIALOG KEDUA

Bersama Fadhilatus Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan


-URGENSI AQIDAH
-PERAN AQIDAH DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM


Pertanyaan :
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Ada beberapa orang yang memandang remeh perkara aqidah, mereka beranggapan bahwa nilai keimanan yang dimiliki sudah mencukupi bagi seseorang. Sudikah Anda menjelaskan urgensi aqidah bagi setiap pribadi muslim serta pengaruh yang timbul dari aqidah tersebut dalam kehidupannya dan dalam hubungannya terhadap diri sendiri, masyarakat muslim dan non muslim ?


Jawaban.
Bismillahirrahmanirrahim, segala puji hanyalah bagi Allah semata Rabb sekalian alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada rasul junjungan kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, bagi keluarga serta sahabat beliau, wa ba'du.

Pembenahan aqidah merupakan asas dasar Dienul Islam. Tidaklah berlebihan sebab syahadat Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah merupakan rukun Islam yang pertama. Dan para rasul pertama kali menyeru kaumnya untuk membenahi aqidah mereka. Sebab aqidah merupakan dasar pondasi seluruh amal ibadah dan perbuatan yang dilakukan. Tanpa pembenahan aqidah amal menjadi tiada berguna. Allah Subhnahahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan" [Al-An'am : 88]

Yaitu akan hapuslah seluruh amalan mereka. Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun" [Al-Maidah : 72]

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu : "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi" [Az-Zumar : 65]

Dari ayat-ayat diatas dan beberapa ayat lainnya jelaslah bahwa urgensi aqidah merupakan prioritas yang utama dan pertama dalam dakwah. Seruan dakwah pertama kali adalah kepada pembenahan aqidah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bermukim di kota Mekkah setelah diangkat menjadi rasul selama tiga belas tahun menyeru umat manusia kepada pembenahan aqidah, yakni kepada tauhid. Tidaklah diturunkan kewajiban-kewajiban ibadah kecuali setelah beliau hijrah ke Madinah. Memang benar, ibadah shalat diwajibkan ketika beliau berada di Makkah sebelum hijrah, akan tetapi bukankah syariat-syariat lainnya diwajibkan atas beliau setelah hijrah ke Madinah ? Hal itu menunjukkan bahwa amal ibadah itu baru dituntut setelah pembenahan aqidah. Orang yang mengatakan "cukuplah nilai keimanan tanpa memperhatikan perlu ambil peduli masalah aqidah" justru bertentangan dengan nilai keimanan itu sendiri. Sebab keimanan itu akan sempurna dengan memiliki aqidah yang benar dan lurus. Adapun jika aqidah belum benar, maka tidak akan ada tersisa iman dan nilai agama sedikitpun !

Pertanyaan :
Bagaimana pengaruh aqidah terhadap kehidupan seorang muslim dan prilakunya ?

Jawaban.
Sebagaimana yang telah disinggung diatas bahwa jika seorang muslim memiliki aqidah yang benar maka amal ibadahnya-pun menjadi benar. Sebab aqidah yang benar akan mendorongnya melakukan amal shalih dan mengarahkannya kepada nilai-nilai kebaikan dan perbuatan terpuji. Apabila seseorang telah berikrar tiada Illah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah didasari ilmu dan keyakinan serta ma'rifah, maka akan mendorongnya melakukan amal shalih. Sebab syahadat Laa Ilaaha Illallah bukanlah sekedar kata-kata yang diucapkan lisan begitu saja. Ia merupakan ikrar bagi i'tiqad dan amalan. Ikrar dan syahadat tersebut tidak akan lurus dan berguna kecuali dengan melaksanakan segala konsekwensinya berupa amal shalih, si pengingkar akan tergerak menegakkan rukun Islam dan Iman. Ditambah beberapa perintah-perintah agama dan disempurnakan dengan melaksanakan sunnah-sunnah dan nilai-nilai keutamaan lainnya.


[Disalin dari kitab Muraja'att fi fiqhil waqi' as-sunnah wal fikri 'ala dhauil kitabi wa sunnah, edisi Indonesia Koreksi Total Masalah Politik & Pemikiran Dalam Perspektif Al-Qur'an & As-Sunnah, hal 51-54 Terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari]

Ciri-ciri Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah memiliki ciri-ciri khusus. Adapun ciri-ciri itu dapat dijelaskan sebagai berikut.


[1] Sumber pengambilannya bersih dan akurat. Hal ini karena aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah berdasarkan Kitab dan Sunnah serta Ijma' para Salafush Shalih, yang jauh dari keruhnya hawa nafsu dan syubhat.

[2] Ia adalah aqidah yang berlandaskan penyerahan total kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebab aqidah ini adalah iman kepada sesuatu yang ghaib. Karena itu, beriman kepada yang ghaib merupakan sifat orang-orang mukmin yang paling agung, sehingga Allah memuji mereka : " Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi orang yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib". [Al-Baqarah : 2-3]. Hal itu karena akal tidak mampu mengetahui hal yang ghaib, juga tidak dapat berdiri sendiri dalam memahami syari'at, karena akal itu lemah dan terbatas. Sebagaimana pendengaran, penglihatan dan kekuatan manusia itu terbatas, demikian pula dengan akalnya. Maka beriman kepada yang ghaib dan menyerah sepenuhnya kepada Allah adalah sesuatu yang niscaya.

[3] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah aqidah yang sejalan dengan fithrah dan logika yang benar, bebas dari syahwat dan syubhat.

[4] Sanadnya bersambung kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sahabat, tabi'in dan para imam, baik dalam ucapan, perbuatan maupun keyakinan. Ciri ini banyak diakui oleh para penentangnya. Dan memang -Alhamdulillah- tidak ada suatu prinsip pun dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang tidak memiliki dasar Al-Qur'an dan As-Sunnah atau dari Salafus Shalih. Ini tentu berbeda dengan aqidah-aqidah bid'ah lainnya.

[5] Ia adalah aqidah yang mudah dan terang, seterang matahari di siang bolong. Tidak ada yang rancu, masih samar-samar maupun yang sulit. Semua lafazh-lafazh dan maknanya jelas, bisa dipahami oleh orang alim maupun awam, anak kecil maupun dewasa. Ia adalah aqidah yang berdasar kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sedangkan dalil-dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah laksana makanan yang bermanfaat bagi segenap manusia. Bahkan seperti air yang bermanfaat bagi bayi yang menyusu, anak-anak, orang kuat maupun lemah.

[6] Selamat dari kekacauan, kontradiksi dan kerancuan. Betapa tidak, ia adalah bersumber kepada wahyu yang tak mungkin datang kepadanya kebatilan, dari manapun datangnya. Dan kebenaran tidak mungkin kacau, rancu dan mengandung kontradiksi. Sebaliknya, sebagiannya membenarkan sebagian yang lain. Allah berfirman : "Kalau sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya" [An-Nisaa : 82]

[7] Mungkin di dalamnya terdapat sesuatu yang mengandung perdebatan, tetapi tidak mungkin mengandung sesuatu yang mustahil. Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah ada hal-hal yang di luar jangkauan akal, atau tidak mampu dipahami. Seperti seluruh masalah ghaib, adzab dan nikmat kubur, shirath, haudh (telaga), surga dan neraka, serta kaifiyah (penggambaran) sifat-sifat Allah. Akal manusia tidak mampu memahami atau mencapai berbagai persoalan di atas, tetapi tidak menganggapnya mustahil. Sebaliknya ia menyerah, patuh dan tunduk kepadanya. Sebab semuanya datang dari wahyu, yang tidak mungkin berdasarkan hawa nafsu.

[8] Ia adalah aqidah yang universal, lengkap dan sesuai dengan setiap zaman, tempat, keadaan dan umat. Bahkan kehidupan ini tidak akan lurus kecuali dengannya.

[9] Ia adalah aqidah yang stabil, tetap dan kekal. Ia tetap teguh menghadapi berbagai benturan yang terus menerus dilancarkan musuh-musuh Islam, baik dari Yahudi, Nashrani, Majusi maupun yang lainnya. Ia adalah akidah yang kekal hingga hari kiamat. Ia akan dijaga oleh Allah sepanjang generasi. Tak akan terjadi penyimpangan, penambahan, pengurangan atau penggantian. Betapa tidak, karena Allah-lah yang menjamin penjagaan dan kekalannya. Ia tidak menyerahkan penjagaan itu kepada seorangpun dari mahluk-Nya, Alah berfirman : "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan Kamilah yang akan menjaganya". [Al-Hijr : 9]

[10] Ia adalah sebab adanya pertolongan, kemenangan dan keteguhan. Hal itu karena ia adalah aqidah yang benar. Maka orang yang berpegang teguh kepadanya akan menang, berhasil dan ditolong. Hal itu sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang membela kebenaran, yang tidak akan membahayakan mereka orang yang merendahkan mereka sampai datangnya keputusan Allah, dan mereka dalam keadaan demikian". [Hadits Riwayat Muslim 3/1524]. Maka barangsiapa mengambil aqidah tersebut, niscaya Allah akan memuliakannya dan barangsiapa meninggalkannya, niscaya Allah akan menghinakannya. Hal itu telah diketahui oleh setiap orang yang membaca sejarah. Sehingga, ketika umat Islam menjauhi agamanya, terjadilah apa yang terjadi, sebagaimana yang menimpa Andalusia (Spanyol) dan yang lain.

[11] Ia mengangkat derajat para pengikutnya. Barangsiapa memegang teguh aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, semakin mendalami ilmu tentangnya, mengamalkan segala konsekwensinya, serta mendakwahkannya kepada manusia, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya, meluaskan kemasyhuranya serta keutamaannya akan tersebar, baik sebagai pribadi maupun jama'ah. Hal itu karena akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah akidah terbaik yang sesuai dengan segenap hati dan sebaik-baik yang diketahui akal. Ia menghasilkan berbagai pengetahuan yang bermanfaat dan akhlak yang tinggi.

[12] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah kapal keselamatan. Maka barangsiapa berpegang teguh dengannya, niscaya akan selamat. Sebaliknya barangsiapa meninggalkannya, niscaya tenggelam dan binasa.

[13] Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah aqidah kasih sayang dan persatuan. Karena, tidaklah umat Islam itu bersatu dalam kalimat yang sama di berbagai masa dan tempat kecuali karena mereka berpegang teguh dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Sebaliknya, mereka akan berpecah belah dan saling berselisih pendapat jika menjauh darinya.

[14] Aqidah Ahlus Suannah wal Jama'ah adalah aqidah istimewa. Para pengikutnya adalah orang-orang istimewa, jalan mereka lurus dan tujuan-tujuannya jelas.

[15] Ia menjaga para pengikutnya dari bertindak tanpa petunjuk, mengacau dan sikap sia-sia. Manhaj mereka satu, prinsip mereka jelas, tetap dan tidak berubah. Karena itu para pengikutnya selamat dari mengikuti hawa nafsu, selamat dari bertindak tanpa petunjuk dalam soal wala' wal bara' (setia dan berlepas diri dari orang lain), kecintaan dan kebencian kepada orang lain. Sebaliknya, ia memberikan ukuran yang jelas, sehingga tidak akan keliru selamanya. Dengan demikian ia akan selamat dari perpecahan, bercerai berai dan kesia-siaan. Ia akan tahu kepada siapa harus membenci, dan mengetahui pula hak serta kewajibannya.

[16] Ia akan memberikan ketenangan jiwa dan pikiran kepada pengikutnya. Jiwa tidak akan gelisah, tidak akan ada kekacauan dalam pikirannya. Sebab akidah ini menghubungkan antara orang mukmin dengan Tuhannya. Ia akan rela Allah sebagai Tuhan, Pencipta, Hakim dan Pembuat Syari'at. Maka hatinya akan merasa aman dengan takdir-Nya, dadanya akan lapang atas ketentuan-ketentuan hukum-Nya, dan pikirannya akan jernih dengan mengetahui-Nya.

[17] Tujuan dan amal pengikut aqidah ini mejadi selamat. Yakni selamat dari penyimpangan dalam beribadah. Ia tidak akan menyembah selain Allah dan akan mengharapkan kepada selain-Nya.

[18] Ia akan mempengaruhi prilaku, akhlak dan mua'malah. Aqidah ini memerintahkan pengikutnya melakukan setiap kebaikan dan mencegah mereka melakukan setiap kejahatan. Ia memerintahkan keadilan dan berlaku lurus serta mencegah mereka dari kezhaliman dan penyimpangan.

[19] Ia mendorong setiap pengikutnya bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam segala sesuatu.

[20] Ia membangkitkan jiwa mukmin agar mengagungkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebab ia mengetahui bahwa Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah haq, petunjuk dan rahmat, karena itu mereka mengagungkan dan berpegang teguh pada keduanya.

[21] Ia menjamin kehidupan yang mulia bagi pengikutnya. Di bawah naungan aqidah ini akan terwujud keamanan dan hidup mulia. Sebab ia tegak atas dasar iman kepada Allah dan kewajiban beribadah kepada-Nya, dan tidak kepada yang lain. Dan hal itu -dengan tidak diragukan lagi- menjadi sebab keamanan, kebaikan dan kebahagiaan dunia-akhirat. Keamanan adalah sesuatu yang mengiringi iman. Maka, barangsiapa kehilangan iman, ia akan kehilangan keamanan. Allah berfirman : "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". [Al-An'am : 82]. Jadi orang-orang yang bertakwa dan beriman adalah mereka yang memiliki kemanan yang sempurna dan petunjuk yang sempurna pula, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, orang-orang musyrik dan pelaku maksiat adalah orang-orang yang selalu ketakutan. Mereka senantiasa diancam dengan berbagai siksaan di setiap saat.

[22] Aqidah ini menghimpun semua kebutuhan ruh, hati dan jasmani.

[23] Mengakui akal, tetapi membatasi perannya. Ia adalah aqidah yang menghormati akal yang lurus dan tidak mengingkari perannya. Jadi, Islam justru tidak rela jika seorang muslim memadamkan cahaya akalnya, lalu hanya bertaklid buta dalam persoalan aqidah dan lainnya. Meskipun begitu, peran akal tetaplah terbatas.

[24] Mengakui perasaan manusia dan membimbingnya pada jalan yang benar. Perasaan adalah sesuatu yang alami pada diri manusia dan tak seorangpun manusia yang tidak memilikinya. Aqidah ini adalah aqidah yang dinamis, tidak kaku dan beku, ia mengaku adanya perasaan manusia serta menghormatinya, tetapi bukan berarti ia mengumbarnya. Sebaliknya ia meluruskan dan membimbingnya sehingga menjadi sarana perbaikan dan pembangunan, tidak sebagai alat perusak dan penghancur.

[25] Ia menjamin untuk memberi jalan keluar setiap persoalan, baik sosial, politik, ekonomi, pendidikan atau persoalan lainnya.

Dengan aqidah ini, Allah telah menyatukan hati umat Islam yang berpecah belah, hawa nafsu yang bercerai berai, mencukupkan setelah kemiskinan, mengajari ilmu setelah kebodohan, memberi penglihatan setelah buta, memberi makan dari kelaparan dan memberi mereka keamanan dari ketakutan.


[Tasharrufan (saduran) dari Mukhtasar Aqidah Ahlis Sunnah wal Jama'ah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Buletin AN NUR Thn. IV/No. 139/Jum'at I/R.Awal 1419H]

Aqidah Sahih

*Para ulama memberikan pujian yang baik terhadap Al Humaidi, karena beliau salah seorang Huffazh dan Muhaddits terkenal dan termasuk seorang yang jujur, zuhud dan shalih. Beberapa diantaranya :



Imam Ahmad bin Hambal rhm berkata : “Dalam pandangan kami Al Humaidi adalah seorang Imam”



Al Bukhari berkata : “Al Humaidi adalah Imam dalam ilmu hadits”



Ibnul Qayyim rhm berkata : “Beliau termasuk salah seorang guru besar Al Bukhari dan Imam ahli hadits dan fiqh pada zamannya. Beliau adalah orang yang pertama yang disebutkan Al Bukhari sebagai pembuka kitab shahihnya”



Telah mengatakan kepada kami Bisyir bin Musa, ia berkata : “Telah mengatakan mengatakan kepada kami Al Humaidi, ia berkata : As Sunnah (Aqidah yang lurus dan manhaj generasi sahabat, tabi’in dan pengikut tabi’in) menurut kami adalah :



1. Seseorang beriman kepada takdir (qadar/keputusan) baik dan takdir buruk, yang manis maupun yang pahit dan ia mengetahui bahwa semua yang telah ditetapkan bakal menimpanya, niscaya tidak akan terluput darinya dan semua yang telah ditetapkan tidak menimpanya niscaya tidak akan menimpanya. Semua itu merupakan qadha (ketentuan) yang telah ditentukan oleh Allah SWT.



2. Bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, tidak bermanfaat perkataan tanpa perbuatan, tidak bermanfaat perbuatan dan perkataan kecuali dengan niat, dan tidak bermanfaat perkataan, perbuatan dan niat kecuali dengan As Sunnah.



3. Mencintai semua sahabat Muhammad SAW, sebab Allah SWT berfirman yang artinya “Dan orang – orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa : ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara – saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami’” (QS. Al Hasyr : 10) …



4. Al Qur’an adalah Kalamullah…



5. Aku mendengar Sufyan (bin ‘Uyainah rhm) berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang”. Saudaranya Ibrahim bin ‘Uyainah berkata kepada beliau, “Wahai Abu Muhammad ! Janganlah katakan (iman itu) berkurang”. Sufyan bin ‘Uyainah marah seraya berkata, “Diam kamu wahai anak kecil ! Bahkan (iman akan berkurang) hingga tidak ada yang tertinggal sedikitpun”.



6. Mengimani adanya ru’yah (melihat wajah Allah SWT) setelah meninggal.



7. Dan apa yang disebut dalam Al Qur’an dan Al Hadits, seperti, “Orang – orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu’” (QS. Al Maa’idah 64). “Dan langit digulung dengan tangan kananNya” (QS Az Zumar 67). Dan ayat – ayat Al Qur’an dan Al Hadits yang sejenis dengan ayat di atas tidak boleh menambah – nambahinya dan juga tidak boleh menakwilkannya, kita memutuskan sesuai dengan apa yang telah diputuskan Al Qur’an dan As Sunnah.



8. Dan kami menegaskan, “Yang Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy” (QS Thaahaa 5). (tidak dimana – mana, tidak di dalam hati dlltambahan). Barangsiapa yang berpendapat selain itu berarti dia adalah seorang mu’aththil (kelompok yang meniadakan semua atau sebagian asma’ dan sifat Allah SWT) dan jahmi.



9. Dan kami tidak akan mengatakan seperti yang dikatakan oleh kaum Khawarij, “Barangsiapa yang melakukan dosa besar, maka ia telah kafir”.



10. Kami tidak mengkafirkan seseorang karena dosa. Seorang akan kafir karena meninggalkan rukun Islam yang lima yang telah disabdakan Rasulullah SAW, “Islam dibangun di atas 5 perkara; persaksian bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhandan melaksanakan haji ke Ka’bah” (HR. Bukhari & Muslim)…Dan pelaksanaan haji jika telah wajib atas seseorang (mempunyai bekal, kondisi jalan aman, sanggup untuk bersafar dan melaksanakan rukun haji) maka wajib hukumnya untuk dilaksanakan dan haji ini belum diwajibkan hingga terpenuhi hal – hal di atas (4 Rukun Islam), kapan saja ia laksanakan, maka hajinya tetap sah dan tidak berdosa jika ia menunda keberangkatannya…*”





Maraji’:

Aqidah Shahih, Al Hafizh Abu Bakar Al Humaidi, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Cetakan Pertama, Bogor, 2004, hal 47 s/d 90.



Semoga bermanfaat.

Budi Ari



Catatan : yang ana tulis ini adalah hanya ringkasannya saja, edisi lengkap bisa dibaca pada buku tersebut.



*Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang hukum meninggalkan shalat (kemudian dijawab) : “Adapun meninggalkan shalat, jika ia berkeyakinan tidak wajib, maka ia telah kafir berdasarkan nash dan ijma’ Ulama. Namun, jika ia masuk Islam dan tidak mengetahui tentang kewajiban shalat…maka yang seperti ini tidak dikatakan kafir” (Majmu’ Al Fatawaa XXII/40)

PETUNJUK AQIDAH YANG BENAR

MUQADIMAH

الحمد لله رب العالمين خلقنا لعبادته وأمرنا بتوحيده وهو غنيّ عنّا ونحن المحتاجون أرسل رسوله إلى التوحيد وإخلاص الدين
أشهد أن لآ إله إلاّ الله وحده لا شريك له ولو كره المشركون وأشهد أنّ محمّدا عبده ورسوله إلى النّاس أجمعين صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه الذين هاجروا وصبروا آووا ونصروا وسلّم تسليما كثيرا إلى يوم الدين

Aqidah yang benar adalah dasar diterimanya amal, orang-orang yang melakukan amal sholeh sekalipun banyak dan bermacam-macam apabila aqidah mereka tidak benar atau ternoda dengan syirik akbar, maka amal sholeh mereka tidak diterima disisi Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat al-An’am ayat 88 :
ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِى بِهِ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {88}
“Itulah petunjuk Allah yang mana Allah memberi petunjuk kepada yang Ia kehendaki dari hamba-Nya dan apabila mereka menyekutukan Allah pastilah hancur amal-amal mereka.”

Ketika generasi umat Islam jauh dari generasi awal yaitu para sahabat Rasulullah SAW, dan Islam berkembang merambah negeri – negeri ajam yang tidak mengerti bahasa Al Qur an dan Islam bersinggungan dengan budaya yang berlawanan dengan aqidah shohihah maka di sanalah aqidah umat Islam ternoda oleh bid’ah , khurofat dan syirik. Anehnya mereka merasa benar dan yakin bahwa aqidah yang bercorak noda itulah yang akan mengantarkan mereka ke surga. Apabila mereka diajak untuk kembali kepada aqidah salaf, aqiahnya para sahabat Rasulullah SAW yang kemudian terkenal dengan Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, mereka menolak serta menuduh bahwa ini adalah ajaran sesat.

Keadaan seperti ini telah diprediksi Rasulullah SAW dengan sabdanya yang diriwayatkan Imam Baihaqi dari Ali bin Abi Tholib :

قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : يوشك أن يأتي على الناس زمن لا يبقى من الإسلام إلاّ اسمه ولا يبقى من القرآن إلاّ رسمه مساجدهم عامرة وهي خراب من الهدى علمآئهم شرّ من أديم السمأء من عندهم يخرج الفتن ( رواه البيهقي عن علي ابن أبي طالب )

Artinya : Akan datang pada manusia suatu masa dimana sebagian Islam tinggal nama dan sebagian Al Qur an tinggal tulisan. Masjid-masjid mereka makmur tetapi hancur dari petunjuk. Ulama mereka buruk dari bawah kolong langit. Dan dari mereka keluar fitnah.

Oleh karena itu saya bermaksud ikut am bil bagian mengajak umat Islam kembali kepada aqidah salaf, aqidahnya para sahabat Rasulullah SAW. Karena hanya para sahabat dan orang – orang yang mengikutinya itulah yang dijanjikan masuk surga. Sebagaimana firman Allah dalam surut At Taubah ayat 100.
والسّابقون الأوّلون من المهاجرين والأنصار والذين اتّبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعدّ لهم جنّت تجري تحتها الأنهار خلدين فيها ابدا ذلك الفوز العظيم (100)

Artinya : Orang – orang terdahulu lagi pertama – tama di antara orang – orang Muhajirin dan Anshor dan orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridlo kepada mereka dan merekapun ridlo kepada Allah, dan Allah menyediakan kepada mereka surga – surga yang mengalir sungai – sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama – lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

Untuk memenuhi maksud ini saya tulis buku dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami yang saya beri judul ”Petunjuk Aqidah yang Benar”. Tulisan ini saya ambil dari kitab al Irsyad fii Tashhiihil I’tiqod susunan Syeikh Sholeh Fauzan , Aqiidatul Mu’min susunan Syeikh Abu Bakar al Jazaairi , Kalimatul Arba’ fil Qur an susunan Syeikh Abul A’la al Maududi serta kitab – kitab yang lain.

Oleh karena itu mengkaji dan memahami aqidah yang benar adalah merupakan urutan yang sangat penting dalam kewajiban yang tidak boleh ditunda. Dalam dakwahnya Rosulullah -sholallahu 'alaihi wa sallam- sangat mementingkan aqidah, lebih dari 13 tahun Rosulullah tinggal di Mekkah mengajak kepada tauhid dan membersihkan aqidah dari noda-noda syirik dan khurofat. Demikian pula ketika beliau hijrah ke Madinah tetap memerintahkan beribadah kepada Allah saja dan tidak boleh dinodai dengan kesyirikan, lebih dari 80% ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan tentang aqidah yang benar dengan berbagai macam cara dan dari berbagai sudut pandang, dengan kalimat yang jelas dan tegas.

Pada akhir-akhir ini dinegara-negara yang penduduknya mayoritas Islam bahkan banyak Negara-negara itu yang 100% penduduknya muslim, organisasi-organisasi Islam telah berusaha mempersatukan ummat Islam untuk satu tujuan yaitu ‘Izzul Islam wal muslimin.Para da’i telah disebar ke seluruh pelosok negeri untuk menyadarkan ummat Islam agar bersatu untuk mencapai tujuan tersebut, berpuluh-puluh ayat al-Qur’an dan hadist mereka kupas, betapa pentingnya persatuan ummat untuk mencapai tujuan tersebut, tapi sayang para da’i itu tidak mementingkan aqidah, bahkan mereka melemparkan slogan :”Biarkan manusia pada aqidahnya masing-masing, jangan dipertentangkan perbedaan ini, tapi bersatulah mengusung kesepakatan kita bersama yaitu Izzul Islam wal muslimin.”
Sudah lebih 100 tahun mereka berjuang untuk menjunjung tinggi agama Islam dan memposisikan ummat Islam dalam kehidupan. Namun cita-cita mereka itu belum kunjung tiba, bahkan ummat Islam yang mayoritas itu semakin terpinggirkan, tersingkir dan dikuasai oleh golongan nasionalis sekuler yang korup dan menindas.
Pada sekitar tahun 1744 M, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama dari madzhab Hanabilah yang luas ilmunya dan dalam pemahamannya berdakwah mengajak ummat Islam kembali berpegang pada Aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah, aqidahnya para Sahabat dan Salafus sholeh. Beliau menanamkan aqidah Islam ini kepada murid-muridnya dan memberi semangat agar mereka berdakwah mengajak ummat berpegang kepada aqidah Islam ini, karena hanya dengan aqidah Islam inilah bangsa Arab akan kembali jaya seperti pada masa Rosulullah dan para sahabatnya.
Beliau berdiskusi dengan para ulama tentang kehancuran bangsa Arab yang diakibatkan saling membunuh, merampok dan berperang dikarenakan aqidah mereka menyimpang. Taqlid kepada syeikh-syeikh tasawwuf dan berbudaya syirik, bid’ah dan khurofat.
Seorang amir di Riyadh yang menguasai negeri Nejed yaitu Muhammad bin Saud bersimpati dan mendukungnya, dengan dukungan beliau ini maka para da’i dikirim kemasjid-masjid diseluruh negeri, mengajak ummat berpegang kepada aqidah Ahlussunnah ini dan meninggalkan syirik, bid’ah dan khurofat. Dengan gencarnya dakwah ini maka pengikut aqidah Ahlussunnah ini semakin meluas dan berujung pada penghancuran kuburan para wali yang dikeramatkan. Peristiwa ini membangkitkan kebencian syeikh-syeikh tasawwuf dan ulama pendukungnya yang kemudian menyebarkan dusta dan fitnah yang menggambarkan bahwa inilah madzhab Wahabi yang sesat dan akan merusak Islam. Berita bohong, dusta dan fitnah ini disebarkan keseluruh negeri Islam, sehingga membangkitkan kemarahan sultan Turki. Beliau memerintahkan Muhammad Ali, raja muda di Mesir untuk menggulingkan Ibnu Saud. Dengan pasukan yang besar, Muhammad Ali berangkat menuju Riyadh untuk menghancur leburkan kota itu.
Dibawah ancaman dan terror syeikh-syeikh tasawwuf dan pendukung fanatiknya, syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab serta murid-muridnya tetap bersemangat dakwah menyadarkan bangsanya tentang pentingnya aqidah Islam, aqidah salafus sholeh, aqidah yang akan mengantarkan kejayaan bangsa Arab dan menyelamatkannya dari kesengsaraan hidup di dunia dan akherat. Tanpa aqidah Islam ini bangsa Arab pastilah bercerai berai saling membunuh dan menjarah, dan akibatnya adalah kesengsaraan hidup di dunia dan akherat.
Pada tahun 1904 M, salah seorang cucu Muhammad bin Saud yaitu Abdul Aziz bin Abdul Rahman kembali berkuasa di Nejed. Kota Riyadh yang pernah dihancurkan oleh Muhammad Ali dari Mesir telah dibangun kembali sejak tahun 1902 M. dengan keberhasilan Abdul Aziz ‘Al Saud menguasai seluruh Nejed ini, maka dakwah aqidah ahlussunnah wal jama’ah digencarkan lagi. Para da’i dikirim keseluruh pelosok negeri, bahkan merambah keluar Nejed sampai pada kabilah-kabilah yang jauh dari Nejed.
Tahun berganti tahun, dakwah dan jihad terus berjalan tanpa henti dari satu kabilah ke kabilah yang lain dan dari satu negeri ke negeri yang lain. Dan pada tahun 1926 M, raja Abdul Aziz berhasil mempersatukan seluruh kabilah di semenanjung Arab ke dalam satu negara Kerajaan Saudi Arabia yang memberlakukan syariat Islam berdasarkan aqidah ahlussunnah wal jama’ah.
Dengan tekad yang kuat disertai kesabaran yang tulus, raja Abdul Aziz membangun perekonomian rakyatnya. Kaum badui yang hidup berkelana tidur dibawah tenda-tenda dibangunkan rumah-rumah di sekitar padang rumput yang subur. Kelebihan rumput di musim hujan diperintahkan untuk dikeringkan dan kemudian disimpan di gudang-gudang untuk pakan ternak di musim kering. Tanah pertanian digarap dengan teratur di bawah pengawasan para ahli. Mata air yang mengalir masuk dalam pasir disalurkan melalui pipa-pipa sampai ke kebun-kebun kurma, anggur dan sayuran.terutama ladang-ladang gandum yang menjadi makanan pokok rakyatnya yang kemudian menjadi negara swa sembada pangan bahkan mengekspornya.

Di kota-kota, desa-desa bahkan di kampung-kampung badui dibangun sekolah-sekolah lengkap dengan peralatannya. Di dalamnya diajarkan syariat Islam dan aqidah ahlussunnah sebagia mata pelajaran pokok. Guru-guru dibiayai negara, sedangkan murid-murid tidak dipungut biaya. Dikota-kota dibangun banyak rumah sakit yang memadai untuk rakyatnya dilengkapi dengan peralatan yang cukup, sedangkan rakyatnya yang berobat tidak dipungut biaya sedikitpun.
Kerajaan Saudi Arabia adalah negara yang adil, makmur dan merata bagi seluruh rakyatnya. Negara yang diridhoi Allah. Rakyatnya mendapatkan ampunan dan anugerah dari Allah, dan mendapatkan rejeki yang tidak disangka-sangka, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah surat Saba’ ayat 15 :
…..بَلْدَةٌ طَـيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُوْرٌ {15}
“…...Negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampunan.”
Pada musim haji tahun 1427 H yang bertepatan dengan bulan Desember 2006 M, penulis sempat mengunjungi salah satu sekolah negeri di kota Mekkah. Sekolah yang dari luar tertutup tetapi dari dalam terlihat luas, terdapat lapangan voli, basket dan olah raga yang lain. Buku-buku pelajaran disediakan kerajaan, sedangkan siswa dari tingkat dasar sampai tingkat menengah tidak dipungut biaya, bahkan mahasiswa strata satu diberi uang saku 800 riyal yang setara dengan Rp. 2.000.000.- setiap bulannya.

Salah seorang anggota jemaah penulis menderita stroke berat dan opname di rumah sakit selama 5 hari, tanpa dipungut bayaran,bahkan yang menunggu diberi makan. Memang semua rumah sakit Kerajaan Saudi Arabia gratis.

Yang mengherankan, Kerajaan Saudi Arabia tidak memunggut pajak dari rakyatnya. Tidak ada pajak kendaraan, tidak ada pajak bumi dan bangunan, tidak ada retribusi di pasar-pasar dan tidak ada tukang parkir di jalan-jalan. Inilah negeri yang mendapat barokah dari Allah -subhanuahu wa ta'ala-. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-A’raaf ayat 96 :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ…….. {96}
“Dan jikalau penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, maka Kami akan membukakan untuknya pintu-pintu barokah dari langit dan bumi…….”

Kepada Allah saya memohon pertolongan dan petunjuk. Mudah – mudahan tulisan ini bermanfaat bagi saya dan para pembaca dalam mengarungi kehidupan di dunia ini melalui jalan yang diridloi-Nya sebagaimana para sahabat Rasulullah SAW .

Amin Yaa… Rabbal Alamin.


































AQIDAH ISLAM

Aqidah Islam adalah aqidah yang dibawa oleh utusan-utusan Allah dan dijelaskan dalam kitab-kitab yang Allah turunkan dan diwajibkan kepada semua manusia dan jin. Sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzaariyat ayat 56 :

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ {56}
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
Dan Allah juga berfirman dalam surat al-Israa’ ayat 23 :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ……... {23}
“Dan Tuhanmu telah menetapkan supaya kamu tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya…….”
Dan dalam surat an-Nahl ayat 36 :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ {36}
“Dan telah Kami utuskan kepada setiap ummat seorang utusan untuk (menyerukan) agar mereka hanya beribadah kepada Allah dan (supaya) mereka menjauhi thooghuut.”
Semua nabi datang kepada ummatnya untuk mengajak berpegang pada aqidah ini dan semua kitab-kitab yang Allah turunkan menjelaskan tentang aqidah Islam ini dan menerangkan apa saja yang membatalkannya. Dikarenakan sangat pentingnya aqidah ini, maka setiap orang wajib mengetahuinya sebelum mengetahui yang lain. Apalagi keberuntungan manusia di dunia dan akherat tergantung pada aqidah Islam ini. Barang siapa yang benar dan selamat aqidahnya maka ia akan mendapatkan kenikmatan di surga. Dan siapa saja yang rusak aqidahnya atau ternodai dengan syirik besar pastilah ia mendapatkan kesengsaraan di neraka.
Pengertian aqidah adalah apa yang diyakini kebenarannya, dipegang dan diamalkan oleh pelakunya. Maka apabila aqidah ini sesuai dengan ajakan para rosul dan sejalan dengan penjelasan Allah dalam kitab-kitabnya. Itulah aqidah yang benar dan selamat, yang berbuah keselamatan dari siksa dan keberuntungan di dunia dan akherat. Sebaliknya aqidah yang menyelisihi ajaran para rosul dan menyimpang dari petunjuk Allah itulah aqidah yang sesat yang akan menjerumuskan pelakunya ke dalam siksa neraka.
Aqidah yang benar dan selamat akan menyelamatkan dari siksa di akherat, sebagaimana sabda Rosulullah -sholallahu 'alaihi wa sallam- yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Jabir :
" من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار "
”Barang siapa bertemu dengan Allah (dan ia) tidak meyekutukan-Nya dengan sesuatu maka ia masuk surga. Dan barang siapa yang menemui-Nya sedangkan ia menyekutukan-Nya dengan sesuatu maka ia masuk neraka.”


Dan dalam hadist riwayat Bukhori dan Muslim :

" فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله "

”sesungguhnya Allah mengharamkan untuk neraka orang-orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan hanya mengharap wajah Allah.”
Inilah pentingnya kalimat syahadah yang akan menyelamatkan orang yang mengucapkannya dari siksa neraka. Namun sayang, mayoritas ummat Islam didunia ini tidak memahami makna syahadah, tidak tahu akan apa yang membatalkannya. Sehingga amal perbuatan mereka dalam hidup ini bertentangan dengan kandungan syahadah, dan merekapun tidak merasa.
Aqidah yang benar dan selamat akan menghapus dosa-dosa sekalipun dosa tersebut bagaikan gunung. Dalam hadist kudsi yang diriwayatkan imam Tirmidzi dari Anas :
”Allah -subhanuahu wa ta'ala- berfirman: wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian kau menemui-Ku tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, maka Aku akan mendatangkan untukmu ampunan sebesar itu pula.”
Adapun syarat mendapatkan ampunan sebanyak itu adalah aqidah yang bersih dari noda syirik. Orang-orang yang aqidahnya bersih dari noda syirik, mereka itulah orang-orang yang hatinya bersih, sebagaimana firman Allah dalam surat asy-Syu’araa’ ayat 88-89 :
يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ {88} إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ {89}
”Pada hari tidak ada gunanya harta dan anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
Sebalikya, aqidah yang rusak yang ternoda dengan syirik besar akan menghancurkan semua amal sholeh, sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 65 :

وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ {65}
“Dan telah kami wahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu apabila kamu mempersekutukan Allah maka akan hancur amal kamu dan kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
Aqidah yang rusak yang ternoda dengan syirik akbar akan terhalang untuk masuk surga dan menyebabkannya masuk neraka, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 72 :

……إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَالِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ {72}
“…….Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga dan tempatnya adalah neraka dan tidaklah ada penolong bagi orang-orang yang dholim.”

Dan perlu diketahui bahwa aqidah yang benar akan membuahkan hati yang bersih, hubungan masyarakat yang baik dan kemakmuran yang merata. Pada waktu Rosulullah sedang membangun tatanan masyarakat Islam, di Madinah terdapat dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari orang-orang yang beraqidah benar dan selamat, mereka mendirikan masjid dengan dasar taqwa dan ikhlas atas perintah Allah dan Rosul-Nya. Itulah masjid Kuba’ yang pahala sholat di masjid tersebut setara dengan pahala umrah.
Kelompok ke dua adalah orang-orang yang beraqidah rusak. Mereka terdiri dari orang-orang yang mengkritisi kebijakan Nabi -sholallahu 'alaihi wa sallam- dan terkadang tidak menyetujui kebijakan beliau dalam urusan sosial dan politik. Mereka mendirikan masjid untuk mengumpulkan orang-orang yang sepaham dengan mereka untuk berbincang-bincang dan berdiskusi tentang kebijakan Nabi yang mereka anggap tidak adil. Mereka berpendapat bahwa orang-orang Anshorlah yang berjasa membantu Rosulullah membangun masyarakat yang islami, tapi Rosulullah mengangkat orang-orang dari kalangan Muhajirin menjadi orang-orang kepercayaannya dan pembantu-pembantu dekatnya. Untuk meredam penyakit nifaq ini, Rosulullah memerintahkan merobohkan masjid ini yang dikenal dengan masjid Dhiror. Peristiwa ini tertulis dalam surat at-Taubah ayat 107.


KEWAJIBAN MEMAHAMI AQIDAH ISLAM

Bagi setiap orang Islam wajib mempelajari aqidah Islam supaya memahami maknanya dan apa saja yang terkandung di dalamnya, serta memahami apa saja yang membatalkannya atau menguranginya, baik berupa syirik besar atau syirik kecil. Firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19 :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ…….{19}
“Ketahuilah sungguh tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mintalah ampunan (kepada-Nya) dari dosamu…….”

Imam Bukhori menggunakan ayat ini untuk dalil bahwa ilmu itu harus didahulukan sebelum ucapan dan amal.Al-Hafidz Ibnu Hajar menceritakan bahwa Ibnu Munir berkata : “maksud ayat ini adalah bahwa ilmu menjadi syarat sahnya ucapan dan amal, keduanya tidak ada artinya kecuali didahului dengan ilmu.”
Dari sinilah maka para ahli ilmu sangat mementingkan mempelajari aqidah dan mengajarkannya, mereka berpendapat bahwa aqidah wajib dipelajari sebelum mempelajari yang lain. Mereka menyusun kitab-kitab khusus aqidah yang memuat apa saja yang wajib diyakini oleh setiap orang islam dan menjelaskan apa yang membatalkannya dan menguranginya semisal syirik, bid’ah dan khurofat.

Di sana dibahas makna laa ilaha illallah yang mana bukan sekedar diucapkan dengan lisan , tapi penjelasan tantang makna, apa yang ditunjukkan oleh kalimat itu dan bagaimana mengamalkannya. Oleh karena itu ulama sepakat bahwa aqidah adalah ilmu pertama yang wajib dipelajari. Di Negara-negara yang mayoritas penduduknya islam, pendidikan yang diselenggarakan Negara wajib mengajarkan aqidah Islam ,mulai dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi. Dan Negara yang umat islamnya minoritas, mereka wajib mendirikan madrasah-madrasah yang mengutamakan pelajaran aqidah. Apabila pelajaran aqidah tidak dipentingkan hanya ditetapkan sebagai mata pelajaran pelengkap atau hanya sebagai ilmu untuk mendapatkan nilai di dalam rapot bukan tertanam di dalam hati anak-anak muslim, maka bangsa itu akan tumbuh menjadi bangsa jahiliyah yang mensyiarkan budaya syirik, bid’ah dan khurofat yang mereka yakini sebagai syariat Islam. INNALILLAH WA INNA ILAIHI RAAJI’UN.

Mengkhawatirkan yang demikian ini, Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA pernah berkata : “Hampir terurai untaian Islam selembar-selembar yaitu apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengerti jahiliyyah.”
( diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Asmah ).

Untuk menghindari keadaan seperti ini, maka siswa-siswi muslim wajib diberi pelajaran aqidah yang benar dan selamat, aqidah yang dipegang oleh para sahabat ,Salafush Shalih yang terkenal dengan aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Mereka harus dijauhkan dari kitab-kitab yang menyimpang seperti kitab-kitab Mu’tazilah, Asy’ariyah dan kelompok-kelompok menyimpang yang lain .

Pada abad kedua hijriyah, tumbuh pemikir-pemikir rasional, mereka menyusun aqidah yang berdasarkan akal. Ayat-ayat al-Qur’an dan hadist-hadist yang shohih yang bertentangan dengan akal mereka , maka ditolaknya. Dan yang mungkin dita’wil mereka ta’wili.. Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan golongan Mu’tazilah. Seorang tokoh mereka yang bernama Abu Ali al-Jabai mempunyai murid yang cerdas bernama Abu Hasan al-Asy’ari. Beliau mengarang kitab aqidah dengan cara berfikir Mu’tazilah tapi tetap berdasarkan al-Qur’an . Kitab ini sangat menarik karena dipenuhi dalil-dalil akal, dan yang dibahas hanyalah Sifat-sifat dan Nama-nama Allah, sedangkan yang penting dalam masalah aqidah yaitu tauhid rububiyah dan ‘uluhiyah yang menjadi inti dakwahnya para Rasul diabaikan.. Oleh karena disajikan sangat menarik maka kitab ini digandrungi para ulama pada masa itu dan diajarkan pada murid-muridnya maka jadi tersebar ke dunia Islam, yang kemudian terkenal dengan Madzhab Asy ‘ariyah.
Dengan tersebarnya aqidah Asy’ariyah ini, maka aqidah yang benar yaitu aqidah para sahabat dan salafush sholih , aqidah ahlu sunnah wal jamaah, menjadi terpinggir dan hanya dipegang oleh ulama dari madzhab Hanabilah. Umumnya para ulama tidak mau tahu bahwa pada akhir hayatnya Abu Hasan al-Asy’ari kembali kepada aqidah ahlussunnah wal jama’ah dengan menyusun kitab berjudul al-Ibaanah fi Umuurid Diniyyah.

Disamping diajarkan di sekolah-sekolah, aqidah ahlussunnah wal jama’ah juga wajib dikaji di masjid-masjid, mushola-mushola dan di tempat-tempat pengajian yang lain. Disana dibaca kitab aqidah mulai dari yang ringkas sampai yang luas bahasannya. Dengan demikian,maka tersebarlah aqidah Islam ini, dan ummat Islam akan beraqidah islamiyah, berakhlaq islami, dan beradab islam. Dan pastilah negeri mereka, negeri yang diridhoi Allah yaitu negeri yang makmur, adil dan merata bagi seluruh rakyatnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-A’raaf ayat 96 :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ…….. {96}
“Dan jikalau penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, maka Kami akan membukakan untuknya pintu-pintu barokah dari langit dan bumi…….”


DAKWAH KEPADA AQIDAH ISLAMIYAH

Setelah mendapatkan anugerah dari Allah untuk memahami aqidah Islam ini, setiap muslim wajib mengajak orang-orang untuk berpegang kepada aqidah Islam ini agar mereka dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya hidayat Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 257 :

اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {257}
“Allah adalah Pemimpin orang-orang beriman yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya yang terang benerang, dan orang-orang yang kafir, pemimpin mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan, mereka itulah penghuni neraka yang kekal di dalamnya.”
Mengajak berpegang pada aqidah Islam adalah dakwah pertama yang dilakukan oleh para rosul, mereka tidak mengajak ibadah apapun sebelum ummatnya mau beraqidah Islam ini. Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 36 :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ {36}
“Dan telah Kami utuskan kepada setiap ummat seorang utusan untuk (menyerukan) agar mereka hanya beribadah kepada Allah dan (supaya) mereka menjauhi thooghuut.”
Jadi ibadah kepada Allah tidak bisa dicampur dengan beribadah kepada thoghut. Sedangkan makna thoghut adalah apa saja yang di ibadahi selain Allah, misalnya berhala, kuburan orang-orang sholeh pohon dan apa saja yang dikeramatkan, penguasa dan ulama yang memberlakukan hukum yang melawan syariat Allah dan lain sebagainya..

Semua utusan mengajak ummatnya untuk beribadah kepada Allah saja dan harus meninggalkan ibadah kepada selain Allah, sebagaimana perkataan nabi Hud kepada kaumnya yang Allah abadikan dalam surat Huud ayat 50 :
…….اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ…….{50}
“……beribadahlah kamu kepada Allah yang tiada sesembahan selainnya…….”
Maka setiap muslim yang sudah mengerti aqidah Islam tidak boleh hanya untuk diri sendiri dan merasa aman karena dirinya sudah beraqidah shohihah. Tetapi ia wajib mengajak orang lainnya untuk beraqidah Islam ini dengan uraian yang menyejukkan jiwa dan nasehat yang baik.
Sesungguhnya dakwah kepada aqidah Islam ini adalah dasar yang harus diutamakan dan didahulukan. Tidak benar mengajak manusia untuk melakukan kewajiban syariat seperti sholat, puasa dan haji atau untuk meninggalkan larangan sebelum mereka memahami aqidah Islam ini dan mengamalkannya. Sebab aqidah Islam inilah yang menjadi dasar diterimanya amal di sisi Allah, dan tanpa aqidah Islam ini amal-amal sholeh tidak akan diterima dan tidak akan mendapat pahala, sebagaimana firman Allah dalam surat al-An’aam ayat 88 :

ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِى بِهِ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {88}
”Itulah petunjuk Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan jikalau mereka menyekutukan (Allah) sungguh akan hancur amalan-amalan yang mereka kerjakan.”

Dan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari sahabat Ibnu Abbas -rodhiallahu 'anhu-: diceritakan bahwa ketika Rosulullah mengutus Muadz bin Jabal -rodhiallahu 'anhu- ke Yaman menjadi gubernur Yaman beliau berpesan :”Hai Muadz, engkau akan berjumpa dengan orang-orang ahli kitab ( yahudi dan nasrani ), maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Apabila mereka mengikutimu, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sholat lima waktu sehari semalam. Dan apabila mereka mentaatimu, maka beritahukanlah bahwa Allah telah wajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan kepada fakir miskin diantara mereka….”

Di dalam hadist inilah tampak jelas yang pertama kali didakwahkan kepada manusia adalah syahadah laa ilaha illallah. Kata Syahadah yang diterjemahkan bersaksi adalah benar-benar mengetahui, seperti tampak di depan mata. Orang yang menjadi saksi suatu perkara harus tahu dengan mata kepala. Jadi orang yang mengucapkan kalimat syahadah harus paham maknanya, mengetahui kandungannya dan apa saja yang membatalkan dan kemudian mengamalkannya dengan beribadah kepada Allah saja serta meninggalkan ibadah kepada selain Allah.

Tiga belas tahun Rasulullah SAW tinggal di Mekah mengajak manusia untuk membetulkan aqidahnya yaitu beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan ibadah pada berhala, sebelum memerintahkan sholat, zakat dan puasa dan meninggalkan larangan seperti zina, minuman keras, judi dan riba. Ini menunjukkan dengan jelas kesalahan jamaah-jamaah yang berdakwah mengajak manusia memperbaiki akhlak, perilaku dan mengamalkan syariat, tetapi mereka mengabaikan aqidah. Akibatnya banyak sekali orang Islam yang biasa melakukan syirik Akbar di sekelilingi kubur-kubur para wali dan kubur-kubur yang dikeramatkan di Negara-negara Islam. Ironisnya perbuatan yang merusak aqidah Islam ini tidak diingkari dan tidak dilarang baik dalam pengajian-pengajian, diskusi-diskusi dan tulisan kecuali sedikit. Penyembah kubur dan tasawuf yang menyimpang itu lebih membahayakan Islam dari pada orang-orang kafir yang terang-terangan, karena mereka mengaku Islam dan mengira apa yang mereka lakukan adalah syariat Islam bahkan merasa lebih taqwa padahal mereka tertipu dan menipu orang banyak.
Maka wajiblah bagi para da’i menjadikan aqidah Islam ini sebagai pusat materi dakwah. Oleh karena itu wajib dipelajari, dipahami lebih dahulu barulah mengajarkan kepada orang lain dan mengajak orang-orang yang menyimpang untuk kembali berpegang pada Aqidah Islam ini. Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 108 :
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {108}
Katakanlah:"Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. 12:108)

Imam Ibnu Jarir menjelaskan maksud ayat ini dalam tafsirnya :
Makna هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ ialah : jalan yang aku tempuh ini adalah mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, ikhlas beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan ibadah kepada selain Allah.
عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي Aku dan pengikutku benar-benar mengetahui tauhid ini terang benderang di hadapan mata.
وَسُبْحَانَ اللهِ Allah Maha Agung maka suci dari sekutu-sekutu baik dalam kekuasaaannya, peribadatan dan aturan-aturanNya.
وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ Aku berlepas diri dari orang-orang musyrik , tidak akan mengikuti upacara mereka , aturan-aturan mereka dan kebiasaan buruk mereka.

Ayat ini menunjukkan pentingnya memahami Aqidah Islam kemudian dakwah mengajak manusia untuk memahami dan mengamalkannya. Pengikut Rasulullah SAW ialah orang-orang yang paham Aqidah Islam mengamalkannya dan dakwah mengajak umat untuk memahaminya.sedangkan orang-orang yang tidak mengerti Aqidah Islam ini, atau tidak mementingkannya mereka bukanlah pengikut Rasulullah SAW yang sebebanrnya.Sekalipun mereka merasa mencintai Rasulullah SAW dan merasa paling taqwa.Sebab tidak akan diterima Allah amal-amal mereka tanpa didasari Aqidah Islam ini.Aqidahnya para sahabat, salafus sholeh yang kemudian terkenal dengan aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah.


















POKOK-POKOK AQIDAH ISLAM

Adapun pokok-pokok Aqidah Islam adalah iman kepada Allah, Iman pada malaikat-Nya, iman pada kitab-kitab-Nya, iman pada Rasul-rasul-Nya, iman pada hari akhir dan iman pada taqdir.
Pokok-pokok aqidah islam ini berdasarkan Al-quran, As sunah dan Ijma’ umat islam. Di dalam Al-Quran antara lain firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat : 177
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ باِللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَالْمَلَئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّنَ

Artinya : “Tidak suatu kebaikan menghadap ketimur dan kebarat, tetapi kebaikan ialah orang yang iman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab dan para nabi.”

Didalam surat Al Qomar ayat : 49
إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ {49}
Artinya : “Sesungguhnya segala sesuatu kami ciptakan dengan ketentuan-ketentuan (taqdir).”
Di dalam hadis shohih Imam Muslim, Rasulullah SAW menjawab pertanyaan malaikat Jibril beliau bersabda :
“Iman ialah iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, utusan-utusanNya, hari akhir dan iman pada taqdir baik ataupun buruk.”
Pokok-pokok Aqidah Islam ini terkenal dengan rukun iman. Oleh karena itu barang siapa yang mengingkari salah satu dari padanya atau sebagiannya, mereka keluar dari daerah iman dan menjadi kafir. Orang-orang yang beragama yahudi menjadi kafir karena mereka mengingkari nabi Isa dan Muhammad SAW, sedang orang-orang Nashoro menjadi kafir karena mereka mengingkari nabi Muhammad SAW. Allah berfirman dalam surat Al Bayyinah ayat : 6
إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خَلِدِيْنَ فِيْهَآ أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ {6}
Artinya : “Orang-orang kafir dari ahli kitab ( Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik di neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya, mereka itulah seburuk-buruknya mahkluk.”

Ayat 177 surat Al Baqarah diatas menunjukkan bahwa amal kebaikan apapun bentuknya, baik amal peribadatan atau sosial, tidak akan diterima di sisi Allah bagi orang-orang yang imannya tidak sempurna sesuai rukun iman tersebut.

Rukun iman yang sangat penting ini butuh penjelasan dan uraian, agar para pembaca memahami aqidah islam ini, insya Allah akan kami jelaskan pada bab-bab berikutnya. Mudah-mudahan dengan memahami aqidah islam ini para pembaca diselamatkan Allah dari kepercayaan syirik akbar dan dijauhkan dari melakukannya. Tidak seperti kebiasaan-kebiasaan orang-orang awam yang mana apabila mempunyai hajat, misalnya membangun rumah atau memanen kebun, mereka meminta keselamatan dan kesuksesan kepada para wali yang telah meninggal. Mereka adakan upacara do’a bersama dengan membaca manaqib yang antara lain do’anya sebagai berikut :





“Wahai ruh yang disucikan, hai wali terakhir, hai wali qutub, hai wali pengendali bumi, hai wali abdal, hai wali yang mengawasi, hai wali yang dipilih, hai wali yang meneliti tingkah laku, hendaklah kamu semua menolong kami agar berhasil harapan kami, dan memudahkan tujuan kami dan mengokohkannya, dan mengamankan kekhawatiran kami dan menutupi cela kami dan membantu membayar hutang kami.”

IMAN KEPADA ALLAH.

Iman pada Allah adalah dasar aqidah yang paling utama. Adapun makna iman pada Allah adalah keyakinan yang terikat erat dalam hati bahwa Allah adalah penguasa segala sesuatu pemiliknya, dan hanya Allah pencipta segala sesuatu dan pemeliharanya. Dan hanya Allah yang berhak diibadahi, tidak ada sekutu bagiNya dan beribadah kepada selain Allah adalah sesat. Allah berfirman dalam surat Al Hajj ayat : 62
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ {62}
Artinya : “Yang demikian itu karena sesungguhnya hanya Allah saja Tuhan yang Hak, dan apa saja yang mereka itu berdo’a kepadanya selain Allah adalah batil, dan sesungguhnya Dia Allah yang Maha Tinggi dan Maha Besar.”

Dan sesungguhnya Allah memiliki sifat-sifat sempurna dan agung, serta suci dari sifat-sifat kurang dan cacat. Inilah tiga macam tauhid, yaitu : Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma’ dan Sifat.


















TAUHID RUBUBIYAH.

Adapun tauhid rububiyah adalah ikrar (pengakuan) bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang menciptakan alam, yang memelihara dan mengatur, yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi rizki dan memiliki kekuatan tak terbatas.

Ikrar semacam ini adalah fitrah manusia yang selalu melekat dalam hati tiap-tiap orang. Oleh karena itu ketika orang-orang musyrik ditanya : “ Siapa yang menciptakan manusia ini? Pastilah mereka menjawab : Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Zukruf ayat : 87
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ {87}
Artinya : “Dan apabila mereka (orang musyrik) ditanya : siapa yang menciptakan langit dan bumi ? pastilah mereka menjawab : yang menciptakannya adalah Allah Yang Maha Agung dan Maha Mengetahui.”

Sebagaimana firman Allah dalam surat Zukhruf ayat : 9
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ {9}
Ayat-ayat semacam ini banyak sekali didalam Al Quran, yang menceritakan bahwa orang-orang musyrik itu mengetahui rububiyah Allah, mengetahui bahwa Allah yang menciptakan, memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan.


Sudah menjadi fitrah manusia yang melekat dalam hati tiap-tiap orang, bahkan menjadi keyakinan bahwa dibalik kekuatan-kekuatan natural ini ada kekuatan-kekuatan supra natural, dibalik kekuatan lahiriyah ini ada kekuatan ghaib. Dan mayoritas manusia menyandarkan kekuatan ghaib ini kepada makhluk ghaib seperti jin, malaikat yang diimajinasikan sebagai para dewa, dan orang-orang yang telah mati seperti Sidartha, yang kemudian bergelar Budha, Kwang In, Lata dan lain sebagainya dari orang-orang yang ketika hidupnya mempunyai pengaruh dalam masyarakatnya.
Dalam hal ini Allah memberi petunjuk kepada manusia bahwa semua kekuatan ghaib itu datangnya dari Allah dan harus disandarkan kepada Allah. Barang siapa yang menyandarkan kekuatan ghaib kepada selain Allah adalah syirik besar, yang akan menjerumuskan ke neraka. Didalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah r.a Rasulullah saw bersabda :
" من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار "

Artinya : “Barang siapa bertemu dengan Allah tidak mensekutukanNya dengan sesuatu maka ia masuk surga, dan barang siapa bertemu dengan Allah dalam keadaan mensekutukanNya ia masuk neraka.”




SYIRIK RUBUBIYAH.

Dimuka telah kami jelaskan bahwa orang-orang musyrik pada masa Rasulullah saw mengakui tauhid rububiyah akan tetapi tauhid mereka belum cukup karena mereka tidak mengakui tauhid uluhiyah. Sekarang ini umat islam dilanda fitnah yang sangat besar, yaitu tersebarnya syirik rububiyah ditengah-tengah umat islam. Diantara syirik rububiyah yang harus dijauhi umat islam itu ialah :

1. Keyakinan bahwa di alam atas sana ada wali kutub dan wali abdal, yang berkuasa menolong dalam kehidupan manusia. Banyak umat islam yang meyakini bahwa wali-wali tersebut berkuasa memberi pangkat, mengangkat derajat, memberi rizki dan mencelakakan. Banyak umat islam yang meyakini bahwa wali kutub dan wali abdal itu pemimpin para wali yang berkuasa menetapkan keberuntungan seseorang atau kerugian seseorang.
Dengan keyakinan tersebut maka banyak umat islam yang menggantungkan hatinya pada wali-wali tersebut. Ketika mereka mendapat kesulitan atau bencana, mereka berdoa kepada wali-wali tersebut agar terlepas dari kesulitan atau bencana itu. Ini adalah kenyataan syirik Rububiyah karena keyakinan berkuasa mengatur dalam kehidupan manusia dari selain Allah.

2. Taat yang disertai membenarkan atau ridlo kepada penguasa, pemimpin, ulama, Undang-Undang dan peraturan-peraturan yang berlawanan dengan nash dari Al Qur’an dan As Sunah. Karena ketaatan itu hanya diperbolehkan kepada Allah dan RasulNya saja. Maka kepatuhan kepada selain Allah dan RasulNya dalam perkara-perkara yang berlawanan dengan syariat Allah Adalah syirik akbar. Allah berfirman dalam surat Al An’aam ayat 121.


وَلاَتَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ {121}
Artinya : Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelih nya.Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah fasik.Sesungguhnya syaithan itu membisikkan kepada kekasih-kekasihnya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu mentaati mereka sungguh kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik

Adapun macam-macam syirik Taat ini antara lain adalah :
a. Taat pada hakim atau penguasa dan pemimpin yang memutuskan perkara berdasarkan hokum yang berlawanan dengan syariat Allah, seperti membolehkan zina dengan cara dilokalisasi, persamaan bagian warisan antara laki-laki dan perempuan, larangan poligami dan sebagainya.Orang-orang yang mensetujui atau ridho hukum ini atau menganggap baik, maka mereka adalah musyrik, karena mereka menuhankan orang selain Allah. Firman Allah dalam surat At Taubah ayat 31 :
اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَآأُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لآإِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ {31}
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib sebagai tuhan selain Allah dan al masih putra maryam. Padahal mereka hanya diperintah menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.”

Dalam hadist shoheh yang diriwayatkan Imam Turmudzi dan yang lain menerangkan bahwa : Ketika seorang pendeta Nashrani bernama Adi bin Halim berkunjung pada Rasulullah saw yang pada waktu itu dia memakai kalung salib, maka Rasulullah membaca ayat ini, dengan spontan Adi membantah: “Kami tidak menyembah mereka”. Kemudian Rasulullah saw bertanya : “Apakah mereka menghalalkan yang diharamkan Allah kemudian kamu menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kamu mengharamkannya?” Adi menjawab: Iya! Maka Rasulullah menimpalinya : “Itulah ibadah kalian pada mereka!”

Dalam hadits ini Rasulullah menerangkan maksud ayat menjadikan ulama dan rahib sebagai Tuhan bukanlah rukuk atau sujud pada mereka, tetapi mentaati mereka dalam hukum yang berlawanan dengan syariat Allah, yaitu menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan Allah. Maka orang-orang yang mentaati hakim atau pemimpin yang berlawanan dengan syariat Allah berarti menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu Allah dalam memberlakukan hukum, dan ini termasuk syirik akbar.

b. Taat kepada ulama yang menyesatkan dalam bid’ah aqidah seperti mensyariatkan berdoa kepada orang-orang yang telah mati atau berwasilah kepadanya. Berdoa kepada selain Allah, minta berkah kepada orang-orang yang telah mati dan meminta syafaat kepada mereka adalah urusan aqidah yang haram dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang jelas dari Al Quran dan hadits shoheh. Padahal perkara ini dilarang Allah seperti dalam surat Jin ayat 18 :
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا {18}
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu bagi Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang bersama-sama dengan Allah.”

Orang-orang yang mengikuti pendapat ulama seperti ini atau membenarkannya berarti menjadikan ulama sebagai sekutu Allah dalam menetapkan hukum , dan ini adalah syirik akbar. Allah berfirman dalam surat Asy Syuro ayat 21 :
أَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُاْ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَالَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ وَلَوْلاَ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمُُ {21}
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu bagi Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan dari Allah, tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan mendapat siksa yang pedih.

Termasuk ulama yang menyesatkan adalah ulama-ulama syiah. Mereka mewajibkan memaki semua sahabat Rasulullah kecuali tiga orang bahkan mengkafirkan para sahabat. Mereka membuat rukun Iman yang tidak pernah diketahui oleh Rasulullah dan para sahabatnya, yaitu bahwa iman-iman mereka adalah ma’sum, yang harus dipatuhi dan dibenarkan perkataannya, sekalipun berlawanan dengan syariat Allh. Mereka adalah pendusta – pendusta yang paling besar di dunia ini karena membuat hadist-hadist palsu dan dusta yang kemudian di da’wahkan ke seluruh dunia. Diantara hadist dusta yang mereka buat antara lain hadist Ghodir Qum atau hadist bah-bah, yang kemudian dijadikan dasar rukun iman mereka. Mereka mengklaim bahwa mereka yang masuk surga, sedangkan orang-orang di luar mereka masuk neraka. Padahal Allah bersaksi bahwa para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya itulah yang masuk surga. Allah berfirman dalam sutar At Taubah ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {100}
Orang-orang yang dahulu lagi pertama – tama masuk Islam, diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridlo kepada mereka dan merekapun ridlo kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surg yang mengalir di bawahnya sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

Termasuk ulama menyesatkan adalah ulama Tasawuf, yang mana mereka mensyariatkan thoriqoh bid’ah yang tidak pernah diamalkan oleh para sahabat, dan menebarkan aqidah yang sesat . Mereka menda’wahkan syeikh-syeikh mereka adalah mursyid yang mampu kasyaf ( menyingkap tabir ghaoib ), mampu mengambil ilmu lansung dari Alah dan Rasulullah bahkan ada yang mengaku melihat alah dengan mata.

Ibnu Arabi seorang sufi besar dalam kitabnya Al Fushush menulis : Diantara kami ada yang menjadi khalifah dari Rasul yang ia dapat mengambil hukum dari Beliau atat dengan cara berijtihad yang juga berasal dari Beliau SAW pula, dan diantara kami ada pula yang mengambil hukum dari Allah sehingga ia menjadi khalifah Allah. Dalam kitab Al Futuhat al Makiyah Ibnu Arabi berkata : Berapa banyak hadits yang shahih dari jalan periwayatannya sampai kepada Al Makasyif ( orang yang menyingkap tabir ghaib) karena sudah ditentukan tanda-tandanya, lalu ia bertanya kepada Nabi SAW tentang hadits tersebut, maka beliau SAW mengingkarinya seraya bersabda : Aku tidak pernah mengatakannya dan aku juga tidak pernah menghukuminya.”

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin bab Hikayat Muhibbin Wa Mukasyafatihim , ia menyebutkan sebuah kisah bahwa Abu Turab mengagumi seorang muridnya yang menghabiskan waktunya untuk munajat pada Allah SWT. Ketika Abu Turab mengajaknya menemui Abu Yazid Al Busthomi murid tersebut menjawab : Aku Telah melihat Allah Azaa Wa Jalla maka aku tidak butuh melihat Abu Yazid” Kemudian Imam Ghazali berkomentar : Contoh-contoh mukasyafat ( menyingkap tabir ghaib ) seperti ini hendaknya seorang mukmin tidak mengingkarinya.

Syeikh Muhammad Bin Jamil dalam kitabnya Ash Shufiyah Fii Mizanil Kitab Was Sunnah .menjawab : perkataan Iman Ghozali ini wajib bagi seorang mukmin mengingkarinya, karena bertentangan dengan Al Qur’an dan Asunah.

Apa yang dikatakan Syeikh Muhammad inilah yang benar karena tidak ada yang mengetahui hal-hal yang ghoib kecuali Allah, sebagaimana firmanNya dalam surat An Naml ayat 65 :
قُل لاَّيَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَايَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ {65}
Katakanlah : Tidak ada orang yang di langit dan dibumi yang mengetahui sesuatu yang ghoib kecuali Allah. Mereka tidak tahu kapan mereka dibangkitkan kembali.

Adapun para nabi dan rasul-Nya mengetahui perkara-perkara ghaib itu setelah mendapat wahyu dari Allah SWT. Selain Nabi dan Rasul tidak seorangpun yang diberi wahyu, sebagaimana firman Allah dalam surat Jin Ayat 26-27.
عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا {26} إِلاَّمَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا {27}
Dia mengetahui yang ghaib , maka tidaklah dilahirkan yang ghaib tu kepada seorang jua, kecuali pada orang yang disukaiNya dari antara RasulNya, maka Dia mwenjadikan penjaga-penjaga dimakamnya dibelakangnya.

c. Taat dan membenarkan pada Undang-Undang, Peraturan yang berlawanan dengan Nash Al Qur’an dan Sunnah Sahihah, misalnya boleh mengangkat penguasa non muslim dan munafik, hukuman penjara bagi pembunuh ,rampok dan pemerkosa, larangan poligami dan berpakaian muslim dll.
Semua hukum yang berlawanan dengan hukum Allah adalah hukum jahiliyah yang wajib diingkari oleh setiap muslim. Allah berfirm dalam surat Al Maidah ayat 50 :
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ {50}
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Alah bagi orang --orang yakin ?

Dari ayat ini Imam Ibnu Katsir menjelaskan : Allah mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah dan mengganti dengan hukum yang lain yang diambil dari pendapat, pemikiran, kesenangan, yang disusun oleh orang-orang yang tidak bersandar pada syariat Allah. Sebagaimana kaum jahiliyah yang menghukumi dengan hukum yang berdasar kejahilan dan kesesatan.Seperti bangsa Tartar yang menghukumi dengan hukun yang diambil dari Jenghis Khan. Yang disebut Yasik., yaitu kitab kumpulan hukum yang diambil dari macam-macam syariat dari Yahudi, Nasrani, Islam , pemikiran dan kesenangan-kesenangan maka jadilah Yasik ini syariat yang didahulukan daripada hukum dari Al qur’an dan Sunnah. Barangsiapa memberlakukan hukum ini adalah kafir yang harus diperangi ( diluruskan sehingga kembali kepada Hukum Allah dan RasulNya…. (Sampai selesai.)

Berdasar ayat Al Qur’an dan penjelasan Imam Ibnu Katsir tersebut maka Undang-Undang yang diberlakukan di Negara-negara yang penduduknya muslim sekarang ini , yang berupa kumpulan hukum campuran dari syariat Islam, hukum sekuler dari Negara barat, kepentingan-kepentingan yang keluar dari syariat Allah adalah hukum jahiliyah yang setiap muslim wajib meluruskan kembali kepada hukum Allah dan RasulNya. Karena orang yang mengikuti atau mematuhi disertai membenarkan dan menganggap baik hukum tersebut, mereka termasuk orang yang diancam Allah sebagaimana tersebut dalam Firman Allah di Surat Al Baqara ayat 85.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَاجَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْي ُفيِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلىَ أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Apakah kamu beriman kepada sebagian Al kitab dan ingkar sebagian yang lain ? Tidaklah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripada kamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan hari kiamat mereka dikembalikan pada siksa yang amat berat.

Dalam surat Al Maidah ayat 44, Allah berfirman :
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ {44}
Barang siapa yang tidak menghukumi dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itrulah orang yang kafir.

Berhukum pada syariat Allah tidak hanya untuk mencari keadilan , Karena syariat Allah jauh dari kepentingan para penguasa, tapi merupakan ibadah kepada Allah yang paling utama dan merupakan hak Allah saja. serta Aqidah bagi setiap muslim. Orang yang berhukum kepada selain syariat yang berupa Undang-Undang, atau peraturan-peraturan , yang dibuat oleh manusia berarti mereka telah menjadikan Undang-Undang dan peraturan-peraturan tersebut sebagai sekutu bagi Allah. Orang Islam yang memberlakukan selain syariat Allah yang berupa Undang-Undang, dan peraturan-peraturan buatan manusia, atau berpendapat Undang-Undang tersebut lebih baik dari syariat., atau berpendapat boleh digunakan untuk kemaslahatan ummat, jelaslah mereka adalah orang-orang munafik yang diancam neraka paling bawah. Yang demikian itu karena Allah mengingkari perbuatan mereka dan mendustakan iman mereka sekalipun mereka merasa beriamn.Hal ini digambarkan dengan jelas dalam surat An Nisa ayat 60 :
أَلَمْ تَرَإلِىَ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَآأُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآأُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحاَكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا {60}
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mengaku telah beriman kepda Apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepda thagut padahal mereka telah diperintah mengingkari thagut . Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Kemudian dalam ayat 65 Allah menolak iman mereka serta menjelaskan iman seerti itu adalah dusta.
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {65}
Maka demi Tuhanmu mereka pada hakikatnya tidak beriman sehungga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan , kemudian mereka tida merasa keberatan dalam hati mereka terhadap kputusan yang kamu berikan dan mereka meenerima dengan sepenuhnya.


















TAUHID ULUHIYAH


Tauhid uluhiyah ialah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba
﴿ افراد الله تعالى بافعال العباد ﴾
Artinya; semua perbuatan orang baik yang didorong kepercayaan gaib atau kebutuhan lahir harus ditujukan dan disandarkan kepada Allah saja. Apabila ada perbuatan yang didorong kepercayaan gaib ditujukan pada selain Allah , maka itulah syirik Akbar. Dan perbuatan yang didorong kebutuhan lahir yang ditujukan pada selain Allah ada dua akibat. Apabila perbuatan tersebut berlawanan dengan syariat Allah itulah syirik akbar, dan apabila tidak berlawanan dengan syariat Allah, maka diperbolehkan.
Tauhid Uluhiyah ini juga dinamakan tauhid ibadah,
﴿ افراد الله تعالى بجميع انواع العبادة ﴾
Artinya ; mengesakan Allah Ta `ala dalam semua macam-macam Ibadah. Istilah ini diambil dari kosa kata ( الاله ) yang maknanya ( المعبود ) artinya sesuatu yang di ibadahi.
Adapun makna Ibadah dalam arti bahasa ialah:merendah, maksudnya merendahkan diri.
Adapun makna Ibadah dalam istilah syariat, ulama` mendefinisikan berbeda – beda, namun maksudnya sama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendefinisikan bahwa Ibadah ialah:Nama yang mencakup semua apa yang dicintai Allah dan di ridloiNya, yang berupa perkataan - perkataan, dan perbuatan –perbuatan lahir dan batin. Sedangkan Syaikh Abdul `Ala Al Maududi mengatakan: Ibadah ialah melakukan perbuatan yang didorong kepercayaan gaib dan kepatuhan yang disertai membenarkannya. Dengan ta`rif ini maka ibadah yang ditujukan dan disandarkan kepada Allah maka itulah Tauhid, dan Ibadah yang ditujukan pada selain Allah adalah syirik.
Orang – orang yang melakukan penyembahan dan berdo`a kepada Isa Al Masih AS dan ibunya Maria, mereka telah melakukan perbuatan syirik akbar, karena melakukan Ibadah kepada selain Allah . Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Ahqof ayat 5-6 :

وَمَنْ أَضلَُّ مِمَّن يَدْعُوا مِن دُونِ اللهِ مَن لاَّيَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَآئِهِمْ غَافِلُونَ {5} وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَآءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ {6}

“Siapakah orang yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain dari Allah yang tidak dapat mengabulkan doanya sampai hari kiamat, dan mereka lalai dari doa mereka? Dan apabila manusia telah dikumpulkan (dihari kiyamat ) niscaya sesembahan – sesembahan itu menjadi musuh mereka ,dan mengingkari ibadah mereka”.

Orang-orang yang membenci poligami atau tidak menyukainya karena mengikuti pendapat para cendekiawan dan para pemimpin atau mentaatinya, maka mereka telah melakukan syirik besar, karena telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam hal mengharamkan dan menghalalkan. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah ayat:31.

اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ َ {31}

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah

Mereka (orang-orang Nasrani) mengangkat alim ulama dan pendeta-pendeta mereka sebagai Tuhan-Tuhan selain Allah. Maksud menjadikan ulama dan pendeta sebagai Tuhan dalam ayat tersebut adalah, mentaati mereka dalam hukum yang berlawanan dengan syareat Allah. Sebagaimana dalam hadis shoheh yang diriwayatkan Imam Turmudzi dan yang lain dari Adi bin Hatim:

دخلت على رسول الله صلى الله عليه و سلم و في عنقي صليب من فضة وهو يقرأ :﴿ اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله  فقلت أنهم لم يعبدوهم فقال بلى إنهم حرم عليهم الحلال و أحلوا لهم الحرم فاتبعوهم فتلك عبادتهم إياهم .(رواه أحمد و الترمذي وحسنه )

Aku masuk pada Rasululloh SAW dan dileherku salib dari perak, maka beliau membaca ayat : “mereka menjadikan ulama dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah”. Kemudian aku menyanggah : Mereka tidak menyembah mereka . Maka beliau bersabda : Iya mereka (ulama dan pendeta ) mengharamkan apa yang dihalalkan Alloh dan menghalalkan apa yang diharamkan Alloh maka mereka mengikutinya. Itulah ibadah mereka ( orang-orang nasrani ) kepada mereka ( ulama dan pendeta )

Adapun ibadah kepada Alloh itu mengandung ma’na merendah dan makna cinta dan terdiri dari tiga rukun, yaitu: cinta, harapan dan takut, yang harus terkumpul jadi satu. Orang-orang yang beribadah kepada Alloh dengan cinta saja itulah jalan orang-orang tasawuf, dan orang-orang yang beribadah dengan harapan saja, itulah jalan orang-orang murjiah, dan orang-orang yang beribadah dengan takut saja, itulah jalan orang-orang khowarij. Demikian pula merendah dan cinta harus menjadi satu, tidak bisa terpisahkan. Apabila terpisah, maka tidak dinamakan ibadah. Dengan pengertian ini, maka seorang hamba dalam semua gerakannya wajib lebih mencintai Alloh dari pada segala sesuatu, dan wajib lebih mengagungkan Alloh dari pada yang lain.
. Pengertian ini harus dipahami oleh semua orang yang hidup didunia ini karena mereka diciptakan dan diberi kenikmatan hidup didunia, seperti: air,tumbuh-tumbuhan binatang dan lain sebagainya, hanyalah untuk beribadah kepada Alloh saja. Sebagaimana firman Alloh dalam surat At-Dzariyat ayat 56.

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ {56}

Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.

Ibadah seperti inilah semua nabi-nabi diutus untuk membimbing umatnya. Sebagaimana firman Alloh dalam surat An-Nahl ayat: 36.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ....{36}

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: Sembahlah Alloh dan jauhilah thoghut.

Syaikh Abu Ala’ Al-Maududi didalam kitabnya Kalimatul Arbaah fil Qur-an menjelaskan bahwa thoghut adalah: tiap-tiap pemerintah atau penguasa tiap-tiap pemimpin atau tokoh yang melanggar ketentuan Alloh dan melawan hukum Alloh. Kemudian hukum mereka diberlakukan dalam masyarakatnya dengan cara bujukan, rayuan dan pembelajaran. Barang siapa membenarkan perbuatan mereka atau mengikutinya, maka ia telah beribadah kepada thoghut.
Adapun macam-macam ibadah itu banyak; yaitu : solat, zakat, puasa, haji, amar-ma’ruf, nahi-mungkar, jihad fi sabilillah, birul walidain, silayul-rohim, menepati janji, menyampaikan amanat, menyantuni anak yatim, faqir dan miskin, berdoa, dzikir, baca Al-Qur’an, istiadzah, istianah, istighosah, menyembelih qurban, nadzar.....Mencintai Alloh dan Rasul-Nya, takut kepada Alloh, tawakal kepada Alloh......
Macam-macam ibadah ini wajib ditujukan kepada Alloh saja, tidak yang lain. Barang siapa menujukan salah satu ibadah kepada selain Alloh misalnya berdoa kepada selain Alloh, menyembelih qurban atau nadzar kepada selain Alloh, istighosah kepada orang mati, baik Nabi, wali, atau orang soleh, maka perbuatan ini adalah syirik akbar, salah satu dosa yang tidak diampuni kecuali taubat nasuha. Sebagaimana firman Alloh dalam surat An-Nisa’ ayat: 116- 117.

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا {116} إِن يَدْعُونَ مِن دُونِهِ إِلآَّإنِاَثاً وَإِن يَدْعُونَ إِلاَّشَيْطَانًا مَّرِيدَا {117}
116.Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni (dosa ) mempersekutukan ( sesuatu ) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Alloh, maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya.
117.Yang mereka seru selain Alloh itu tidak lain hanyalah perempuan-perempuan dan tidaklah mereka itu mereka itu berdoa kecuali kepada syethan yang durhaka.

Sungguh sangat menyedihkan,sekarang ini disebagian besar di negara-negara Islam, kubur para wali dan orang-orang soleh telah dijadikan berhala yang disembah oleh orang-orang yang mengaku Islam. Dari tempat yang jauh mereka datang ke kubur wali-wali untuk minta berkah, kelancaran rizki, kenaikan pangkat dan jabatan, ketenangan rumah tangga, dan lain-lain kebutuhan kepada wali yang ada dalam kubur tersebut. Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa berdzikir dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an disisi kubur para wali akan mendapat berkah dari wali tersebut. Dan diantaranya ada yang berkeyakinan bahwa berdoa dengan perantaraan para wali, akan dikabulkan Alloh karena mereka adalah orang-orang soleh yang dekat dengan Alloh dan dikasihi-Nya. Bahkan banyak sekali dari mereka yang minta langsung kepada wali tersebut.
Diantara doa yang mereka panjatkan kepada wali-wali antara lain sebagai berikut:
رجونا من مزاياكم لتدعوا يا ولي الله
إلى الرحمن ما يرام لدينا يا ولي الله
طلبنا وسعة الرزق حلالا يا ولي الله
وحج البيت في الحرام مرارا يا ولي الله
Kami mengharap karomah paduka agar paduka berdoa
Wahai wali Alloh.
Kepada yang maha pengasih, apa yang menjadi hajat kami
Wahai wali Allah.
Kami mohon kelapangn rizki yang halal Wahai wali Allah.
Dan haji di Baitul Haram berulng-ulang, Wahai wali Allah.

Kalau mereka diberi tahu bahwa doa seperti ini adalah syirik akbar, suatu dosa yang tidak diampuni kecuali taubat, maka mereka menolak seraya mengatakan: Kami tidak menyembah mereka, tetapi mereka adalah orang-orang soleh yang dekat dengan Alloh dan memiliki derajat disisi-Nya, maka kami minta syafaatnya,
Mereka lupa atau melupakan Al-Qur’an yang mereka baca, bahwa ucapan ini adalah perkataan orang-orang musyrik pada masa Rasululloh saw.
Sebagaimana firman Alloh dalam surat Yunus ayat: 18.
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَالاَيَضُرُّهُمْ وَلاَيَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَاؤُلآءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللهَ بِمَا لاَيَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَفِي اْلأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ {18}

Dan mereka menyembah selain dari pada Alloh, apa yang tidak dapat mendatangkan kemadlorotan kepada mereka, dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami disisi Alloh”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Alloh apa yang tidak diketahui-Nya baik dilangit dan tidak pula dibumi? Maha suci Alloh dan Maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan itu.

Dan firman Alloh dala surat Az-Zumar ayat: 3.
أَلاَ لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَانَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللهِ زُلْفَى إِنَّ اللهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَاهُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللهَ لاَيَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (3 )

Ingatlah bagi Alloh agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang menjadikan pelindung selain Alloh mereka berkata: Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Alloh akan menghukumi diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang pendusta dan sangat ingkar.

Kedua ayat Al-Qur’an tersebut menggambarkan bahwa; berhala-berhala yang disembah orang-orang musyrik pada zaman Rasululloh adalah patung orang-orang soleh dan tokoh-tokoh pada zamannya. Dan penyembahan mereka adalah sebagai perantara (wasilah) untuk mendekatkan kepada Alloh agar doa mereka dikabulkan Alloh, dan minta syafaatnya.

Sudah cukup banyak ulama’ yang mengingkari perbuatan syirik seperti ini mereka melarangnya dan memperingatkannya. Diantaranya adalah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnu Qoiyim, Syeh Muhamad bin Abdul Wahab, Syeh Muhamad bin Ismail As- Son’ani, Syeh Muhamad bin Ali As- Syaukani dan ulama’ yang lain baik ulama’ Salaf maupan Kholaf.
Imam Syaukani dalam kitabnya Nailul Author mengatakan: Mendirikan bangunan diatas kubur orang-orang soleh dan tokoh umat telah mengakibatkan kerusakan agama Islam yang dengan timbulnya kerusakan itu Islam menangis. Diantara kerusakan itu adalah, timbulnya aqidah jahiliyah, seperti aqidahnya orang-orang kafir kepada berhala-berhala mereka. Banyak sekali umat Islam yang berkeyakinan bahwa yang ada didalam kubur mampu memberi manfaat dan menolak kemadlorotan. Maka kubur-kubur itu dijadikan tujuan untuk minta dipenuhi kebutuhannya dan tempat memohon untuk mendapat keberuntungan. Mereka berdoa kepada yang ada didalam kubur itu seperti doa seorang hamba kepada Tuhannya. Mereka berkendaraan dari tempat yang jauh mendatangi kubur-kubur tersebut untuk minta tolong dan mengusapnya. Ina lillahi wainna ilaihi rooji’un.

Ketergantungan Tauhid Rububiyah pada tauhid Uluhiyah.

Tauhid Rububiyah menempel erat pada Tauhid Uluhiyah yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Maksudnya: mengakui Tauhid Rububiyah wajib mengakui Tauhid Uluhiyah dan mengamalkan-nya. Barang siapa mengetahui dan mengakui bahwa Alloh adalah Penciptanya dan pengatur urusannya maka wajib atasnya, beribadah kepada Alloh saja, dan tidak mensekutukan-Nya. Dengan pengertian ini, maka bisa dikatakan bahwa Tauhid Rububiyah itu masuk dalam Tauhid Uluhiyah. Barang siapa yang beribadah kepada Alloh saja dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu, pastilah ia mengakui dan berkeyakinan, bahwa Alloh adalah Penciptanya dan Pengaturnya. Sebagaimana dikatakan Nabi Ibrahim Alaihis salam yang diabadikan Al-Qur’an surat As-Suaro’ayat: 75—82.
قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ {75} أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ {76} فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82}

Ibrahim berkata:"Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, (QS. 26:75)kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, (QS. 26:76)karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb Semesta Alam, (QS. 26:77)(yaitu Rabb) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, (QS. 26:78) dan Rabbku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, (QS. 26:79)dan apabila aku sakit.Dialah Yang menyembuhkan aku, (QS. 26:80)dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), (QS. 26:81)dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". (QS. 26:82)
Didalam Al-qur’an terkadang kalimat Rob dan Illah disebut bersamaan, sehingga ma’nanya berbeda. Sebagaimana firman Alloh dalam surat An-Naas ayat: 1—3.
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (١)
مَلِكِ النَّاسِ (٢)
إِلَهِ النَّاسِ (٣)

1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia.
3. Sembahan manusia.

Ma’na Robun-nas yang diterjemahkan Tuhan manusia adalah: Pencipta, Penguasa, dan Pengatur kehidupan manusia. Sedangkan ma’na Ilahin-nas yang diterjemahkan Sembahan manusia adalah: satu satunya Tuhan yang berhak diibadahi, tidak yang lain.
Dan terkadang disebut salah satu, tetapi ma’nanya keduanya, sebagaimana firman Alloh dalam surat Al-Hajj ayat: 40.

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلآَّ أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللهُ


“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah".

Ma’na kalimat Robunalloh, yang diterjemahkan Tuhan kami adalah Alloh itu mengandung kedua ma’na, yaitu ma’na Rububiyah dan Uluhiyah.
Didalam Al-Qur’an ayat-ayat semacam ini banyak,diantaranya dalam surat Fusilat ayat: 30.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30}

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Alloh, kemudian mereka meneguhkan pendirianya maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu

Adapun Tauhid yang para Nabi dan Rasul mengajak umatnya adalah Tauhid Uluhiyah, karena umumnya manusia telah mengakui Tauhid Rububiyah. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Yunus ayat: 31.

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ
Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?"

Oleh karena itu orang-orang yang mengakui tauhid Rububiyah saja belum menjadi Islam, sehingga mengakui tauhid Uluhiyah dan hanya beribadah kepada Alloh saja tidak beribadah kepada selain Alloh.
Dengan ayat-ayat semacam ini, jelaslah kesalahan ulama’ As-‘Ariyah dan Sufiyah yang mencukupkan bahwa Tauhid adalah, ikrar pada wujudnya Alloh sebagai Tuhan yang menciptakan alam, mengatur dan memberi rizki, yang mempunyai sifat wajib dua puluh, sifat mohal dua puluh dan satu sifat jaiz.
Mereka mengarang kitab-kitab Tauhid dari yang ringkas sampai yang panjang lebar pembahasanya, tapi hanya membicarakan tentang Rububiyah dan sifat-sifat Alloh yang didukung dalil-dalil akal dan penggalan ayat-ayat Al-Qur an. Mereka melupakan Tauhid Uluhiyah yang merupakan tujuan Tauhid yang dida’wahkan para Rasul kepada umatnya, yaitu beribadah kepada Alloh saja dan tidak beribadah kepada selain Alloh.
Akibat dari kesalahan ini, maka munculah fatwa dari ulama’ tersebut yang berlawanan dengan aqidah Islam, yaitu mensunahkan berdoa kepada para wali dan orang-orang soleh yang telah meninggal untuk mendekatkan kepada Alloh, mensunahkan minta syafaat dan minta berkah kepada mereka, bahkan mensunahkan berdoa dan minta langsung kepada para wali agar mereka memenuhi hajatnya. Diantara doa yang terkenal dalam kitab ulama’ As-‘Ariyah dan Sufiyah adalah:

أيها الآرواح الطاهرة من الرجال الغيب والشهادة كونوا عونا لنا في نجاح الطلبات و تيسير الورادات و انهاض العزمات وتأمين الروعات و ستر العورات وقضاء الديون


Wahai ruh-ruh yang suci dari orang-orang yang gaib dan yang tampak.Tolonglah kami supaya berhasil tujuan kami, dan supaya mudah tercapai kehendak kami, dan supaya tegak tujuan kami, aman dari ketakutan,tertutup kehinaan kami dan mudah membayar hutang.

Ulama’ As-‘Ariyah dan Sufiyah tidak menyadari bahwa berdoa kepada orang-orang yang telah mati baik Nabi, wali, orang-orang soleh sebagai perantara kepada Alloh adalah syirik akbar salah satu dosa yang tidak akan diampuni Alloh kecuali dengan taubat.

Mereka lupa atau melupakan bahwa doa adalah ibadah bahkan otak ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik :
االدعاء هو مخ العبادة
Dan juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad ,Tirmidzi ,Abu Dawud ,Nasai dan Ibnu Majah dari sahabat Nu’man bin Basyir :
االدعاء هو العبادة
Yang demikian ini adalah akibat melupakan Tauhid Uluhiyah,Tauhid yang semua Nabi dan Rasul berda’wah kepada umatnya, yaitu beribadah kepada Alloh saja, tidak beribadah kepada selain Alloh.
Nabi Nuh Alahis-salam mengajak umatnya untuk beribadah kepada Alloh saja, dan tidak boleh beribadah kepada selain Alloh. Hal ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’minun ayat:23.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ {23}

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata:"Hai kaumku beribadahlah kamu semua kepada Allah, (karena) sekali-kali tidak ada tuhan yang berhak diibadahi bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa(kepada-Nya)?" (QS. 23:23)

Demikian pula Nabi Hud , Nabi Sholih, Nabi Suaib Alaihimus salam yang pertama kali mereka dakwahkan kepada kaumnya adalah tauhid uluhiyah sebelum mengajak yang lain

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka Huud. Ia berkata:"Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan yang berhak diibadahi selain Dia.. (QS. 11:50)

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata:"Hai kaumku, beribadahlah kamu kepada Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan yang berhah diibadahi selain Dia ( QS. 11 : 61 )

وَإِلىَ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهِ غَيْرُهُ
Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu'aib. Ia berkata:"Hai kaumku beribadahlah kamu kepada Allah, sekali-kali tiada Tuhan yang berhak diibadahi bagimu selain Dia ( QS. 11 : 84 )

Semua ini menunjukkan sangat pentingnya tauhid uluhiyah, karena tanpa tauhid uluhiyah maka tidak artinya tauhid – tauhid yang lain. Bahkan tanpa tauhid Uluhiyah semua amal kebaikan tidak ada nilainya di hadapan Allah SWT . Oleh karena itu semua nabi dan utusan Allah mendahulukan mengajak bertauhid uluhiyah sebelum yang lainnya. Sebagaimana diberitakan Alah dalam surat Al Mukminun ayat 31-32.
ثُمَّ أَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قَرْنًا ءَاخَرِينَ {31} فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ {32}
Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain. Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata):" Beribadahlah kepada Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada tuhan yang berhak didbadahi selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya). (QS. 23:31-32)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:”Umumnya Ulama llmu Kalam dalam membicarakan Tauhid di kitab-kitab mereka pada akhirnya menyimpulkan bahwa Tauhid itu ada tiga macam, yaitu bahwa Allah itu satu dzat-Nya tidak terbagi-bagi, satu sifat-Nya tidak terbagi-bagi ,Satu perbuatan-Nya tidak terbagi-bagi , dan yang dominan adalah yang ketiga, yaitu Tauhid Af’al , yaitu bahwa yang menciptakan alam ini adalah satu. Mereka menggunakan dalil akal dan logika dan mereka mengira bahwa ini adalah tujuan tauhid dan ini adalah makna : Laa Ilaaha Illa LLAH, sehingga mereka menjadikan makna uluhiyah dengan kuasa menciptakan . Mereka melupakan bahwa orang-orang musyrik Arab pada waktu diutusnya Rasulullah SAW tidak mengingkari perkara ini, bahkan mereka mengakui bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu dan Maha Kuasa , namun mereka tetap syirik karena mereka tidak mengakui Tauhid Uluhiyah.
Tauhid yang dibawa oleh para Rasul adalah menetapkan uluhiyah kepada Allah saja, dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan tidak beribadah kepada selain Allah.

Uslub Al qur’an tentang dakwah kepada tauhid uluhiyah

Pada umumnya manusia mengakui Tauhid Rububiah berdasarkan fitrahnya dan pemikirannya pada alam, akan tetapi ikrar tauhid Rububiyah saja tidak cukup untuk memenuhi iman mereka dan mereka tidak akan selamat dari siksa neraka. Maka dakwah para Rasul berpusat pada Tauhid Uluhiyah. Apalagi Nabi terakhir Rasulullah SAW. Beliau mengajak kaumnya untuk bersaksi (لااله الا الله)yang mengandung arti beribadah kepada Allah saja dan tidak beribadah kepada selain Allah, kaumnya menolak karena telah biasa berdoa kepada orang-orang yang telah mati yang diberhalakan seperti Latta Uzza dan Manata. Mereka paham bahwa kalimat laa ilaaha illallah itu, tidak boleh berdoa kepada selain Allah, padahal berdoa kepada Laata, Uzza, Manata dan lain-lainnya sudah menjadi budaya mereka disamping berdoa kepada Allah.
Oleh karena itu orang-orang Quraisy membujuk Rasululloh SAW agar menghentikan dakwahnya ini, dengan imbalan harta, wanita dan tahta, tetapi Rasululloh menolaknya. Dengan adanya penolakan ini mereka mengancam Rasululloh SAW dan menterornya dengan bermacam-macam cara, tetapi dengan tegas Rasululloh menjawab: Apabila mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, aku tidak akan menghentikan dakwah ini sampai Tauhid ini tegak dimuka bumi, atau aku yang binasa.
Ayat-ayat Alloh yang turun kepada Rasululloh SAW adalah da’wah kepada tauhid Uluhiyah dan menolak kerancuan keyakinan orang-orang musyrik serta menjelaskan kesesatan keyakinan mereka, dengan dalil-dalil yang jelas dan tegas.
Adapun uslub Al-Qur’an tentang da’wah kepada tauhid Uluhiyah antara lain sebagai berikut:

1. Perintah Alloh SWT untuk beribadah kepada-Nya saja,dan meninggalkan beribadah kepada apa saja selain DIA

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ( النساء : 36 )
Beribadahlah kamu semua kepada Alloh dan janganlah kamu mensekutukan DIA dengan sesuatu. QS: 4:36.

2. Berita dari Alloh SWT bahwa DIA menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya saja.

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)

3. Berita dari Alloh SWT bahwa DIA mengutus semua Rasul untuk berdakwah (mengajak umatnya) pada beribadah kepada Alloh saja dan melarang beribadah kepada apa saja selain DIA.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت
(النحل : 36 )
Sungguh Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang rasul yang mengatakan: beribadah pada Allah dan Jauhilah Thagut ( apa saja yang diibadahi selain Allah ).
4. Mengarahkan bertauhid Uluhiyah dengan dalil-dalil tauhid rububiyah yang sudah diyakini manusia yaitu bahwa Allah telah menciptakan mereka, memelihara, melindungi dan memberi rizki.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {21} الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآءَ بِنَآءًوَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ {22}

Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (QS. 2:21)
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. 2:22)

5. Wajib beribadah kepada Allah saja dengan dalil sifat-sifat Allah yang sempurna dan menjauhi tuhan –tuhan orang musyrik.

وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا {180}

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna. (QS. 7:180)

إِن تَدْعُوهُمْ لاَيَسْمَعُوا دُعَآءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَااسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ
Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada menmendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu itu.(Q: 35:14.).

6. Sebenarnya tuhan-tuhan orang musyrik itu tidak mampu berbuat apa-apa, karena yang kuasa hanyalah Alloh semata.
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلاَتَحْوِيلاً {56}
Katakanlah:"Berdoalah kepada mereka( malaikat ,jin,dan orang-orang mati yang diberhalakan ) yang kamu anggap mampu selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya". (QS. 17:56)

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَالاَيَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِّنَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ شَيْئًا وَلاَيَسْتَطِيعُونَ {73}
Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun). (QS. 16:73)

7. Alloh menolak kepercayaan orang-orang musyrik, karena mereka menjadikan orang-orang mati sebagai wasilah (perantara) antara mereka dengan Alloh agar doa mereka dikabulkan Alloh; dan menjelaskan bahwa syafaat itu milik Alloh tidak bisa diminta kecuali kepada-Nya.
Tidaklah seseorang memberi syafaat disisi Alloh kecuali sesudah mendapat ijin-Nya dan orang yang disyafaati diridloi-Nya.

أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللهِ شُفَعَآءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لاَيَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلاَيَعْقِلُونَ {43} قُلِ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَّهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ
Mengapakah mereka menjadikan pemberi syafa'at selain Allah? .Katakanlah:"Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?" (QS. 39:43)
Katakanlah:"Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuannya.Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi ….(QS. 39:44)

وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لاَتُغْنِى شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرْضَى {26}
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa'at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya). (QS. 53:26)


8. Dihari qiyamat kelak orang yang diibadahi menolak peribadatan mereka, dan membenci mereka serta memusuhinya.

وَإِذْ قَالَ اللهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّىَ إِلاَهَيْنِ مِن دُونِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَايَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَالَيْسَ لِي بِحَقٍّ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:"Hai 'Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:"Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah". 'Isa menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku.( Q: 5: 116 ).

)
وَمَنْ أَضلَُّ مِمَّن يَدْعُوا مِن دُونِ اللهِ مَن لاَّيَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَآئِهِمْ غَافِلُونَ {5} وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَآءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ {6}

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada orang selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do'anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka. (QS. 46:5)
Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya mreka saling bemusuhan dan mereka mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (QS. 46:6

9. Ketika didunia ini para pemimpin yang mengajak beribadah atau berdoa kepada selain Alloh membujuk pada ummat dan bergaya bertanggung jawab disisi Alloh. Tetapi pada hari qiyamat mereka tunduk, lesu, dan berlepas diri dari dari ummatnya, bahkan mereka menyalahkan pengikutnya karena mau mengikuti kesesatannya.

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ اْلأَسْبَابُ {166}
وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَاهُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ {167}


(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, danmereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali. (QS. 2:166)
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti:"Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami". Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (QS. 2:167)

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَاكَانُوا يَعْبُدُونَ {22} مِن دُونِ اللهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ {23} وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ {24} مَالَكُمْ لاَتَنَاصَرُونَ {25} بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ {26} وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَآءَلُونَ {27} قَالُوا إِنَّكُمْ كُنتُمْ تَأْتُونَنَا عَنِ الْيَمِينِ {28} قَالُوا بَل لَّمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ {29} وَمَاكَانَ لَنَا عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ بَلْ كُنتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ {30} فَحَقَّ عَلَيْنَا قَوْلُ رَبِّنَآ إِنَّا لَذَآئِقُونَ {31} فَأَغْوَيْنَاكُمْ إِنَّا كُنَّا غَاوِينَ {32


(kepada malaikat diperintahkan):"Kumpulkanlah orang-orang yang zalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, (QS. 37:22)
selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. (QS. 37:23)
Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya: (QS. 37:24)
"Kenapa kamu tidak tolong-menolong?" (QS. 37:25)
Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri. (QS. 37:26)
Sebahagian dari mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan. (QS. 37:27)
Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka):"Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan". (QS. 37:28)
Pemimpin-pemimpin mereka menjawab:"Sebenarnya kamulah yang tidak beriman". (QS. 37:29)
Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. (QS. 37:30)
Maka pastilah putusan (azab) Rabb kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). (QS. 37:31)
Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. (QS. 37:32


SYIRIK BARU MENYUSUL SETELAH TAUHID ULUHIYAH

Sesudah mengetahui tauhid, setiap orang Islam harus mengetahui yang melawan tauhid itu agar ia bisa menjauhiya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Hudzaifah Bin Yaman :”Adalah manusia bertanya kepada Rosululloh SAW tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena takut tejerumus kepadanya.

Umar Bin Khattab ra berkata :”Untaian Islam akan terlepas selembar-selembar yaitu ketika didalam umat tumbuh generasi yang tidak mengetahui jahiliyyah”.

Demikian pula Nabi Ibrahim AS berdo’a kepada Allah SWT :
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ (٣٥) رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ (٣6)


“Ya Allah jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala” ( Q.S.14 :35)
Ya tuhanku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia” (Q.S.14:36)

Adapun syirik adalah menujukan salah satu macam ibadah kepada selain Alloh, seperti : berdo’a, menyembelih kurban, nadzar, istidghotsah kepada selain Alloh.

Adapun tauhid adalah beribadah hanya kepada Allah saja dan tauhid ini adalah yang asli didalam umat manusia, sedangkan syirik baru menyusul kemudian sebagaimana firman Alloh dalam surat Al-Baqoroh ayat :213 :

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan dan bersama mereka Allah menurunkan kitab yang benar untuk mengambil keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan”

Ibnu Abbas ra mengatakan : “Adalah antara Adam AS dan Nuh AS, sepuluh generasi, semuanya atas Islam”.
Ibnu Qoyyim dan Ibnu Katsir r.h didalam tafsirnya mengatakan :”Apa yang dikatakan Ibnu Abbas itu benar dan mulai ada keyakinan syirik dimuka bumi ini adalah kaumnya Nabi Nuh AS, karena mereka berlebihan mengagungkan orang-orang sholeh yang telah meninggal”.
Hal ini diberitakan Allah dalam surat Nuh ayat 23 :

وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata :”Jangan sekali-kali kau meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan sekali-kali kamu meningalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr (Q.S.71:23)

Imam Bukhori dalm shohehnya mengatakan :”Ini adalah nama orang-orang sholeh, setelah mereka meninggal syethan memberi wahyu kepada kaumnya agar mendirikan patung peringatan ditempat mereka mengadakan pengajian dan diberi nama dengan nama-nama mereka, maka kaumnya melakukannya. Pada waktu itu belum disembah, setelah generasi ini meninggal dan ilmu tauhid dilupakan, maka patung-patung tersebut disembah”.

Dari atsar riwayat Imam Bukhori yang menerangkan bahwa pertama kali syirik dibumi ini adalah dari kaum Nabi Nuh AS karena mereka berlebihan menghormati orang-orang sholeh sehingga ketika mereka meninggal, kaumnya mendirikan tugu peringatan yang diatasnya diukir patung dan diberi nama dengan nama-nama mereka. Setelah alih generasi dan ilmu tauhid dilupakan maka dijadikan tempat upacara ritual dan diibadahi, misalnya minta hujan, hasil tanaman yang melimpah dijauhkan dari bencana, lepas dari wabah penyakit dan lain sebagainya.

Hampir seribu tahun Nabi Nuh AS mengajak ummatnya beribadah kepada Allah dan meninggalkan beribadah kepada berhala-berhala, tetapi mereka menolak, mengejek, bahkan mengancam akan mengusirnya, maka Allah menurunkan bencana banjir besar yang menenggelamkan seluruh daratan yang dihuni manusia dan yang selamat hanyalah orang-orang mu’min bersama nabi Nuh AS dalam kapal yang mereka buat bertahun-tahun. Sedangkan seluruh manusia yang lain mati tenggelam, tidak satupun tersisa, maka yang tinggal dimuka bumi ini hanyalah orang tauhid saja, sebagaimana do’a Nabi Nuh dalam surat Nuh ayat 26-27 :
وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لا تَذَرْ عَلَى الأرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا (٢٦)إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلا يَلِدُوا إِلا فَاجِرًا كَفَّارًا
“Nuh berkata :”Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seorangpun diantara orang-orang kafir itu tinggal diatas bumi”(Q.S.71:26)
“Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya meraka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir (Q.S.71:27)

Beberapa generasi sepeninggal Nabi Nuh AS tumbuh lagi keyakinan syirik dan yang dominan adalah penyembahan kepada orang-orang sholeh yag telah meninggal yang dipatungkan. Oleh karena itu Islam datang dengan mengharamkan patung, melaknat orang-orang yang membuat patung mengancam mereka dengan siksa yang paling berat dihari qiyamat. Ini adalah untuk menutup jalan kearah syirik akbar yang akan merobohkan tauhid.

Ketka iblis diusir dari surga ia bersumpah akan menyesatkan semua keturunan Nabi Adam AS kecuali orang-orang yang ikhlas beribadah kepada Allah saja. Ia akan mengerahkan bala tentaranya mendatangi manusia dari kanan, kiri, muka belakang untuk merayu manusia supaya mensekutukan Allah. Dengan lihainya syethan menyesatkan manusia, ia merayu seolah-olah melaksanakan kebaikan, ia mengajak menghormati orang-orang sholeh dan mencintainya. Setelah mereka meninggal, syethan merayu ummatnya mendirikan tugu peringatan yang diberi nama dengan nama-nama mereka untuk mengenang jasa-jasanya dan meneladani kebaikannya. Setelah alih generasi, tugu peringatan yang diatasnya diukir patung ini dimintai berkah, minta hujan, lepas dari bencana, panen yang melimpah dan lain sebagainya.

Sampai pada abad teknologi ini, mayoritas manusia menyembah selain Allah, ada yang menyembah dewa-dewa , itulah orang-orang yang beragama Hindu.
Orang-orang Budha menyembah Sidarta, orang Kristen menyembah Nabi Isa AS, orang-orang Konghucu menyembah leluhur mereka dan sebagian orang-orang Islam menyembah para wali dan orang-orang sholeh yang diatas kuburannya didirikan tugu peringatan dan dibangun rumah ibadah.
Untuk memperingatkan kesalahan dan kesesatan syirik akbar ini, Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 39- 40:

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (٣٩)مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٤٠)

“Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu, ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa” (39)
“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(40)

BAHAYA SYIRIK DAN WAJIB KHAWATIR JATUH PADANYA DENGAN CARA MENJAUHI SEBAB-SEBABNYA

Syirik adalah dosa yang paling besar, maka tiap-tiap mu’min wajib takut dari syirik dengan wajib mengetahuinya agar tidak jatuh kedalamnya, karena syirik adalah satu-satunya dosa yang Allah tidak akan mengampuninya kecuali dengan taubat sebelum meninggal. Sebagaimana firman Allah dalm surat An-Nisa’ ayat 116 :

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا ﴿ 116 ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”

Adapun syirik yang biasa dilakukan oleh masyarakat ummat manusia, bahkan hampir semua ummat manusia melakukannya adalah berdoa kepada selain Allah, misalnya kepada para dewa, kepada malaikat, jin, orang-orang yag telah mati dan lain sebagainya. Orang yang batinnya tercemar dengan keyakinan syirik, mereka lebih mantap berdoa kepada selain Allah daripada kepada Allah, mereka merasa akan berhasil hajatnya kalau sudah melakukan upacara doa kepada selain Allah baik langsung atau wasilah. Padahal apa saja yang mereka berdoa kepadanya itu lemah tidak mampu memberi yang mereka minta. Maka dari itu Allah memperingatkan bahwa apa saja yang mereka berdoa kepadanya itu sebenarnya adalah syethan yang akan menyesatkan mereka.
Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 117 :
إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا ﴿117﴾

“Tidaklah mereka berdoa dari selain Alloh kecuali perempuan (lemah) dan tidaklah mereka berdoa kecuali pada syaitan yang durhaka”

Dosa syirik adalah satu-satunya dosa yang akan menghapus semua pahala amal sholeh. Orang-orang Islam yang melakukan amal sholeh misalnya sholat, zakat, haji, dzikir, infaq fi sabilillah dan lain sebagainya, sekalipun tidak sedikit jumlahnya, akan hancur lebur tidak ada nilai sedikitpun disisi Allah, bagi mereka yang melakukan syirik akbar.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat :65 :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿65 ﴾
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.

Sebaliknya orang-orang Islam yang banyak melakukan dosa, sekalipun tidak terhitung jumlah dan macamnya, bagaikan pasir ditepi pantai, tapi mereka tidak melakukan syirik akbar, maka Allah akan mengampuni semua dosa-dosanya dan mereka akan masuk sorga.
Sebagaimana hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik ra :
قال الله تعالى : يا ابن أدم لو أتيتني بقراب الارض خطايا ثم لقيتني لاتشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة
Allah Ta’ala bersabda :”Wahai anak Adam, sekiranya engkau datang kepada-Ku dengan sepenuh bumi kemudian engkau datang kepada-Ku tidak mensekutukan Aku dengan sesuatu, Aku akan mendatangi kamu dengan ampunan sepenuh itu juga”
قال رسول الله صلم : من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة و من لقيه يشرك به شيئا دخل النار
Rosulullah SAW brsabda :”Barang siapa menjumpai Allah tidak mensekutukan Dia dengan sesuatu, maka ia masuk sorga, barang siapa menjumpai Allah dengan mensekutukan-Nya dengan sesuatu, maka ia masuk neraka” (Hadits riwayat Imam Muslim dari Sahabat Jabir ra )

Oleh karena demikian besar bahaya syirik dan berakibat fatal bagi yang melakukannya, maka Rosululloh SAW memperingatkan ummatnya agar berhati-hati terhadap syirik dan menjauhi melakukan perbuatan yang berindikasi syirik sekalipun kecil. Beliau melarang ummatnya melakukan perbuatan yang bisa melapangkan jalan menuju syirik. Adapun perkataan dan perbuatan yang dapat menyebabkan orang terjerumus kedalam syirik yang dilarang Rosululloh SAW antara lain sebagai berikut :
1. Rosululloh SAW melarang mengucapkan kalimat yang dapat dipahami menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Misalnya kalimat :ماشاء الله وشئت yang artinya :”Apa yang dikehenaki Allah dan yang engkau kehendaki”. Kalimat ini diperintahkan diganti dengan kalimat : ماشاء الله ثم شئت yang artinya : “Apa yang dikehendaki Allah kemudian engkau kehendaki”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhori, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Syaibah.
2. Rosululloh SAW melarang sholat dikuburan atau menghadap kuburan karena dapat membuka jalan syirik, yaitu merasa tenang dan mendapat berkah. Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i meriwayatkan hadits dari Abi Marsad dari Nabi SAW bersabda : لاتصلوا الى القبور artinya : janganlah kalian sholat menghadap kubur”.
3. Melarang membangun kuburan seperti membuat bingkai dengan adonan semen diatas kuburan menyusun batu-batu yang dibentuk yang dalam bahasa jawa disebut “kijing” apalagi membuat rumah-rumahan diatas kubur. Semua ini adalah perbuatan mengagungkan orang-orang mati yang akan menjerumuskan orang berbuat syirik seperti dijadikan tempat minta berkah,syafaat dan mengabulkan hajat. Imam Ahmad, Muslim,Nasa’i, Abu Dawud dan Tirmizi meriwayatkan hadits dari sahabat Jabir Bin Abdullah :
نهي رسول الله صلم :ان تجصص القبور وان يكتب عليها وان يبني عليها
Rosululloh SAW melarang membingkai kuburan dengan adonan semen, menulis diatasnya dan membangun kubur.
4. Melarang membangun masjid di kuburan, karena mendorong orang melakukan syirik, misalnya sholat disitu merasa mendapat berkah bahkan menjadi tempat penyembahan pada orang yang telah mati.
Imam Muslim dalam kitab shohehnya meriwayatkan hadits dari Abdullah Al-bajali :
وان من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور انبيائهم وصالحيهم مساجد, الا فلا تتخذوا القبور مساجد اني انهاكم عن ذالك

Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu menjadikan kubur para Nabi mereka dan kubur orang-orang sholeh mereka menjadi masjid, ingat jangan sekali-kali kamu menjadikan kubur sebagai masjid, aku melarang kamu melakukan itu.
5. Melarang menutupi kubur dengan kelambu, yang dalam bahasa jawa dinamakan luwur, karena merupakan pengagungan kepada orang yang telah mati. Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits dari Aisyah ra bahwa Rosulullah SAW bersabda :
ان الله لم يأمرنا ان نكسو الحجارة والطين
Sesungguhnya Allah tidak menyuruh memakaikan pakaian pada batu dan tanah
6. Melarang menyalakan lampu untuk menerangi kubur, karena ini termasuk mengagungkan orang mati, yang merupakan langkah awal menuju syirik.
Imam Ahmad dan Ashabus Sunan meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra :
لعن رسول الله صلم زائرات القبور والمتخذين عليها المساجد والسرج
Rosululloh SAW melaknat perempuan-perempuan yang ziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan tempat sholat diatas kubur dan orang-orang yang menerangi kubur dengan lampu.
7. Melarang melakukan perjalanan untuk beribadah seperti baca Al-Qur-an, dzikir dan berdo’a, kecuali tiga tempat yaitu : Masjidil Harom, Masjid Madinah dan Masjid Aqso.
Imam Muslim dalam kitab shohehnya meriwayatkan hadits dari Abu Said Al-Hudri bahwa Rosululloh SAW bersabda :
لاتشدوا الرحال الا الى ثلاثة مساجد مسجدى هذا والمسجد الحرام والمسجد الاقصى
Janganlah kamu menyiapkan kendaraan kecuali kepada tiga masjid, masjidku ini, masjid harom dan masjid aqso.
8. Melarang mengadakan upacara haul, karena sudah berlebihan mengagungkan orang mati yang Islam melarangnya. Bahkan sekarang haul ini sudah syirik akbar karena pesertanya berkeyakinan bahwa nasi haul akan mendatangkan berkah, maka mereka berebutan untuk mendapatkannya. Kain kelambu yang dirobek kecil-kecil mereka tebus dengan harga super mahal karena keyakinan mendatangkan berkah.
Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits dari sahabat Abu Hurairoh ra bahwa Rosulullah SAW bersabda :
لاتجعلوا قبري عيدا وصلوا علي فان صلاتكم تبلغني حيث كنتم
Janganlah kamu sekalian menjadikan kuburku acara haul, dan bacalah solawat untukku karena bacaan sholawatmu sampai kepadaku dimana kamu berada.
9. Rosululloh SAW memerintahkan menghancurkan bangunan apa saja yang diatas kubur, rata dengan tanah.
Imam Muslim dalam kitab shohehnya meriwayatkan hadits dari Abu Haiyat Al Asadi :
قال علي رض : الا ابعثك على ما بعثني عليه رسول الله صلم : لاتدعوا سورة الا طمستها ولا قبرامشرفا الا سويته
Ali ra berkata kepadaku : Bersiaplah aku mengutus kamu atas apa yang Rosululloh SAW mengutus aku : Janganglah engkau membiarkan gambar kecuali engkau hapus dan janganlah engkau biarkan kubur yang ditinggikan kecuali engkau ratakan

Rosululloh SAW melarang semua ini adalah untuk menjaga tauhid agar tidak tercemar oleh syirik dan menutup jalan kearah syirik, agar tauhid tetap bersih dari unsur-unsur syirik, karena syirik adalah satu-satunya perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT.

Al-‘Alamah Imam Ibnul Qoyyim mengatakan : Orang yang membandingkan antara sunnah Rosululloh SAW tentang kubur dan apa yang dilakukan para sahabat dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan ummat islam, ia akan menemukan dua perbuatan yang saling bertentangan yang tidak mungkin dikumpulkan untuk selama-lamanya. Rosululloh SAW melarang sholat menghadap kubur, mereka sholat disisi kubur dan menghadap kubur orang – orang sholeh. Rosululloh SAW melarang membangun masjid diatas kubur, mereka membangun masjid dibelakang kubur orang-orang sholeh. Rosululloh SAW melarang menyalakan lampu untuk menerangi kubur, mereka malah mewaqafkan lampu dan minyak untuk menerangi kubur. Rosululloh SAW melarang mengadakan acara haul dikubur, mereka mengadakan haul dikubur para wali dan orang-orang sholeh dengan upacara besar-besaran melebihi idul adha, Rosululloh SAW memerintahkan untuk menghancurkan bangunan apa saja diatas kubur, sedangkan mereka membangun kubah, rumah-rumah ibadah diatas kubur orang-orang sholeh. Perbuatan pecinta kuburan ini sudah berlebihan dalam mengagungkan orang-orang mati, mereka sudah berani menentang Rosuulloh SAW dengan dalih mencintai orang-orang sholeh. Ini adalah dosa besar.

Imam Ibnu Hajar Al-Haisami dalam kitabnya Al-Kabair mengatakan : Sungguh membangun kubah diatas kubur adalah dosa besar berdasarkan nash yang soreh dan wajib bagi pemerintah menghancurkan kubah-kubah ini dan yang pertama kali dihancurkan adalah kubah diatas kubur Imam Syafi’i.

10. Melarang berlebihan melampaui hak Rosululloh SAW. Rosululloh SAW melarang berlebihan mengagungkannya dan memujinya, karena yang demikian ini akan sampai kepada mensekutukan makhluq dengan Al Kholiq SWT.
Oleh karena itu Rosuulloh SAW melarang ummatnya berlebihan memuji beliau sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim dari sahabat Umar Ibnul Khattab ra :
لاتطروني كما اطرت النصارى ابن مريم, انما انا عبد فقولوا : عبد الله ورسوله
Janganlah kamu melampaui batas memuji padaku sesungguhnya aku adalah hamba, maka katakanlah “ Hamba Allah dan Utusan-Nya”

Imam Nasa’i meriwayatkan hadits dengan sanad yang bagus dari sahabat Anas Bin Malik ra :
ان ناسا قالوا : يا خيرنا وابن خيرنا وياسيد نا وابن سيدنا فقال : يا ايها الناس قولوا بقولكم ولا يستهوينكم الشيطان انا محمد عبد الله ورسوله ما احب ان ترفعوني فوق منزلتي التي انزلني الله عز وجل
Orang-orang mengatakan/memanggil beliau SAW: Hai yang terbaik dari kami dan anak yang terbaik dari kami dan hai Imam kami dan anak imam kami. Maka beliau berkata : Wahai manusia katakanlah dengan kata kamu sekalian/panggillah aku seperti panggilan sebagian kamu pada yang lain. Sungguh janganlah kamu mengikuti rayuan syethan. Saya adalah Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya, saya tidak suka kalian mengangkat aku melebihi derajatku yang Allah berikan padaku.
Hadits seperti ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dari sahabat Abdullah Bin Syahir dengan riwayat yang bagus.

Sebenarnya memanggil Rosululloh SAW dengan panggilan “Sayyid” itu wajar karena beliau adalah pemimpin ummat Islam dan kata sayyid diantara maknanya adalah pemimpin dan kepala. Namun diantara maknanya adalah yang mulia dan tuhan, maka beliau tidak mau dipanggil sayyid karena khawatir ummatnya akan berlebihan memanggil beliau yang pada akhirnya akan mensekutukannya dengan Allah. Apabila ini terjadi maka ummat islam akan tercerai berai dan hilanglah kekuatan umat Islam dan mereka akan dikuasai oleh ummat lain.
Imam Thobroni merwayatkan hadits dari sahabat Ubadah Bin Shomid :
انه في زمن رسول الله صلم : منافق يوذوا المؤمنين وقال بعضهم :قوموا بنا نستغيث برسول الله صلم من هذا المنا فق, فقال النبي صلم : انه لا يستغاث بي وانما يستغاث با لله
Sesungguhnya pada zaman Rosulullah SAW ada orang munafiq yang menyakitkan orang-orang mukmin dan berkata sebagian mereka : Marilah kita minta tolong kepada Rosulullah SAW dari munafiq ini. Maka Rosulullah SAW bersabda : Sesungguhnya janganlah aku dimintai tolong sesungguhnya yang dimintai tolong adalah Allah.

Sesunguhnya Rosululloh SAW bisa menolong mereka misalnya bersama mereka berdo’a kepada Allah agar munafiq ini diberi kesadaran. Namun Rosuulloh SAW menolaknya karena khawatir sesudah beliau wafat ada orang yang istighotsah kepadanya. Dan Apabila ini terjadi maka mereka sudah melakukan syirik akbar, satu-satunya dosa yang Allah tidak akan mengampuninya kecuali dengan taubat.

Demikian Rosulullah SAW menjaga umatnya agar tetap bersih tauhidnya tidak ternoda oleh syirik agar mereka beribadah hanya kepada Allah saja tidak kepada selain Allah, agar mereka berdo’a kepada Allah saja karena yakin berdoa kepada selain Allah adalah syirik akbar dan mereka supaya beristighotsah kepada Allah saja karena mengerti bahwa istighotsah kepada selain Allah adalah syirik besar.

Rosululloh SAW lebih suka dipanggil Abdullah sebagaimana Allah menyebutnya didalam surat Jin ayat 19 dan lebih senang dipanggil Nabi Allah sebagaimana Allah memanggilnya dalam surat Al-Ahzab ayat 45 dan lebih bangga dipanggil Rosululloh sebagaimana Allah memangilnya dalam surat Al-Maidah ayat 76. Beliau bangga dengan panggilan seperti ini untuk menjaga ummatnya agar tidak berlebihan mengagungkannya yang berujung menyembahnya sebagaimana orang-orang nasrani menyembah Nabi Isa AS.

Mencintai Rosululloh SAW bukanlah dengan cara memuji dan mengagungkannya yang melampaui haknya tapi dengan mengikuti sunnahnya sebagaimana yang diisyaratkan Allah dalam surat Ali Imron ayat 31 :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Akan tetapi orang-orang yang mengaku Islam dan menisbatkan dirinya orang berilmu, namun didalam hatinya tertanam benih syirik, mereka tidak mau mengikuti sunnah Rosululloh SAW bahkan mendurhakai perintahnya dan senang melakukan larangannya. Mereka mengagungkan Rosululloh yang melampaui haknya, mereka memuji beliau dengan kalimat yang dilarangnya sebagaimana orang-orang Nasrani memuja Nabi Isa AS. Dan sudah menjadi budaya sebagian ummat Islam memuja Rosululloh SAW dengan kata-kata yang sudah jelas termasuk syirik akbar, sebagaimana yang ditulis Busairi didalam kitabnya Burdah :
يا اكرم الخلق مالي من الود به . سواك عند حلول الحادث العمم
Wahai semulia-mulia makhluq, tidak ada bagiku orang yang aku berlindung kepadanya.
Kecuali paduka ketika terjadi bencana yang merata

Adapun bait-bait berikutnya adalah memuji beliau SAW yang melampaui haknya sampai kepada derajat ketuhanan menyamai dengan sifat–sifat Alloh. Ia berdoa kepada Rosululloh SAW agar beliau melepaskannya dari kesulitan-kesulitan hidup, dan ia berlindung dengan beliau SAW agar terhindar dari bencana yang menakutkan. Penyair dan pembacanya sudah tertipu rayuan syethan yang menjerumuskan untuk melakukan kejahatan yang paling besar tapi mereka menyangka telah melakukan kebaikan. Mereka melakukan syirik akbar, satu-satunya dosa yang tidak terampuni, tapi mereka merasa mencintai Rosululloh SAW. Padahal mencintai Rosululloh SAW yang dibenarkan dan diterima Alloh adalah dengan mengikuti sunnahnya dan menolong agamanya.

11. Melarang melampaui batas mencintai orang-orang sholeh.
Apabila mengagungkan Rosululloah SAW yang melampaui haknya itu dilarang, maka mengagungkan orang-orang sholeh yang melampaui haknya pastilah sangat dilarang.

Adapun yang dimaksud melampaui hak orang-orang sholeh ialah mengagungkan melampaui kedudukannya dengan melakukan perbuatan yang tidak boleh dilakukan kecuali kepada Alloh saja, misalnya meminta tolong kepada mereka agar lepas dari kesulitan, towaf mengelilingi kubur mereka, tabarruk dengan kain pembungkus nisan kubur mereka,menyembelih kurban dikubur mereka dan lain sebagainya.

Syethan telah merayu kaum Nabi Nuh AS agar mereka mengagungkan orang-orang sholeh melampaui haknya yang berujung pada perbuatan dosa besar yaitu syirik akbar, satu-satunya dosa yang akan melempar mereka ke neraka untuk selama-lamanya.

Sekarang umat islam sedang dirundung malapetaka yang mengerikan, yaitu mengagungkan orang-orang sholeh yang telah meninggal melampaui haknya. Syethan telah merayu para pengabdi kubur agar mereka mencintai orang-orang sholeh dengan cara mendirikan rumah diatas kubur mereka, membangun nisan dan bahwa berdoa disisi kubur orang sholeh adalah terkabul. Kemudian meningkat ketingkat kedua yaitu bahwa berdoa dan bertawasul dengan mereka adalah cara berdoa yang dikabulkan oleh Alloh. Kemudian naik ketingkatan ketiga yaitu meminta syafaat kepada mereka, minta dilapangkan rizkinya, minta dapat jabatan, lulus ujian sekolah, haji berulang-ulang, dapat membayar hutang dan minta terpenuhi kebutuhannya. Maka kubur orang-orang sholeh ini menjadi berhala dan rumah yang berdiri diatasnya menjadi tempat ibadah. Setiap tahun diadakan acara ibadah besar-besaran yang mereka namakan haul yang diikuti puluhan ribu jamaah dan mereka merasa puas dan bangga dapat mengikuti acara haul ini, padahal perbuatan mereka adalah dosa besar dan dilarang Rosululloh SAW. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dari sahabat Abu Huroiroh ra, Rosululloh SAW bersabda :

لا تجعلوا قبرى عيدا وصلوا علي فان صلاتكم تبلغني حيث كنتم
“Janganlah kalian menjadikan kuburku upacara tahunan dan bacalah sholawat untukku, sungguh sholawatmu sampai padaku dimanasaja kamu berada”

Pada acara ini kain penutup batu nisan diganti yang kemudian disobek-sobek dan diberikan kepada jamaah dengan mahar ratusan ribu rupiah, bahkan kain pembungkus batu nisan kepala dilelang dan laku puluhan juta rupiah. Mereka rela mengeluarkan uang sebanyak ini karena didorong keyakinan syirik. Mereka lebih percaya kepada ruh orang-orang sholeh daripada Alloh SWT.


Pengabdi-pengabdi kubur ini tidak berhenti disini, mereka naik ketingkat keempat yaitu menganjurkan kepada umat Islam agar berdoa minta kepada orang-orang sholeh yang telah meninggal apabila mempunyai hajat. Melalui pengajian-pengajian mereka mengajak umatnya untuk ziarah kubur orang-orang sholeh apabila mempunyai hajat atau sedang kesulitan. Dengan beberapa bus mereka berkeliling kubur orang-orang sholeh dengan keyakinan akan keluar dari kesulitan dan terpenuhi hajatnya. Karena keyakinan syirik ini mereka berani meremehkan Rosululloh SAW :
قال رسو ل الله صلم : لا تشد الرحال الا الى ثلاثة مساجد مسجدى هذا والمسجد الحرام والمسجد الاقصى (رواه مسلم عن ابى سعد الحضرى)

“Janganlah kamu sekalian menyiapkan kendaraan kecuali kepada tiga masjid, masjidku ini, masjid Haram dan masjid Aqsa”

Dihadapan kubur orang sholeh mereka merengek memangilnya yang mereka yakini hidup didalam kubur ini, minta kelapangan rizki, kekayaan, jodoh, anak dan dikabulkan hajatnya.
Kalau diberitahu bahwa perbuatan mereka ini adalah syirik akbar, mereka marah dan menuduh merendahkan orang-orang sholeh, tidak mencintainya bahkan menuduh sesat. Maka mereka meningkat kederajat yang kelima yaitu membenci para dai yang mengajak tauhid, memusuhi ulama warosatul anbiya’ dan dengki kepada orang-orang yang menghidupkan sunnah Rosululloh SAW dan para sahabatnya. Padahal orang-orang yang mendapat petunjuk adalah mereka yang mengikuti sunnah, sebagaimana firman Alloh dalam surat Taubah ayat 100 :
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”

Dibawah panji cinta orang-orang sholeh mereka tertipu dan menipu umat yaitu menganjurkan umat agar menjauhi ahli tauhid, melarang umat mengikuti pengajian ulama ahli tauhid dan melarang anak-anak Islam belajar di madrasah-madrasah yang beraqidah ahlu sunnah wal jamaah. Padahal orang-orang yang mencintai orang-orang sholeh adalah mereka yang menebarkan amal sholeh mereka serta mendoakannya. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Al-Hasyr ayat :10 :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

Pekerjaan para pengabdi kubur orang-orang sholeh dan orang-orang yang mengaku ahli agama tapi tertipu ini mengakibatkan sunah menjadi mungkar, bid’ah menjadi sunnah dan umat Islam berbudaya bid’ah, khurofat dan syirik.
Ahli Tauhid yang menghidupkan sunnah Rosululloh SAW dan para sahabatnya menjadi terasing ditengah-tengah umat Islam yang mayoritas. Hal ini sudah diberitahu Rosululloh SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh banyak Imam hadits diantaranya Ibnu Majah dari sahabat Anas Bin Malik ra :

ان الاسلام بدأ غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبا للغرباء
“Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana bermula, beruntung orang-orang asing”

Syaihul Islam Ibnu Taimiyyah berfatwa:
“Setiap orang yang berlebihan mengagungkan Nabi atau orang-orang sholeh dan menjadikan baginya salah satu macam sifat ilahiyah seperti mengucapkan : Yaa syeh Badawi tolonglah aku, bantulah aku, berilah aku rizki, maka perkataan ini adalah syirik besar. Setiap orang Islam yang melakukan syirik dan sesat harus diperintah taubat dan apabila tidak mau harus dihukum....”
Karena Alloh Ta’ala mengutus utusan dan menurunkan kitab supaya Dia disembah dan tidak disekutukan, tidak berdoa kepada Alloh dengan menyertakan orang lain. Orang-orang yang berdoa kepada Alloh dengan menyekutukan yang lain seperti Isa Al-Masih, malaikat, berhala-berhala tidaklah mereka berkeyakinan bahwa yang diminta-minta itu menciptakan mahluq, yang menurunkan hujan tapi hanyalah untuk mendekatkan kepada Alloh ( Q.S. Az-Zumar ayat:3) dan supaya memberi pertolongan disisi Alloh (Q.S. Yunus ayat:18). Maka dari itu Alloh mengutus utusan-utusan, melarang berdoa kepada siapapun selain Alloh SWT, tidak doa ibadah dan tidak doa istighosah.

12. Gambar menjadi perantara kepada syirik.
Gambar adalah memindahkan bentuk sesuatu dengan coretan-coretan diatas kertas, kain atau papan dan menatah sesuatu menjadi bentuk sesuatu.

Ulama menaruh bab gambar ini pada bab aqidah karena gambar menjadi perantara syirik. Pertama kali syirik dibumi ini adalah sebab gambar yaitu ketika kaum Nabi Nuh dirayu syethan untuk membuat patung orang-orang sholeh dan ditaruh ditempat bekas pengajian mereka untuk mengingat jasa-jasa mereka dan mengikuti ibadah mereka, sehingga meningkat menjadi beribadah kepada mereka dan berkeyakinan bahwa arwah orang-orang sholeh tersebut mampu menolong.
Oleh karena itu Rosululloh SAW melarang gambar, mengancam orang-orang yang membuat gambar dan memerintahkan menghancurkan gambar karena gambar menjadi jalan menuju syirik akbar.
Adapun hadits-hadits shoheh yang melarang gambar antara lain ialah :

1. قال رسول الله صلم : قال الله تعالى :ومن اظلم ممن ذهب يخلق كخلقي؟ فليخلقوا ذرة او ليخلقواحبة او ليخلقوا شعيرة (متفق عليه عن ابي هريرة)

Rosululloh SAW memberitahukan: Alloh Ta’ala berfirman : “Siapakah orang yang lebih aniaya daripada orang yang yang membuat seperti ciptaanKu? Maka hendaklah mereka membuat buah-buahan, atau biji-bijian atau gandum”(Hadits Bukhori dan Muslim dari Abu Huroiroh)

2. قال رسول الله صلم : أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهون بخلق الله (متفق عليه عن عائشة)
“Rosululloh SAW bersabda: “Orang-orang yang paling berat siksanya dihari qiyamat adalah mereka yang membuat menyerupai ciptaan Alloh (Hadits Bukhori dan Muslim dari Aisyah)

3. روى مسلم عن ابي الهياج قال: قال لي علي رض : الا ابعثك على ما بعثني عليه رسول الله صلم : ان لاتدع قمثالا الا طمسته ولا قبرا مشرفا الا سويته
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Haiyaj, ia berkata :Berkata kepadaku Ali Ra : Maukah engkau aku utus sebagaimana Rosululloh SAW mengutus kepadaku? Janganlah engkau biarkan patung kecuali engkau hancurkan dan jangan engkau biarkan kubur yang tinggi kecuali engkau ratakan. (Hadits riwayat Jama’ah kecuali Bukhori dan Ibnu Majah)

Hadits ini memerintahkan untuk menghancurkan patung-patung, agar umat aman dari rayuan syethan yaitu syirik dan hadits ini juga memerintahkan menghancurkan semua bangunan diatas kubur, seperti susunan batu nisan, rumah, kubah, masjid dan lain sebagainya karena merupakan wujud dari keberhalaan. Hadits ini merupakan perintah untuk memutus dua jalan besar kearah syirik akbar dan mencegah kecenderungan manusia kepada syirik.

Dizaman kita sekarang ini banyak sekali bangunan diatas kubur sehingga menjadi biasa dimana ini terjadi karena asingnya pemahaman agama Islam dan tertutupnya sunnah dan syiarnya bid’ah serta kebanyakan ulama’ membiarkannya sehingga jadilah yang ma’ruf itu mungkar dan yang mungkar itu menjadi ma’ruf diumumnya negeri-negeri islam.
Maka wajib menyadarkan umat Islam agar mengikuti sunnah Rosululloh SAW dan para sahabatnya serta menjauhi para juru dakwah yang sesat promotor-promotor kebathilan dengan menjelaskan kepalsuan mereka dan menolak kesesatan mereka dan memperingatkan umat Islam dari keburukannya.

Mengurai kerancuan orang-orang musyrik yang digunakan untuk membenarkan syirik mereka dalam tauhid uluhiyyah.

Beredarnya kerancuan keyakinan dan dongeng-dongeng dusta dan melegenda inilah yang menyebabkan kebanyakan orang menjadi sesat dan berkeyakinan syirik. Oleh karena itu ulama wajib membongkar kepalsuannya dan menerangkan kesalahannya supaya orang-orang yang sesat mendapat penjelasan dan orang-orang yang mendapat petunjuk bertambah imannya.

Adapun kerancuan dan kesamaran tersebut antara lain :
1. Tradisi dan budaya nenek moyang
Mereka mempercayai keyakinan syirik ini turun temurun dari nenek moyang mereka tanpa diketahui asal usulnya. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Az-Zuhruf ayat:23 :
وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka

Hujjah dengan tradisi nenek moyang yang sesat dan merasuki hati orang-orang musyrik ini selalu digunakan untuk menolak dakwah para Nabi A.S.
Kaum Nabi Nuh menolak dakwah Nabi Nuh AS sebagaimana firman Alloh dalam surat Mu’minun ayat 23-24 :
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ (٢٣)فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لأنْزَلَ مَلائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الأوَّلِينَ (٢٤)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

Ketika Nabi Sholeh A.S mengajak ummatnya untuk beribadah kepada Alloh saja dan meninggalkan ibadah kepada selain Alloh, maka kaumnya menolak seraya mengatakan :
أَتَنْهَانَا أَنْ نَعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا ﴿هود : 62 ﴾
"apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ?"

Ketika Nabi Ibrahim A.S memperingatkan kaumnya agar meninggalkan berdoa kepada selain Alloh dan berdoa kepada Alloh saja, maka kaumnya membantah :
قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ ﴿الشعراء:74 ﴾
Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian".

Demikian pula ketika Rosululloh SAW memperingatkan kaum Quraisy agar meninggalkan sesembahan selain Alloh dan hanya menyembah kepada Alloh saja mereka menolak dan membantah :
مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلا اخْتِلاقٌ ﴿ص:7 ﴾
Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,

Seperti inilah kerancuan keyakinan orang-orang musyrik, disamping berdoa kepada Alloh mereka juga berdoa kepada selain Alloh bahkan mereka merasa terkabul harapannya apabila berdoa kepada selain Alloh dan apabila diperingatkan agar meninggalkan berdoa kepada selain Alloh, mereka marah dan menolak dengan hujjah telah dilakukan oleh nenek moyang mereka.




2. Kesamaran pengabdi kubur.
Mereka mengira bahwa orang yang mengucapkan syahadat (لااله الا الله) cukup untuk masuk surga, sekalipun melakukan perbuatan syirik dan kafir, apalagi mereka melakukan sholat dan mengucapkan kalimah ini beribu-ribu kali. Mereka lupa bahwa orang-orang munafiq pada masa Rosululloh SAW juga mengucapkan kalimah syahadat, melakukan sholat, ikut jihad bersama Rosululloh SAW tapi mereka masuk neraka yang paling bawah. Ini adalah akibat mereka mengucapkan kalimat syahadat itu tidak didasari jiwa yang bersih dan hati yang tulus. Terbukti mereka berulang-ulang menentang dan melanggar perintah dan ketetapan Rosululloh SAW.
Didalam shoheh Muslim, Rosululloh SAW bersabda:
من قال لااله الا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله ﴿ رواه مسلم عن ابن مالك ﴾
Barang siapa mengucapkan : لااله الا الله dan mengingkari ibadah kepada selain Alloh maka haram hartanya dan darahnya.(Hadits diriwayatkan Muslim dari Ibnu Malik)

Hadits ini menunjukkan ucapan لااله الا الله belum cukup, tapi harus mengingkari ibadah kepada selain Alloh. Oleh karena itu orang-orang yang berdzikir dengan mengucapkan لااله الا الله tapi masih menggantungkan hatinya kepada kubur orang sholeh dan berdoa kepada wali dan orang-orang sholeh yang mereka yakini ruhnya ada dalam kubur tersebut maka rusaklah imannya.
Kepada orang-orang yang sholat dimasjid, Alloh melarang berdoa kepada selainNya, baik kepada nabi, wali dan orang-orang sholeh yang telah meninggal. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Jin ayat 18 :
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu berdo kepada seseorangpun di dalamnya di samping (berdoa kepada) Allah.

3. Kesamaran bahwa orang-orang yang mengucapkan syahadat
محمد رسول الله لااله الا الله dan melakukan sholat tidak akan jatuh kedalam syirik lagi.
Oleh karena itu orang-orang yang membiasakan beribadah disekeliling kubur para wali dan orang sholeh serta berdoa kepada mereka agar terpenuhi kebutuhannya itu tidak dinamakan syirik.
Mereka lupa bahwa orang-orang musyrik dizaman Rosululloh SAW beribadah disekeliling berhala adalah berdoa kepada orang-orang mati yang dipatungkan agar terpenuhi kebutuhannya. Sebagaimana diberitakan oleh Alloh dalam surat Fathir ayat 13 dan 14 :
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ﴿ 13﴾
إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ﴿ 14﴾
Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.
Jika kamu berdoa kepada mereka, mereka tiada mendengar doamu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu

Agar ummat Islam selamat dari fitnah syirik ini, maka Rosululloh SAW melarang ummatnya mengikuti kebiasaan orang-orang Nasrani. Sedangkan puncak penyimpangan dan kesesatan orang Nasrani adalah syirik akbar yaitu berdoa kepada Nabi Isa dan Maria. Sungguh sangat memprihatinkan apa yang dikhawatirkan Rosululloh SAW telah menimpa ummat Islam. Sebagian ummat ini lebih menyukai bahkan bangga mengikuti kebiasaan ummat Nasrani. Mereka beribadah mengelilingi kubur para wali an orang-orang sholeh serta berdoa kepada mereka agar terpenuhi kebutuhannya.
Rosululloh SAW bersabda :
لتتبعن سنن من كان قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا جحر ضب لاتبعتموهم, قيل:يا رسول الله اليهود والنصارى؟ قال:فمن ! ﴿ رواه مسلم عن ابى سعيد﴾
”Pastilah engkau akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta sehingga kalau mereka masuk liang biawak pastilah kamu mengikuti. (Hadits riwayat Muslim dari Abu Said Al-Hudri)

Sekarang ini kubur para wali dan orang-orang sholeh ramai dikunjungi ribuan ummat Islam dari berbagai kota dan negeri. Mereka merasa mensyiarkan Islam karena dipimpin oleh orang yang mereka akui ahli agama karena mampu membaca kitab bahasa arab. Kasihan nasib mereka yang terkecoh oleh orang yang tidak ikhlas dalam beragama.
Sahabat Hudzaifah bertanya kepada Rosululloh SAW tentang keadaan ummat ini sepeninggal beliau :
قال حذيفة : يا رسول الله انا كنا في جاهلية وشر فجاءنا الله بهذا الخير, فهل بعد هذا الخير من شر؟ قال:نعم قلت فهل بعد ذلك الشر من خير قال: نعم وفيه دخن, قلت وما دخنه؟ قال: قوم يستنون يغير سنتي ويهدون بغير هديي تعرفهم وتنكر, قلت: فهل بعد هذا الخير من شر؟ قال:نعم دعاة على ابواب جهنم من اجابهم اليها قذفوه فيها ﴿ متفق عليه﴾
“Hudzaifah ra bertanya : Wahai Rosululloh, kami dulu dalam jahiliyyah dan keburukan kemudian Alloh mendatangkan kebaikan ini, apakah sesudah kebaikan ini akan timbul keburukan? Beliau menjawab : ya ! Aku bertanya: apakah sesudah keburukan ada kebaikan? Beliau menjawab :ya ! dan didalamnya ada asap. Aku bertanya:Apa asapnya? Beliau menjawab : Kaum yang beramal bukan sunnahku dan memberi petunjuk bukan dengan petunjukku. Aku bertanya: Apakah sesudah kebaikan ini akan ada keburukan? Beliau menjawab : ya ! orang-orang yang mengajak kepintu neraka jahanam. Barang siapa yang mengikuti ajakannya ia dilempar keneraka. (Hadits Bukhori Muslim dari Huzaifah ra)

4. Kesamaran tentang syafaat.
Mereka beribadah disekeliling kubur para wali dan orang-orang sholeh, hanyalah mengharap berkah dan syafaat para wali karena mereka ahli ibadah yang dekat dengan Alloh dan mempunyai karomah dan kedudukan disisi Alloh. Maka mereka mengharap syafaatnya agar terkabul doanya dan terpenuhi kebutuhannya. Mereka lupa bahwa keyakinan seperti ini adalah keyakinan orang-orang musyrik pada masa Rosululloh SAW , sebagaimana yang diberitakan Alloh dalm surat Yunus ayat 18 :

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah".

Adapun syafaat itu benar dan ada dihari qiyamat adalah : Pertama; syafaat udzma yaitu syafaat Nabi Muhammad SAW kepada seluruh manusia baik yang kafir maupun Islam. Ketika mereka menderita dan sengsara dipadang mahsyar untuk segera diadili. Syafaat ini diberitakan dalam hadits yang banyak jumlahnya. Yang kedua adalah syafaat sughro yaitu syafaatnya para nabi dan orang-orang sholeh kepada pengikutnya yang melakukan dosa-dosa besar. Syafaat ini harus memenuhi dua syarat yaitu yang memberi syafaat mendapat ijin dari Alloh sebagaimana firman Alloh dalam surat Al-Baqoroh ayat 255:
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya

Adapun yang diberi syafaat, diridloi Alloh, yaitu orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar dan mati tidak mensekutukan Alloh.
Firman Alloh dalam surat Anbiya’ ayat 28:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى
Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah
قال رسول الله صلم : لكل نبي دعوة مستجابة فتعجل كل نبي دعوته واني اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي يوم القيامة فهي نائلة إن شاء الله من مات من امتي لا يشرك بالله شيئا ﴿ رواه مسلم عن ابي هريرة ﴾
Rosululloh SAW bersabda : Setiap nabi punya doa mustajabah, dan setiap nabi telah melakukannya, sedangkan aku menyembunyikan doaku sebagai syafaat untuk ummatku besok dihari qiyamat, insya Alloh diperoleh ummatku yang mati tidak mensekutukan Alloh dengan sesuatu (Hadits riwayat Muslim dari Abu Huroiroh ra )

Dari ayat-ayat ini dan hadits-hadits seperti ini yang banyak jumlahnya, menunjukkan bahwa syafaat tidak boleh diminta kepada orang-orang mati baik nabi, wali atau orang sholeh karena ini adalah syirik dan hanya boleh diminta kepada Alloh saja karena syafaat adalah milik Alloh semata. Alloh berfirman dalam surat Zumar ayat 44 :
قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا
Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya”


5. Kesamaran tentang wasilah.
Mereka berkeyakinan bahwa para wali mempunyai kedudukan dekat dengan Alloh dan diberi karomah yang sangat menakjubkan bahkan setelah meninggal, karomah mereka semakin menyilaukan. Maka mereka menjadikan para wali sebagai perantara untuk menyampaikan doanya kepada Alloh agar terkabul dan terpenuhi hajatnya. Disisi kubur para wali mereka merengek-rengek memanggil-manggil wali yang mereka yakini hidup dalam kubur, minta diberi kelapangan rizki ,diberi kekayaan , diberi anak dan dikabulkan hajatnya.

Karena cinta dunia dan materi mereka melupakan bahwa perbuatan dan keyakinan ini adalah perbuatan dan keyakinan orang-orang musyrik yang dibenci dan dicela Alloh SWT. Sebagaina firman Alloh dalam surat Az-Zumar ayat:3 :
ألا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar

Dalam Tafsirnya Ibu Katsir menjelaskan : Orang-orang musyrik jahiliyyah beribadah dihadapan berhala adalah mohon kepada malaikat yang digambarkan sebagai patung agar menolong mereka menyampaikan doanya kepada Alloh supaya diberi kelapangan rizki dan kebutuhan-kebutuhan dunia. Oleh karena itu mereka mengatakan : tidaklah kami menyembah mereka kecuali untuk mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.

Apa yang mereka namakan wasilah ini sudah jadi budaya ditengah-tengah ummat Islam, bahkan sebagian ummat telah masuk lebih dalam lagi yaitu berdoa langsung kepada wali supaya diberi limpahan kekayaan untuk membayar hutang, sebagaimana doa dalam kitab Manakib Syeh Abdul Qodir Jaelani yang artinya :”Wahai ruh-ruh yang suci dari orang-orang yang gaib dan yang tampak, tolonglah kami supaya berhasil pekerjaan kami dan supaya mudah tercapai kehendak kami dan supaya tegak tujuan kami, aman dari ketakutan tertutup kehinaan kami dan mudah membayar hutang.


Seluruh ulama telah sepakat bahwa doa semacam ini adalah syirik akbar karena sama dengan doanya musyrik jahiliyyah diadapan berhala-berhala mereka dan sama dengan doanya ummat Budha kepada Sidarta Gautama dihadapan berhala Budha dan sama dengan doanya orang-orang Cina dihadapan patung dan gambar nenek moyang mereka.

Penjelasan tentang syirik akbar.

Syirik itu ada dua, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Adapun syirik besar itu meniadakan tauhid dan merupakan dosa yang paling besar yang mana Alloh tidak akan mengampuninya dan pasti pelakunya masuk neraka apabila tidak taubat sebelum meninggal. Adapun macam-macam syirik besar adalah :



1. Syirik karena takut
Yang dimaksud takut disini adalah takut yang didorong kepercayaan gaib, seperti takut kepada berhala, orang yang telah mati, jin atau tempat-tempat yang dikeramatkan.
Orang-orang musyrik berkeyakinan bahwa nenek moyang mereka yang ketika hidup mempunyai kewibawaan, setelah meninggal mampu memberi pertolongan dan mampu mencelakakan orang yang masih hidup. Oleh karena itu mereka mengadakan upacara doa dihadapan patungnya untuk minta keselamatan, kelapangan rizki dan mengalahkan musuh. Sebagaimana diberitakan Alloh dalam surat Hud ayat 54 :
إِنْ نَقُولُ إِلا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ قَالَ إِنِّي أُشْهِدُ اللَّهَ وَاشْهَدُوا أَنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu." Huud menjawab: "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan

Kalau kaum ‘Ad mengancam nabi Hud bahwa sesembahan mereka akan menimpakan penyakit kepadanya, maka orang-orang musyrik jahiliyyah juga menakut-nakuti Rosululloh SAW dengan sesembahan mereka. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Az-Zumar ayat 36 :
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya.

Adapun takut yang didorong oleh hal-hal yang tampak itu tidak termasuk syirik akbar dan takut semacam ini ada dua golongan :
Pertama; Tidak berani menyampaikan kebenaran karena takut kepada orang yang berkuasa atau berwibawa. Misalnya takut mengatakan bahwa berfaham sekuler adalah sesat karena melawan Al-Qur-an dan As-Sunnah, maka perbuatan ini hukumnya haram dan termasuk syirik kecil. Dalam hal ini Rosululloh SAW bersabda :
لا يحقر أحدكم نفسه , قالوا : يا رسول الله كيف يحقر أحدنا نفسه ؟ قال: يرى أمر الله عليه فيه مقال ثم لا يقوله ﴿ رواه ين ماجة عن ابي سعيد الحذرى ﴾
”Jaganlah seorang dari kalian menghina diri sendiri. Mereka (Sahabat) bertanya: ”Wahai Rosululloh bagaimana salah seorang dari kami menghina diri sendiri? Rosululloh SAW menjawab:”Ia melihat perkara yang bagi Alloh harus ia katakan kemudian ia tidak mnegatakannya”.(Hadits riwayat Ibnu Majah dari Abu Said Al-Hudzri)

Kedua; takut karena tabiat manusia, ini tidak tercela bahkan ada yang wajib dilakukan. Misalnya takut kepada musuh yang akan membunuhnya maka ia harus menyelamatkan dirinya.
Sebagaimana yang diberitakan Alloh dalam surat Al-Qosos ayat 20 dan 21 :
وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلأ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ (٢٠)
فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (٢١)

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu"(20)
Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu(21)

Adapun takut yang didorong kepercayaan gaib ini termasuk soko guru agama bahkan penyangga agama yang sangat penting. Oleh karena itu harus ditujukan kepada Alloh saja, dan apabila takut ini ditujukan kepada selain Alloh adalah syirik akbar, satu-satunya dosa yang Alloh tidak akan mengampuninya dan pasti pelakunya sengsara di neraka.

Orang-orang mukmin wajib membangun ibadah dan doanya atas dasar takut dan harapan kepada Alloh SWT. Takut kepada Alloh agar tidak menimpakan siksa, malapetaka, kesempitan dan kesulitan, mengharap kepada Alloh agar melimpahkan rahmatNya. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Al-Anbiya’ ayat 90 :
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.
Sekarang ini ummat Islam sedang dilanda fitnah yang mengerikan dan merata. Kebanyakan mereka lebih takut kepada selain Alloh daripada takutnya kepada Alloh SWT. Apabila mereka bernadzar kepada kubur para wali pastilah mereka tunaikan dan tidak seorangpun yang berani membatalkannya. Dan apabila diperingatkan bahwa nadzar kepada kubur para wali adalah sesat dan harus dibatalkan dengan membayar kifarat, maka mereka marah dan menebar kebohongan yaitu menuduh yang memperingatkan adalah golongan sesat karena benci kepada wali Alloh. Mereka beritakan bahwa timbulnya bencana silih berganti disana sini adalah karena meluasnya golongan yang membenci para wali Alloh. Perkataan dan keyakinan mereka ini seperti perkataan dan keyakinan kaum Tsamud yang memusuhi Nabi Sholeh. Sebagaimana yang diberitakan Alloh dalam surat An-Naml ayat 47 :
قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ
Mereka menjawab: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu". Shaleh berkata: "Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji"

Kita saksikan bahwa kubur para wali setiap hari dikunjungi orang untuk melepas nadzar dan mengharap berkah. Berjuta-juta orang mengalir dan hewan kurban terus berdatangan, sehingga pengurus kubur para wali hidupnya makmur. Mereka tidak merasa bahwa apa yang mereka makan dari sembelihan kurban ini adalah haram yang termasuk diharamkan Alloh dalam surat Al-Maidah ayat 3:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.



2. Syirik Mahabbah
Cinta kepada Alloh adalah pokok agama Islam yang mana semua ibadah beredar padanya. Dengan kesempurnaan cinta kepada Alloh maka sempurna pula agama Islam dan dengan menurunnya cinta kepada Alloh maka berkurang pula tauhid seseorang.

Yang dimaksud cinta disini adalah cinta yang didorong kepercayaan gaib, yaitu cinta yang menetapkan kerendahan dan ketundukan serta mendahulukan yang dicintai daripada yang lain. Cinta ini tidak boleh diberikan kepada siapapun selain Alloh dan apabila cinta ini diberikan kepada selain Alloh maka itu adalah syirik akbar. Cita inilah yang diberitakan Alloh dalam surat Al-Baqoroh ayat 165 :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah

Imam Ibnu Katsir menjelaskan : Orang-orang musyrik jahiliyyah mencintai sesembahan mereka (berhala) sama seperti mencintai Alloh yaitu cinta yang mengagungkan. Tafsir inilah yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Maksudnya mencintai orang mati karena diyakini mampu menolong dan mencelakakan, kemudian dibuat patungnya dan diadakan upacara peribadatan disekeliling patung. Inilah perbuatan syirik orang-orang musyrik jahiliyyah pada masa Rosululloh SAW. Maka mencintai orang-orang sholeh yang telah meninggal dengan membangun kuburnya dan mendirikan rumah diatasnya serta mengadakan peribadatan seperti membaca Al-Qur an, minta kelapangan rizki, minta dipenuhi hajatnya, mengharap berkah dari orang sholeh tersebut adalah sama seperti mencintai Alloh SWT dan termasuk syirik akbar. Inilah yang diceritakan Alloh dalam surat As-Syu’ara ayat 97 sampai dengan ayat 100 :

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٩٧)
إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (٩٨)وَمَا أَضَلَّنَا إِلا الْمُجْرِمُونَ (٩٩)
فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ (١٠٠)

demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata (97)
karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam (98)
Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa (99)
Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa'at seorangpun (100)

Adapun cinta yang didorong kebutuhan lahir seperti cinta rumah, pakaian, kendaraan, harta adalah cinta tabiat dan boleh dilakukan bersama mencintai Alloh. Demikian juga cinta istri, anak dan keluarga ini adalah cinta isyfaq yang juga boleh. Karena kedua cinta ini tidak akan menimbulkan merendahkan dirinya terhadap yang dicintai dan tidak akan menimbulkan mengagungkan yang dicintai seperti mengagungkan Alloh, maka tidak terdapat syirik.

Akan tetapi kedua cinta ini tidak boleh didahulukan daripada cinta kepada Alloh. Maksudnya mencintai dengan kedua macam cinta ini tidak boleh mengakibatkan meninggalkan kewajiban terhadap Alloh atau melakukan perbuatan yang dilarang Alloh. Misalnya cinta pada anak agar mendapat kehidupan yang layak, maka anaknya dimasukkan ke sekolah umum sampai sarjana tetapi tidak membekali dan mendidiknya dengan aqidah shohihah dan syariah. Tindakan ini adalah cinta yang mengakibatkan meninggalkan kewajiban kepada Alloh . Contoh yang lain adalah cinta harta sehingga mengakibatkan meninggalkan zakat atau meninggalkan berjuang menegakkan agama Alloh. Sebagaimana yang difirmankan Alloh dalam surat Taubah ayat 24:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: "jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik

Berdasar ayat ini maka setiap muslim yang melakukannya harus segera taubat kembali kepada Alloh mengajak anak-anaknya mengkaji aqidah shohihah dan mengamalkannya dan mengeluarkan hartanya sebagai zakat dan infaq untuk menegakkan agama Alloh.

3. Syirik doa
Doa adalah wujud ibadah sebagaimana hadits shoheh riwayat Abu Dawud bahwa doa adalah ibadah, bahkan Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits bahwa doa adalah otak ibadah. Oleh karena itu doa hanya boleh ditujukan hanya kepada Alloh, karena orang yang berdoa itu pasti merasa rendah merasa butuh dan tenang kepada yang dimintai dan yakin bahwa yang dimintai itu yang mengetahui keadaannya, mendengar doanya serta mampu memberi apa yang ia minta, sedangkan yang memiliki sifat-sifat seperti ini hanyalah Alloh semata. Alloh berfirman dalam surat Al-Baqoroh ayat 186 :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Oleh karena yang mampu memberi kesenangan, memenuhi kebutuhan manusia, menolak bencana dan mengetahui keadaan manusia hanyalah Alloh, maka doa yang ditujukan kepada selain Alloh adalah syirik akbar karena menyamakan Alloh dengan yang lain. Alloh berfirman dalam surat Fathir ayat 13 dan 14 :
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ﴿ 13﴾
إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ﴿ 14﴾
Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.
Jika kamu berdoa kepada mereka, mereka tiada mendengar doamu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu

Orang-orang berdoa kepada Budha, Isa Al-Masih, para wali dan orang-orang sholeh yang telah dikubur supaya diberi kelapangan rizki, dijauhkan dari bencana, terpenuhi kebutuhannya adalah musyrik karena melakukan ibadah kepada selain Alloh, sebagaimana firman Alloh dalam surat Al-Ahqof ayat 5-6:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ (٥)وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ (٦)
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?
Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka

4. Syirik dalam Tawakkal
Tawakkal maknanya adalah menggantungkan dan menyerahkan. Misalnya : menggantungkan turunnya dana kepada seorang pejabat atau menyerahkan urusan kepada seseorang.
Tawakkal kepada selain Alloh itu ada beberapa macam :

Pertama; tawakkal yang didorong kepercayaan gaib, misalnya tawakkal kepada orang mati, malaikat, jin dan kepada ruh-ruh yang menjaga tempat untuk mendapat perlindungan, kelapangan rizki, syafaat. Ini adalah syirik akbar.

Kedua; tawakkal dalam sebab-sebab lahir, misalnya tawakkal kepada pejabat yang diberi kewenangan memberi atau menolak, pejabat yang diberi kewenangan menghukum atau membebaskan. Ini adalah syirik kecil.
Ketiga; tawakkal yang berupa mewakilkan melakukan pekerjaan paa orang yang mampu melakukannya. Misalnya tawakkal kepada orang untuk jual beli, merakit mobil, membangun rumah dan lain sebagainya. Ini boleh dilakukan. Tetapi tidak boleh tawakkal pada orang dalam hasil pekerjaan, karena yang menentukan hasil pekerjaan adalah Alloh. Manusia boleh merencanakan dan Alloh yang menentukan hasilnya, Maka dalam hasil pekerjaan tetap tawakkal kepada Alloh dan dalam pekerjaan mencapai hasil tawakkal kepada ahlinya.

Adapun tawakkal yang didorong kepercayaan gaib seperti dalam menolak bencana, mendapatkan rizki dan apa saja yang tidak mampu kecuali Alloh itu termasuk ibadah, maka harus hanya kepada Alloh saja. Apabila tawakkal ini kepada selain Alloh, maka adalah syirik akbar. Alloh berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 23 :

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".
Alloh memerintahkan untuk bertawakkal kepadaNya saja dan menjadikan tawakkal ini sebagai syarat iman. Didalam surat Yunus ayat 84, Alloh menjadikan tawakkal sebagai syarat Islam.

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ
Berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri."

Dari kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang tawakkal kepada selain Alloh didalam perkara yang tidak mampu kecuali Alloh seperti kepada orang mati maka hilanglah iman dan islam mereka.

Tawakkal itu tempat berkumpulnya macam-macam ibadah dan tiang utama tauhid dan daripadanya tumbuh amal-amal sholeh. Sungguh orang-orang yang tawakkal kepada Alloh dalam urusan agama dan dunianya, tidak bertawakkal kepada yang lain, maka amal-amal mereka diterima Alloh dan termasuk orang-orang yang diridloiNya.
Oleh karena itu Alloh menjadikan tawakkal ini sebagai sifat utama bagi orang-orang mukmin, seperti dalam firman Alloh dalam surat Al-Anfal ayat 2 :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Akan tetapi tawakkal kepada Alloh ini tidak boleh meninggalkan sebab, karena Alloh menentukan ketetapan itu terkait erat dengan sebab. Alloh ta’ala memerintahkan melakukan sebab yang harus diikuti tawakkal kepadaNya saja. Melakukan sebab merupakan kepatuhan kepada Alloh ta’ala karena ini adalah perintahNya dan merupakan perbuatan lahir, sedangkan tawakkal adalah perbuatan hati . Alloh ta’ala memerintahkan melakukan sebab seperti dalam surat Jumuah ayat 10, surat An-Nisa’ ayat 71, surat Al-Anfal ayat 60 :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الجمعة : 10)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ (النساء : 71 )

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ (الانفال:60)


- Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.(Al-Jumuah :10)
- Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu (An-Nisa’:71)
- Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)(Al-Anfal:60)

Imam Ibnu Rajab rahimahulloh mengatakan : Amal yang harus dilakukan setiap hamba itu ada tiga :
Pertama; melakukan ketaatan yang diperintahkan Alloh yang menjadi sebab selamat dari neraka dan masuk surga. Ini wajib diakukan disertai tawakkal kepada Alloh SWT, karena tidak ada daya kekuatan kecuali dari Alloh SWT. Apa yang dikehendaki Alloh pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi.
Barang siapa yang hanya melakukan salah satu saja, ia berhak mendapat siksa dunia dan akhirat.
Kedua; kebiasaan yang harus dilakukan oleh setiap orang didunia ini dan diperintahkan Alloh pada hambaNya, seperti makan, minum, berteduh dari terik matahari, pakaian tebal untuk menolak dingin dan lain sebagainya. Ini wajib dilakukan dan barang siapa yang melakukan salah satunya saja ia tak mendapat hukuman.
Ketiga; adalah yang biasa dilakukan secara umum, seperti menyiapkan bekal dalam perjalanan. Imam Ahmad dan Bukhori meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas:
كان اهل اليمن يحجون ولا يتزودون ويقولون نحن متوكلون فأنزل الله هذه الاية : وتزودوا فان خير الزاد التقوى

“Adalah orng-orang Yaman menunaikan ibadah haji tidak membawa bekal dan mereka mengatakan : kami orang-orang tawakkal, maka turunlah ayat : “Berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”.

Imam Turmudzi meriwayatkan hadits dari Anas Bin Malik ra :
قال رجل : يا رسول الله اعلقها واتوكل او اطلقها واتوكل؟ قال رسول الله صلم : اعقلها وتوكل

“Seorang laki-laki bertanya : Ya Rosululloh, apakah aku mengikatnya dan tawakkal atau aku lepaskan dan tawakkal ?, maka Rosululloh SAW bersabda : ”Ikatlah untamu dan tawakkallah”.

Kedua hadits ini menunjukkan bahwa melakukan sebab dan tawakkal kepada Alloh SWT wajib dilakukan secara bersamaan.


5. Mengharap berkah dengan selain Alloh
Mengharap berkah dengan pohon, batu, petilasan dan bangunan yang dikeramatkan adalah syirik besar, karena menggantungkan harapannya kepada selain Alloh, misalnya mengusap atau mencium batu nisan kubur para wali dan orang-orang sholeh, menyimpan sobekan kain bekas tutup nisan kubur para wali dengan harapan mendapat berkah dari ahli kubur tersebut. Ini semua termasuk syirik akbar yang melakukan harus segera taubat.
عن أبي واقد الليث قال: خرجنا مع رسول الله صلم الى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر وللمشركين سدرة يعكفون عندها ويعلقون بها اسلحتهم يقال لها ذات انواط فمررنا يسدرة فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات انواط فقال رسول الله صلم: الله اكير انها السنن قلتم والذى نفسي بيده كما قالت بنواسرائيل لموسى –اجعل لنا انها كمالهم ألهة قال انكم قوم تجهلون-لتركبن سنن من قبلكم (رواه الترمذى وصححه )
”Hadits dari Abu Waqidi Al-Laitsi berkata : Kami keluar menyertai Rosululloh SAW ke Hunain dan baru saja meninggalkan kafir dan orang-orang musyrik itu mengagungkan pohon bidara yang mereka kelilingi dan mereka menggantungkan pedang-pedang padanya supaya mendapat berkah, pohon itu dinamakan ”yang bergelantungan” Ketika kami melewati pohon itu kami berkata : Ya Rosululloh buatlah untuk kami tempat menggantungkan pedang seperti tempat menggantungkan pedang mereka. Maka Rosululloh SAW bersabda: Allohu Akbar, itukah jalan yang kamu katakan. Demi Alloh itu seperti permintaan Bani Isroil kepada Nabi Musa AS : Buatkanlah tuhan untuk kami seperti tuhan mereka , Nabi Musa menjawab: Sesungguhnya kalian kaum yang bodoh. Rosululloh melanjutkan sabdanya : Kalian akan mengikuti jalan yang ditempuh orang-orang sebelum kalian. (Hadits shoheh riwayat Turmudzi)

6. Sihir
Sihir ialah mantera-mantera yang dibaca terus menerus kemudian ditujukan kepada benda-benda yang diracik sedemikian rupa untuk mencelakakan, menjadikan orang sakit atau mempengaruhi pikiran dan perasaan orang.
Di Indonesia macam sihir yag terkenal adalah : Santet; untuk membunuh, teluh; untuk menjadikan orang sakit dan pengasih; untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan orang. Ini semua adalah syirik akbar, karena menyerupai perbuatan Alloh, yaitu mematikan, membuat sakit atau mempengaruhi perasaan dan pikiran dengan cara gaib. Apalagi cara kerja mereka itu dengan minta tolong kepada syethan, jin dan roh-roh jahat yang mereka hayalkan dengan bermacam-macam sesaji.
Mula-mula ada ilmu sihir ialah dua malaikat yang diturunkan Alloh SWT dinegeri Babilon yaitu Harut dan Marut untuk mengajar sihir Sebagaimana yang diberitakan Alloh dalam surat Al-Baqoroh ayat 102 :
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ
Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat,

7. Perdukunan
Perdukunan ialah pengakuan mempunyai ilmu gaib seperti meberitakan apa yang akan terjadi pada diri seseorang, menunjukkan barang-barang yang hilang dan pencurinya dengan cara-cara yang tidak nalar. Misalnya memantra air dalam belanga kemudian anak yang belum baligh disuruh melihatnya, membaca mantra sambil memejamkan mata kemudian dibawah sadar menceritakan hal-hal yang gaib.
Hanya Alloh yang mengetahui hal gaib, maka orang-orang yang mengaku mengetahui adalah syirik akbar karena mensejajarkan dirinya dengan Alloh. Dan Alloh tidak menampakkan yang gaib ini kepada siapapun kecuali kepada utusanNya yang diridloiNya. Alloh berfirman dalam surat An-Naml ayat 65 dan surat Jin ayat 26-27 :
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ (النمل:65)

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (الجين :٢٦)
إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ ... (الجين :٢7)

- Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah (An-Naml:65)
- (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu (Al-Jin:26)
- Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya(Al-Jin:27)

Orang-orang yang meyakini adanya orang yang mengetahui gaib adalah syirik akbar, karena menyamakan orang dengan Alloh.
Rosululloh SAW bersabda:
من اتى عرافا فسئله عن شيئ فصدقه بما يقول لم تقبل له صلاته اربعين يوما (رواه مسلم في صحيحه عن بعض النبي صلم)
Barang siapa yang datang pada peramal dan bertanya sesuatu kemudian ia membenarkan apa yang dikatakannya, maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari.
من اتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلم (رواه ابو داود عن ابي هريرة)
Barangsiapa mendatangi dukun kemudian ia membenarkan apa yang dikatakannya maka ia telah mengkafiri pada apa yang diturunkan keoada Nabi Muhammad SAW (Hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Huroiroh ra)
من اتى كاهنا فسئله عن شيئ حجبت عنه التوبة اربعين ليلة فان صدقه بما قال كفر (رواه الطبراني عن وائلة بن الاسقع )
Barangsiapa datang kepada dukun kemudian menanyakan sesuatu kepadanya maka tertutuplah taubatnya selama 40 malam dan apabila ia membenarkan apa yang dikatakan dukun itu maka ia telah kafir (Hadits riwayat Thobroni dari Wailah Bin Asqo’)

Yang harus diwaspadai adalah orang-orang yang membuat kerusakan dibumi yaitu tukang sihir, dukun dan para peramal. Sebagian dari mereka menampakkan diri sebagai tabib yang mengobati orang sakit, pada hakikatnya mereka adalah para perusak aqidah ummat, karena memerintahkan menyembelih kurban kepada selain Alloh, membuat jimat yang harus dipakainya, memerintahkan mengadakan upacara doa istighotsah kepada para wali. Sebagian lagi menampakkan sebagai peramal, maka datanglah orang-orang menanyakan barang yang hilang dan ia pun menceritakan dimana barang tersebut dan bagaimana ciri-ciri orang yang mengambilnya. Sebagian yang lain menampakkan kekebalan yang dikatakan sebagai karomah dari Alloh, misalnya masuk kedalam api, memukulkan pedang pada badannya, menusuk bagian tubuhnya dengan benda tajam dan lain sebagainya. Semua ini adalah perbuatan syethan yang akan merusak aqidah ummat dan menghancurkan iman ummat Islam. Wajib bagi ummat Islam untuk mewaspadainya dan menjauhinya dan pemerintah harus melarangnya agar ummat selamat dari tipu dayanya. Sebagaimana yang dilakukan kholifah kedua Umar Bin Khattab RA :
عن بجالة بن عبدة قال:كتب عمر ابن الخطاب ان اقتلوا كل ساحر وساحرة (رواه البخارى في صحيحه)
Dari Bajalah Bin Ubadah mengatakan : Umar Bin Khtattab menulis surat supaya menghukum mati tukang sihir (Hadits riwayat Bukhori dalam shohehnya)

8. Nujum
Nujum adalah berpegang dan bergantung kepada hal ihwal bintang untuk kejadian dibumi atau akan terjadi.
Nujum ini ada dua macam :
Pertama; Keyakinan kepada bintang akan melakukan perubahan dibumi, misalnya terbitnya bintang yang orang arab jahiliyyah menamakan Nauk akan menurunkan hujan. Terbitnya bintang berekor berhari-hari bahkan berbulan-bulan akan menimbulkan kekacauan dibumi. Keyakinan ini syirik total, karena ada selain Alloh yang menciptakan sesuatu dan ada selain Alloh yang mengatur alam diluar kehendak dan takdirNya. Ini adalah syirik rububiyyah. Dan setelah peristiwa alam ini mereka mengadakan upacara ibadah berupa doa bersama dengan tata cara tertentu. Ini adalah syirik Uluhiyyah.
Kedua; adalah berpegang pada perjalanan bintang-bintang tertentu untuk menetapkan yang akan terjadi dibumi ini, misalnya akan timbul wabah penyakit dan banyak kematian, bahkan untuk meramal nasib seseorang. Misalnya orang yang lahir pada buruj kaus, maka ia sakit serius pada buruj tsaur atau Qomar dan ia akan mati pada buruj saroton atau qomar dan apabila ia selamat sampai umur 40 tahun, ia akan hidup sampai umur 80 tahun. Seterusnya perjalanan bintang ini digunakan untuk meramal tempat tinggalnya, jodohnya, rizkinya, perjalanan yang membahayakan dan sebagainya.
Keyakinan ini adalah syirik akbar karena tidak ada satu makhluq dilangit dan dibumi ini yang mengetahui gaib. Sebagaimana firman Alloh dalam surat An-Naml ayat 65 :
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ
Katakanlah: "tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah"

Maka barang siapa meyakini pada bintang menunjukkan hal-hal yang akan terjadi, berarti ia mensekutukan bintang dengan Alloh. Dan barang siapa meyakini ramalan ahli nujum maka ia telah mensekutukan ahli nujum itu dengan Alloh SWT.
Imam Khottobi mengatakan : Ilmu nujum yang dilarang ialah apa yang diakui dan diberitakan ahli nujum tentang apa yang akan terjadi. Mereka mengira dari perjalanan bintang-bintang, bertemunya bintang-bintang dan berpisahnya bintang-bintang akan mengakibatkan kejadian-kejadian dibumi. Ini adalah menetapkan yang gaib, padahal tidak ada yang mengetahui gaib kecuali Alloh.
Adapun berpegang pada bintang untuk mengetahui arah dalam perjalanan didarat dan dilaut itu boleh dilakukan, karena ini bukan perkara gaib. Alloh berfirman dalam surat Al-An am ayat 97:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut

Ilmu falaq yang mempelajari perjalanan bintang, matahari, bulan untuk menetapkan arah qiblat, waktu sholat, awal bulan, waktu ibadah haji, kapan gerhana dan lain sebagainya itu baik dipelajari dan diamalkan karena merupakan ilmu kauniyah musyahadah dan merupakan rahmat serta nikmat Alloh. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Yunus ayat 5:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak

Imam Khottobi mengatakan : Adapun ilmu falaq yang ditemukan dengan jalan musyahadah itu tidak dilarang.
Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Mujahid bahwa ia tidak berpendapat buruk kepada orang-orang yang mempelajari manzil-manzil bulan.

SYIRIK KECIL YANG DAPAT JADI SYIRIK AKBAR

1. Tiyaroh.

Tiyaroh adalah merasa akan mendapat sial dengan tingkah laku binatang, misalnya suara burung siyak dimalam hari, merasa kerabatnya yang sakit segera meninggal. Melindas kucing dijalan, meyakini akan mendapat musibah maka kucingnya dimandikan dan dikubur bahkan ditahlilkan. Akan mengurus pekerjaan kemudian bertemu ular melintas dijalan, merasa pekerjaannya akan gagal dan sebagainya.
Setiap mukmin yang menjumpai hal- hal seperti ini wajib berjuang menghapus perasaannya, memupus keyakinannya dan minta tolong kepada Alloh SWT, tawakkal kepadaNya kemudian meneruskan perjalanannya sambil berdoa :
اللهم لا يأتي بالحسنات الا انت ولا يدفع السيئات الا انت لاحول ولاقوة الا بك
Ya Alloh, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau dan tidak ada yang menolak keburukan kecuali Engkau dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali daripadaMu.

Tatoyyur adalah penyakit ummat yang lampau yaitu sejak zaman Nabi Ibrohim AS. Orang-orang musyrik berkeyakinan bahwa tumbuhnya kekeringan yang mengakibatkan kekurangan bahan makanan dan kematian ternak adalah dakwah para Nabi dan orang-orang beriman. Sebagaimana diberitakan Alloh dalam surat An-Naml ayat 47 tentang kaum Tsamud kepada Nabi Sholeh AS :
قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَك
Mereka menjawab: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu"

Demikian pula Fir’aun dan kaumnya ketika tertimpa musibah mereka tatoyyur kepada Nabi Musa AS :
وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ (الاعراف:131)
dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya

Tidak ketinggalan pula orang-orang musyrik Makkah juga tatoyyur kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana firman Alloh dalam surat An-Nisa’ ayat 78 :
وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ
dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)"

Seperti itulah agama orang-orang musyrik sejak zaman dahulu sampai sekarang sama saja, mereka menyakini adanya keburukan dan bencana selain dari Alloh, bahkan mereka menisbatkan bencana itu dari orang-orang terbaik dimuka bumi ini yaitu para nabi dan orang-orang beriman. Ini semua karena telah tertanamnya kesyirikan didalam hati mereka dan fitroh mereka tertutup dengan macam-macam keyakinan khurofat. Seandainya pikiran mereka jernih dan jiwa mereka bersih pastilah mereka mengetahui bahwa kebaikan dan keburukan itu semuanya dari Alloh. Kebaikan adalah anugrah dari Alloh merupakan balasan atas perbuatan taat dan keburukan adalah keadilan Alloh sebagai imbalan perbuatan maksiat. Sebagaimana firman Alloh SWT dalam surat An-Nisa’ ayat 79 :
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri

Tatoyyur adalah tipu daya syethan yang menyusupkan waswas kedalam hati manusia sehingga menimbulkan rasa kawatir dan takut akan ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya. Ini meniadakan tawakkal. Tatoyyur adalah syirik karena bergantung kepada selain Alloh dan meyakini adanya kemadlorotan dari makhluq yang tidak memiliki kemadlorotan dan kemanfaatan bagi dirinya.
Dalam hadits shoheh Bukhori Muslim dari Abu Huroiroh ra Rosululloh SAW bersabda :
لاعدوى ولاطيرة ولاهامة ولا صفر
Tidak ada orang sakit menularkan penyakitnya, tidak ada binatang menimpakan sial, tidak ada burung malam memberi alamat kesialan dan tidaklah bulan safar membawa celaka.
Hadits dari Ibnu Mas’ud, Rosululloh Saw bersabda :
الطيرة شرك الطيرة شرك
Menyakini adanya binatang membawa sial adalah syirik.

Hadits sohih Muslim dari Mu’awiyyah Bin Hakim ia berkata :
ومنا اناس يتطيرون قال : ذالك شيئ يجده في نفسه يصدنكم
Dari kami ada orang-orang yang meyakini binatang pembawa sial, Rosululloh SAW bersabda : Itu adalah sesuatu yang mengganggu didalam hatinya, maka janganlah sekali-kali menghalangi kamu (pekerjaanmu)

Dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Keyakinan pada binatang menimpakan celaka atau membawa sial adalah syirik akbar dan pelakunya harus segera taubat.
2. Keyakinan pada tingkah laku binatang sebagai alamat dari Alloh SWT akan ada sial bagi dirinya adalah syirik kecil yang harus ditolak karena bisa mengarah kearah syirik akbar.
3. Orang yang menemui hal-hal seperti ini kemudian merasa khawatir, ia tidak boleh membatalkan niatnya atau menghentikan pekerjaannya tapi harus tawakkal kepada Alloh dan meneruskan perjalanannya sambil berdoa :
اللهم لا خير الا خيرك ولا طير الا طيرك ولااله غيرك
“Ya Alloh, tidak aa kebaikan kecuali kebaikanMu dan tidak ada sial kecuali sialMu dan tidak ada sembahan selain Engkau.

2. Menisbatkan hujan pada Anwak.
Maksudnya ialah menisbatkan hujan pada terbitnya bintang atau terbenamnya, sebagaimana keyakinan orang-orang jahiliyyah, bahwa terbitnya bintang ini atau terbenamnya bintang itu akan mengakibatkan turun hujan. Mereka mengatakan kami diberi hujan oleh nauk ini dan nauk itu, mereka juga mengatakan jika terbitnya bintang ini akan turun hujan.
Yang dimaksud dengan anwak ialah beredarnya bintang yang berjumlah delapan belas setiap 13 malam terbenam satu dan fajarnya terbit gantinya satu. Dan semuanya habis dalam satu tahun komariyah. Ketika pada fajar terbit satu bintang dan sorenya tenggelam satu bintang orang arab jahiliyyah yakin akan turun hujan.

Keyakinan ini dibatalkan oleh islam dan dilarang karena turunnya hujan kembali kepada kehendak Alloh dan takdirNya. Alloh berfirman dalm surat Al-Waqiah ayat 75-82 :
فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ (٧٥)وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (٧٦)إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (٧٧)فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (٧٨)لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ (٧٩)تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٨٠)أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ (٨١)وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ (٨٢)
75. Maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.
76. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui.
77. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
79. Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.
80. Diturunkan dari Rabbil 'alamiin.
81. Maka Apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?
82. Kamu mengganti rezki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.

Maksud ayat 82 ialah : hujan yang merupakan rizki yang turun dari Alloh dinisbatkan pada bintang, sehingga mereka mengatakan kami diberi hujan oleh bintang ini dan bintang itu. Perkataan ini adalah dusta karena bintang-bintang itu tidak ada kekuasaan menurunkan hujan dan yang menurunkan hujan hanyalah Alloh SWT.
Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Turmudzi, Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim dari sahabat Ali Bin Abi Tholib ra bahwa Rosululloh SAW bersabda :
وتجعلون رزقكم انكم تكذبون, تقولون مطرنا بنوء كذا وكذا وبنجم كذا وكذا
Kamu jadikan rizkimu (untuk) mendustakan karena kamu katakan kami diberi hujan oleh nauk ini dan itu oleh bintang ini dan itu.
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits dari Zaid Bin Kholid ia bercerita :
صلى لنا رسول الله صلم صلاة الصبح بالحديبية على اثر سماء كانت من الليل , فلما انصرف اقبل على الناس فقال:هل تدرون ماذا قال ربكم؟ قالوا الله ورسوله اعلم , قال : قال: اصبح من عبادى مؤمن بي وكافر , واما من قال مطرنا بفضل الله ورحمته فذلك مؤمن بي وكافر بالكوكب واما من قال مطرنا بنوء كذا وكذا فذلك كافر بي ومؤمن بالكوكب
Rosululloh SAW sholat subuh untuk kami di Hudaibiyah setelah turun hujan tadi malam, ketika selesai beliau menghadap manusia seraya bersabda : Apakah kalian tahu yang dikatakan Tuhanmu? Mereka menjawab: Alloh dan RosulNya lebih tahu. Kemudian beliau bersabda : Tuhanmu berfirman : Sebagian hambaKu jadi iman kepadaKu dan kafir; adapun orang yang mengatakan kami mendapat hujan karena karunia Alloh dan rahmatNya, maka itulah iman kepadaKu dan kafir kepada bintang, dan adapun orang yang mengatakan kami mendapat hujan karena bintang ini dan bintang itu, maka itulah yang kafir kepadaKu dan iman kepada bintang.

Dari ayat dan hadits-hadits tersebut, kesimpulannya adalah sebagai berikut :
1. Orang yang mengatakan : hujan ini karena bintang ini dan bintang itu dengan keyakinan bahwa bintang-bintang itu yang menurunkan hujan, maka ini adalah syirik akbar dan pelakunya harus segera taubat.
2. Adapun orang yang mengatakan hujan ini karena bintang ini dan bintang itu dengan keyakinan bahwa hujan turun karena kehendak dan taqdir Alloh dan biasanya turun hujan ketika terbit bintang ini dan tenggelamnya bintang itu maka ini adalah syirik kecil yang harus dijauhi.

3. Menisbatkan nikmat kepada selain Alloh.
Nikmat yang diterima manusia baik lahir maupun batin semuanya dari Alloh dan merupakan anugrah Alloh SWT, tidak ada satu nikmat yang lepas dari kehendak dan takdir Alloh SWT.
Alloh berfirman dalam surat Ibrahim ayat 34 dan surat Luqman ayat 20 :
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (٣٤)
dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ(20)
Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan

Dari kedua ayat tersebut dan ayat-ayat lain yang senada dengan kedua ayat ini menunjukkan bahwa nikmat yang diterima manusia seluruhnya adalah anugrah Alloh SWT, maka menisbatkan nikmat kepada selain Alloh merupakan pengingkaran kepada Alloh SWT.

Didalam Al-Qur an Alloh SWT menceritakan tentang kaum yang mengingkari nikmat yang diberikan Alloh pada mereka dan menisbatkan nikmat tersebut kepada selain Alloh SWT. Misalnya dalam surat Fusilat ayat 50 :
وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَى فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ (٥٠)

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku Maka Sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya." Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.

Didalam surat Al-Qosos ayat 77 sampai dengan ayat 78, Alloh SWT menceritakan tentang kejahatan Qorun. Ia diberi harta yang melimpah sampai bergudang-gudang, tapi harta itu tidak digunakan untuk bersyukur kepada Alloh SWT bahkan digunakan untuk berfoya-foya dan berbangga-bangga. Ketika diperingatkan oleh ulama’ ia menjawab bahwa harta ini diperoleh karena ilmu yang ia kuasai :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (٧٧)قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
78. Karun berkata: "Sesungguhnya aku diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku"

Di surat Fusilat ayat 50, orang yang diberi limpahan harta itu mengatakan ini hakku, aku peroleh karena kemampuanku; sedangkan Qorun mengatakan : harta ini aku peroleh karena ilmuku. Keduanya tidak mengakui bahwa harta yang mereka peroleh adalah karunia Alloh yang harus disyukuri bahkan mereka menisbatkan harta tersebut pada kemampuannya dan ilmunya. Mereka tidak menyadari bahwa kekuatan ekonomi dan ilmu hanyalah sarana yang terkadang menghasilkan dan tidak menghasilkan sedangkan yang menentukan hasilnya adalah Alloh SWT, maka dari itu mereka diancam siksa yang berat diakhirat

Didalam hadits shohih Bukhori dan Muslim dari Abu Huroiroh , Rosululloh SAW menceritakan bahwa tiga orang dari Bani Isroil yang satu bule yang kedua botak yang ketiga buta. Alloh memerintahkan malaikat untuk menguji mereka, maka mulailah datang kepada si bule seraya bertanya : “Kamu minta apa?” Si bule menjawab : “Saya minta kulit yang bagus”, maka malaikat mengusapnya dan kulit si bule menjadi mulus putih bersih, kemudian malaikat bertanya lagi: “Harta apa yang lebih engkau suka?” orang itu menjawab : “Onta”, maka diberilah ia onta yang bunting.
Selanjutnya malaikat mendatangi si botak seraya bertanya : “Kamu minta apa?” Si botak menjawab : “Saya minta rambut yang bagus”, maka malaikat mengusap kepalanya dan tumbuhlah rambut yang bagus, kemudian malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang lebih engkau suka?” orang itu menjawab : “Sapi”, maka diberilah ia sapi yang bunting.
Selanjutnya malaikat datang kepada si buta seraya bertanya : “Kamu minta apa?” si buta menjawab : “Saya minta melihat”. Kemudian malaikat mengusap matanya dan iapun sembuh dari kebutaannya. Kemudian malaikat bertanya lagi : “Harta apa yang lebih engkau suka?” orang itu menjawab : “Kambing”, maka diberilah ia kambing yang banyak anaknya. Maka beranak pinak ternak mereka sehingga masing - masing memiliki lembah peternakan.
Rosululloh SAW melanjutkan ceritanya : kemudian datanglah malaikat kepada si bule seraya berkata : “Saya orang miskin telah putus tali dalam perjalananku, maka aku minta ontamu untuk menyampaikan perjalananku”, maka orang yang asalnya bule itu menjawab : “Hak yang banyak”, maka malaikat berkata : “Apakah engkau tidak mengakui bahwa harta ini pemberian Alloh SWT?” Orang itu menjawab : “Harta ini warisan dari orangtuaku”. Kemudian malaikat mendatangi si botak seraya berkata seperti kepada si bule dan jawabnya sama dengan si bule. Kemudian malaikat mendatangi si buta seraya berkata : “Saya miskin dan anak jalan, telah putus tali perjalananku dan tidak akan sampailah tanpa pertolongan Alloh kemudian pertolonganmu”, maka aku minta kambingmu untuk menyampaikan perjalananku. Orang yang asalnya buta itu menjawab : “Ambillah sekehendak hatimu, aku tidak keberatan kambing-kambing yang engkau ambil karena Alloh”. Maka malaikat itu berkata : “Tahanlah hartamu, aku hanya menguji kalian, Alloh telah meridloi kamu dan murka kepada kedua sahabatmu”.
Kesimpulan :
1. Perkataan : Harta ini aku peroleh karena syafaat Syeh Abdul Qodir Jaelani adalah syirik akbar.
2. Perkataan : Kemakmuran ini karena kerja pemerintah tanpa ada perasaan karunia dari Alloh SWT adalah syirik besar.
3. Perkataan : Aku sembuh karena diobati dokter Fulan dengan keyakinan yang menyembuhkan Alloh adalah syirik kecil.
4. Perkataan : Aku disembuhkan Alloh karena diobati dokter Fulan adalah perkataan yang baik dan berjiwa tawakkal.

4. Memakai benda yang diyakini bertuah
Banyak orang yang yakin kepada benda-benda yang memiliki kekuatan gaib. Misalnya akik badar besi yang diyakini mampu mengebalkan orang yang memakainya, tidak akan luka dari amukan senjata tajam, bahkan senjata api tidak mampu melukai dirinya. Besi aji yang berupa keris juga diyakini mempunyai kekuatan gaib. Misalnya keris singkir geni yang diyakini mampu menyelamatkan rumah dari kebakaran sekalipun semua rumah disekelilingnya habis terbakar.
Penulis pernah menyaksikan seorang kyai yang memakaikan akik badar besi pada salah seorang muridnya kemudian murid yang lain disuruh menusukkan pisau belati pada betisnya. Aneh kelihatannya, betis yang ditusuk dengan belati yang runcing dan diayunkan dengan kuat, nyatanya tidak luka sedikitpun.
Begitulah Alloh menyesatkan orang yang dikehendaki dan memberi petunjuk pada orang-orang yang dikehendaki. Orang-orang yang rusak aqidahnya dengan mencampur kepercayaannya kepada benda yang dkeramatkan ini, Alloh akan menyesatkan dengan memperlihatkan secercah keajaiban. Orang-orang mukmin yang imannya kokoh dengan kajian Al-Qur-an dan As-Sunnah, mereka mengerti bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Alloh SWT, tidak ada benda dari jenis apapun yang mempunyai kekuatan gaib.
Dalam hadits shoheh Bukhori dan Muslim dari Abu Basyir Al-Anshori, ia menyertai Rosululloh SAW dalam satu perjalanan, kemudian Rosululloh SAW mengutus utusan untuk berseru :
ان لا يبقين في رقبة بعير قلادة من وتر او قلادة الا قطعت
Tidak boleh dibiarkan dileher onta kalung dari tali busur kecuali dipotong
Ini adalah perbuatan orang-orang jahiliyyah yang dilarang Alloh dan bisa menjadi syirik akbar bila pelakunya menyakini bahwa kalung itulah yang menolak penyakit dan menyelamatkan ontanya dari keburukan.
عن عمران ابن حصين رض ان رسول الله صلم رأى رجلا في يده حلقة من صفر فقال : ماهذا ؟ قال : من الواهنة , فقال : أنزعها فانها لاتزدك الا وهنا فانك لو مت وهي عليك ما افلحت ابدا (رواه احمد وصححه ابن حبان والحاكم واقره الذهبي )


Hadits dari sahabat Imron Bin Husain, sesungguhnya Rosululloh SAW melihat orang yang ditangannya memakai gelang dari tembaga, maka Rosululloh SAW bertanya : untuk apa ini? Maka orang itu menjawab : untuk menyembuhkan penyakit tangan. Kemudian Rosulullah SAW bersabda : Buanglah gelang itu, sesungguhnya tidak akan menambah kepadamu kecuali kelemahan dan bila kamu mati tetap memakainya sungguh engkau tidak akan mendapat kebahagiaan surga untuk selama-lamanya.(Hadits riwayat Imam Ahmad dan dishohehkan Ibnu Hibban da Al-Hakim dan diakui Ad-Dzahabi.

Kesimpulan :
1. Memakai benda yang dikeramatkan dengan keyakinan bahwa benda itulah yang menyelamatkan dari bahaya atau menyembuhkan penyakit, maka ini adalah syirik akbar dan pelakunya harus segera taubat.
2. Memakai benda yang dikeramatkan dengan keyakinan bahwa yang menyelamatkan dari bahaya dan menyembuhkan penyakit adalah Alloh SWT sedangkan benda-benda itu hanyalah sebagai sarana adalah syirik kecil yang harus dijauhi.

5. Memakai dan menggantung azimat
Azimat adalah mantera-mantera yang ditulis pada kertas, kain atau kulit binatang. Mantera ini ditulis dengan huruf arab dan berbahasa arab yang dicampur dengan bahasa ibrani, gambar-gambar, garis-garis dan titik-titik. Oleh karena itu tidak mudah dimengerti apa makna yang dimaksud mantera-mantera itu.
Ada yang ditulis pada sepotong kain kecil kemudian dibungkus agar tidak rusak. Banyak orang percaya bahwa azimat ini dapat menyembuhkan penyakit dan terhindar dari macam-macam penyakit. Oleh karena itu mereka selalu membawanya, melekatkan pada tubuhnya dan menggantungkan diatas pintu rumahnya.

Ada yang ditulis pada sesobek kain kemudian ditaruh dalam ikat pinggang dari kulit kemudian dijahit. Ada yang dibatik pada kain berbentuk rompi dan ikat kepala. Azimat ini dipercaya dapat menghindarkan orang dari marabahaya. Banyak orang yang percaya bahwa barang siapa memakai azimat semacam ini, ia akan selamat bila ditimpa bahaya.
Kepercayaan ini adalah syirik karena menggantungkan kekuatan gaib kepada selain Alloh. Orang-orang mukmin tidak boleh percaya pada azimat-azimat dan tidak boleh mengharap keselamatan dari azimat karena yang mampu menolak bahaya hanyalah Alloh SWT semata.
Alloh berfirman dalam surat Yunus ayat 100 :
وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (١٠٦)وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ(١٠7)
106. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kamu kalau begitu Termasuk orang-orang yang zalim".
107. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya

Adapun orang-orang yang masih percaya pada azimat dan menambatkan hatinya kepadanya serta mengharap pertolongan padanya adalah termasuk orang-orang yang terbelenggu kepercayaan syirik
عن ابن مسعود سمعت رسول الله صلم يقول : ان الرقى والتمائم والتولة شرك (رواه احمد وابو داود )


“Hadits dari Ibnu Mas’ud ia mendengar Rosululloh SAW bersabda : Sesungguhnya mantera dan azimat dan pengasih adalah syirik . )Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud(.

Ruqo adalah mantera yang dibaca kemudian ditiupkan kepada kulit binatang yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.
Tiwalah adalah azimat yang digunakan agar istri dicintai suaminya atau pria dan wanita saling cinta.
Orang-orang yang percaya pada azimat dan menggunakannya sebagaimana tersebut adalah termasuk orang-orang yang terbelenggu keyakinan syirik.
عن عقبة بن عامر ان رسول الله صلم يقول : من تعلق تميمة فقد اشرك (رواه احمد)

Dari Uqbah Bin Amir bahwa Rosululloh Saw bersabda : Barang siapa menggantungkan azimat, sungguh ia telah mensekutukan Alloh.

Kesimpulan :
1. Memakai azimat dan sebangsanya dengan keyakinan bahwa itulah yag menyembuhkan penyakit, menyelamatkan dari bahaya adalah syirik akbar dan pelakunya harus segera taubat.
2. Memakai azimat dengan keyakinan bahwa yang menyembuhkan dari sakit adalah Alloh dan yang menyelamatkan dari bahaya adalah Alloh SWT, sedangkan azimat hanyalah perantara adalah syirik kecil yang harus dijauhi karena akan meningkat menjadi syirik akbar.










SYIRIK KECIL

Syirik kecil itu dapat mengurangi tauhid, maka Alloh dan RosulNya memperingatkan kita agar berhati-hati jangan sampai melakukannya, supaya aqidah kita terlindungi dan tauhid kita terjaga, sebab syirik kecil itu bisa menggiring kearah syirik akbar.

Dalam menafsiri ayat 22 Surat Al-Baqoroh yang artinya : “Janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Alloh, sedang kamu mengetahui”, Ibnu Abbas ra mengatakan : sekutu yaitu syirik yang lebih samar daripada merayapnya semut diatas batu hitam dikegelapan malam. Yaitu ucapan : kalau tidak ada anjing ini kami kedatangan maling, atau seseorang berkata kepada kawannya : apa yang dikehendaki Alloh dan engkau kehendaki, atau ucapan kalau tidak Alloh dan Fulan, tidak jadi masjid ini. Janganlah jadikan perkataanmu Fulan (bersama Alloh) ini semua syirik. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim)

Ibnu Abbas ra menjelaskan bahwa ucapan-ucapan tersebut adalah syirik, maksudnya syirik kecil. Ibnu Abbas ra menggunakan ayat yang maksudnya syirik besar untuk syirik kecil, karena kebanyakan orang mengucapkan kata-kata tersebut sebagai mempermudah dan tidak merasa kalau syirik kecil bisa merayap kearah syirik besar.

Adapun macam-macam syirik kecil ialah :
1. Bersumpah dengan selain Alloh
Syirik kecil ini seperti dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan disohehkan Imam Hakim dari sahabat Umar ra bahwa Rosululloh SAW bersabda :
من حلف بغير الله فقد كفر اواشرك
Artinya : “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Alloh maka sungguh kafir atau syirik”

Ucapan Rosululloh kafir atau syirik mungkin makna au adalah wa, artinya kafir dan syirik maksudnya kafir kecil dan syirik kecil.

Sekarang ini banyak orang yang bersumpah dengan selain Alloh, misalnya dengan Nabi SAW atau ucapan : “demi hidupku dan hidupmu…..” Ucapan sumpah seperti ini adalah syirik karena sumpah dengan sesuatu adalah mengagungkan sesuatu tersebut. Sedangkan yang wajib diagungkan hanyalah Alloh SWT, maka sumpah dengan selain Alloh adalah syirik.

Ibnu Mas’ud mengatakan :
لان أحلف بالله كاذبا أحب الي من ان احلف بغير الله صادقا
Artinya : Dusta yang dikokohkan dengan sumpah dengan Alloh lebih aku sukai daripada kebenaran yang dikokohkan dengan sumpah selain Alloh.
Sudah diketahui secara umum bahwa sumpah palsu termasuk dosa besar, maka para sahabat Rosululloh memahami bahwa sumpah dengan selain Alloh adalah lebih besar dosanya.

Maka dari itu setiap muslim wajib berhati-hati jangan sampai mengucapkan sumpah dengan selain Alloh mengingat begitu besar dosanya. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Nafi’, Rosululloh SAW bersabda :
ان الله ينهاكم ان تحلف بأباءكم من كان حالفا فليحلف بالله او ليصمت
Artinya : Sesungguhnya Alloh melarang bersumpah dengan bapak-bapakmu, barang siapa bersumpah hendaklah bersumpah dengan Alloh atau diam

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Imam Ahmad dari Abdullah Bin Umar, Rosululloh SAW bersabda kepada Umar :
لا تحلف بأبيك فانه من حلف بغير الله فقد أشرك
Artinya : Janganlah kamu bersumpah dengan bapakmu, sesungguhnya orang yang bersumpah dengan selain Alloh sungguh telah syirik.

2. Syirik dalam perkataan
Termasuk syirik kecil adalah syirik dalam perkataan misalnya ucapan :”dikehendaki Alloh dan engkau kehendaki”.
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Nasa’i dari Kutailah, bahwa orang-orang Yahudi datang pada Nabi SAW, maka Nabi SAW berkata :
انكم تشركون تقولون : ما شاء الله وشئت وتقولون : والكعبة فأمر هم النبي صلم : اذا اردوا ان يحلفوا ان يقولوا : ورب الكعبة وأن يقولوا : ماشاء الله ثم شئت

Artinya : Engkau mensekutukan, engkau mengatakan apa yang dikehendaki Alloh dan engkau kehendaki dan engkau bersumpah demi Ka’bah. Maka Nabi memerintah kepada mereka : Jika mereka ingin bersumpah hendaklah mengatakan : Demi Tuhan Ka’bah dan hendaklah mereka katakan : Apa yang dikehendaki Alloh kemudian engkau kehendaki.
Imam Nasa’i meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra :
ان رجولا قال للنبي صلم : ما شاء الله وشئت فقال : أجعلتني لله ندا؟ قل : ما شاء الله وحده
Artinya : Seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW : Apa yang dikehendaki Alloh dan engkau kehendaki, maka Nabi bersabda : Apakah engkau menjadikan aku sekutu bagi Alloh? Katakanlah : Apa yang dikehendaki Alloh saja.

Kedua hadits tersebut dan hadits-hadits yang sama maknanya menunjukkan bahwa perkataan : apa yang dikehendaki Alloh dan engkau kehendaki dan perkataan-perkataan yang serupa misalnya : kalau tidak Alloh dan engkau ……., adalah dilarang. Sebab kata dan (و) itu menunjukkan sama antara Alloh dan orang, ini adalah syirik. Maka wajib kata dan itu diganti dengan kata kemudian ( ثم ), karena kata kemudian itu menunjukkan tartib, menjadi : apa yang dikehendaki Alloh kemudian engkau kehendaki.

Demikian ini karena kehendak manusia itu sesudah kehendak Alloh dan apa yang dikehendaki manusia itu tidak akan terwujud apabila tidak dikehendaki Alloh. Alloh berfirman dalam surat At-Taqwir ayat 29 :
وما تشاءون الا ان يشاء الله
Artinya : Dan kamu tidak dapat menghendaki, kecuali apabila dikehendaki Alloh.

3. Syirik dalam niat dan tujuan
Termasuk syirik kecil adalah syirik niat dan tujuan yang mana juga disebut syirik tersembunyi. Syirik niat dan tujuan ini ada dua macam :
a. Riya’,
maksudnya ialah menampakkan amal dan ibadah supaya dipuji atau tidak dicela orang, misalnya sodaqoh untuk orang tuanya yang baru meninggal dengan tata cara tradisi masyarakat setempat karena mengikuti tradisi dan takut dicela orang. Dan ibadah haji supaya dihormati orang dan dipercaya ummat sebab mereka sebagai pejabat atau orang kaya. Orang-orang ini ibadahnya tidak berdampak positif pada ummat bahkan cenderung menyengsarakan . Kalau sedang menjabat mereka memeras rakyat dengan macam-macam pajak pungutan yang memberatkan untuk kemudian dikorup, dan kalau kaya mereka tidak mengeluarkan zakat dan melupakan kewajibannya berjuang menegakkan agamanya.
Alloh mengancam mereka dengan adzab, sebagaimana dalam Surat Ma’un ayat 4-7 :

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦)وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧)
Artinya :
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. Orang-orang yang berbuat riya
7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna

Termasuk riya’ adalah menceritakan amalnya atau membicarakannya dengan nada membanggakan.
Alloh berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 110 :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya : Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Imam Ibnu Qoyyim berkata mengenai makna ayat ini : amal soleh ialah amal yang bersih dari riya’ dan sesuai dengan As-Sunnah.
Imam Muslim meriwayatkan hadits Qudsi dari Abu Huroiroh ra, Alloh berfirman :
انا أغني الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه
Artinya : Aku tidak butuh sekutu, barang siapa yang beramal dengan mensekutukan Aku dengan yang lain dalam amal itu, Aku meninggalkan amal itu dan sekutunya

Imam Ibnu Rajab mengatakan : riya ada beberapa macam:
Pertama; riya’ asli yang biasa dilakukan orang-orang munafiq, sebagaimana firman Alloh dalam Surat An-Nisa’ 142 : Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Alloh dan Alloh membalas tipuan mereka dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ dihadapan manusia. Riya’ ini jarang amat dilakukan orang-orang mukmin dalam sholat dan puasa tapi banyak dilakukan oleh orang-orang mukmin dalam sodaqoh dan haji dan amal-amal lain yang ada manfaatnya dalam kehidupannya.
Kedua; amalan yang dilakukan karena Alloh tapi dicampuri riya’ sejak dari awal, maka berdasarkan nash yang shoheh menunjukkan bahwa amal itu batal tidak berpahala.

Ketiga; amal yang dilakukan karena Alloh kemudian menyusul riya’ ditengah-tengah amal atau sesudahnya. Apabila riya itu segera ditolak, maka riya tersebut tidak membatalkannya dan amalnya tetap berpahala dan apabila riya’ itu terus menerus menyertainya, maka terdapat perbedaan pendapat antara ulama’. Imam Ahmad dan Ibnu Jarir memilih bahwa amalnya tidak batal dan berpahala sesuai niat pada awalnya.

b. Beramal dengan tujuan keuntungan dunia.
Termasuk syirik niat dan tujuan ialah melakukan amal dengan maksud mendapat keuntungan dunia. Misalnya, mengeluarkan sodaqoh untuk menyelenggarakan pengajian dimana-mana dengan tujuan agar dirinya dikenal ummat yang nanti akan dipilih menjadi kepala daerah. Dan belajar agama dengan tujuan menjadi pegawai negeri yang akan mendapat gaji tanpa bersusah-susah. Dan mengajar agama Islam disekolah-sekolah atau madrasah-madrasah karena mendapat gaji dari pemerintah.
Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits shoheh dari sahabat Abu Huroiroh ra, menceritakan bahwa Rosululloh SAW bersabda :
من تعلم علما مما يبتغي به وجه الله لا يتعلمه الا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة
Artinya : Barang siapa yang belajar ilmu yang semestinya dipelajari untuk ridlo Alloh, tapi ia tidak mempelajari kecuali untuk mendapat harta dunia, maka ia tidak akan menemukan bau sorga besuk dihari qiyamat.
Dalam shoheh Bukhori diberitakan bahwa orang yang tujuan amalnya untuk dunia, maka ia menjadi hamba dunia.
Dari Abu Huroiroh ra memberitakan bahwa Rosululloh SAW bersabda :
تعس عبد الدينار تعس عبد الدرهم تعس عبد الخميصة تعس عبد الخميلة ان اعطي رضي وان لم يعط سخط تعس وانتكس واذا شيك فلا انتقس
Artinya : Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba pakaian, celaka hamba beludru. Jika diberi ia rela jika tidak diberi ia marah. Celaka dan terjungkal, jika tertusuk duri, ia tidak bisa mencabut.
Orang-orang yang syirik seperti ini tampak sebagai orang sholeh, mensiarkan agama Islam bahkan menjadi pemimpin dimasyarakatnya, tapi kalau diamati jelaslah bahwa kegiatan mereka itu karena tugas dan jabatannya serta tunduk kepada atasannya. Mereka tidak ada semangat untuk jihad menegakkan syareat di ummat Islam yang mayoritas bahkan tidak peduli anak didiknya untuk memahami agama dengan benar sehingga setelah menyelesaikan pendidikannya mereka berpola pikir dan bergaya hidup sekuler yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Alloh berfirman dalam Surat Hud ayat 15-16 :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ (١٥)
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٦)

Artinya :
15. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan

Syirik niat dan tujuan ini bisa menjadi syirik akbar, yaitu apabila semua aktifitas hidupnya hanya ditujukan untuk dunia, sedangkan untuk akhirat hanyalah sholat dan dzikir itupun kerap ditujukan untuk dunia. Menyelenggarakan pendidikan untuk kehidupan dunia, berkeluarga, bekerja, bermasyarakat, bernegara dan ...... hanyalah untuk kebutuhan dan kepentingan hidup didunia.
Mereka itulah orang-orang yang berpandangan hidup sekuler, perbuatan dan pekerjaan apapun asal bermanfaat dan menguntungkan dalam kehidupan didunia ini mereka halalkan tidak memperdulikan larangan Alloh dan RosulNya. Mereka menghalalkan bunga bank, hadiah karena jabatan, suap dianggap hadiah, wanita menampakkan auratnya dihadapan umum, mengidolakan selebritis dan ....
Bahkan untuk meraih harta dan jabatan mereka dengan rasa aman dan bangga menempuh jalan yang dilarang oleh Alloh, tidak memperdulikan halal dan haram. Dalam mengatur ummat mereka membanggakan dan meyakini kebenaran sistem demokrasi daripada sistem musyawarah yang diperintahkan Alloh SWT dalam kitabNya. Akibatnya dibuatlah undang-undang dan peraturan-peraturan yang menentang Alloh dan RosulNya, sehingga ummat Islam yang mayoritas ini dalam hidupnya diatur dengan hukum jahiliyyah diabad moderen ini. انا لله وانا اليه راجعون
Disatu sisi mereka menyembah Alloh SWT tapi disisi lain mereka mengabdi pada harta dan nafsunya. Merekalah yang diberitakan Alloh dalam Surat Al-Jatsiyat ayat 23 :
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ
Artinya : Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Firman Alloh dalam Surat Hud ayat 16 tersebut diatas, pantas dan pas untuk mereka, karena Alloh telah memberikan apa yang mereka inginkan dalam hidup disunia ini, harta, wanita, kehormatan dan kesenangan apa saja yang mereka inginkan telah dipenuhi Alloh SWT, maka diakhirat mereka tidak akan mendapat apa-apa kecuali neraka untuk selama-lamanya.

4. Memaki masa dan sebangsanya.
Termasuk yang mengurangi tauhid dan menodai aqidah adalah memaki masa dan memaki angin dan sebangsanya, karena yang demikian itu berarti menyandarkan keburukan dan kejahatan kepada makhluq yang tidak tahu apa-apa, maka pada hakikatnya adalah mengarahkan kepada Alloh SWT yang menciptakan dan mengaturnya.
Yang benar, bahwa kejadian apa saja dialam ini pasti ada yang menciptakan dan mengaturnya yaitu Alloh SWT. Maka orang-orang yang memaki masa atau menisbatkan suatu kejadian kepada masa adalah termasuk syirik, karena ada pengertian bahwa masa itu bisa mencelakakan dan memberi manfaat, padahal yang kuasa seperti itu hanyalah Alloh SWT sedangkan masa hanyalah makhluq yang diaturNya.
Imam Bukhori dan Muslim dan yang lain meriwayatkan hadits dari Abu Huroiroh ra dari Rosululloh SAW mengabarkan bahwa Alloh SWT berfirman :
يؤذيني ابن أدم يسب الدهر وانا الدهر أقلب الليل والنهار
Artinya : Anak Adam menyakitkan Aku, ia memaki masa dan Akulah masa, Aku yang mensilihgantikan malam dan siang.

Hadits ini menunjukkan bahwa memaki masa adalah menyakitkan Alloh SWT karena masa itu hanyalah makhluq tidak tahu apa-apa, maka memaki masa berarti secara tidak langsung memaki Alloh SWT, karena Alloh SWT yang menciptakan dan mengaturnya.
Sebagian salaf menceritakan bahwa orang-orang jahiliyyah kalau ditimpa kekeringan mereka mengeluh :”kami ditimpa bencana masa, masa yang membinasakan, aduhai masa yang mengagalkan” . mereka menyandarkan bencana dan kegagalan kepada masa, bukan kepada Alloh SWT. Pada satu keadaan mereka yakin kepada Alloh dan berdoa kepada Alloh, tapi pada keadaan yang lain mereka menyandarkan bencana kepada masa, maka jadilah mereka orang-orang yang syirik akbar sehingga mereka tidak percaya hari peradilan kelak diakhirat. Sebagaimana firman Alloh dalam Surat Al-Jatsiyat ayat 24 :
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ
Artinya : Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

Oleh karena itu orang-orang mukmin harus menjauhi mengucapkan kalimat seperti itu untuk menjaga kemurnian aqidah mereka dan menyelisihi orang-orang kafir.
Termasuk memaki masa adalah memaki angin, karena angin putting beliung, angin kencang yang memporak porandakan rumah-rumah dan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan adalah perintah Alloh SWT. Maka memaki masa dan angin berarti memaki yang menciptakan dan mengaturnya yaitu Alloh SWT. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dengan sanad yang shoheh dari sahabat Abu Ka’ab ra, menceritakan bahwa Rosululloh SAW bersabda :
لا تسب الريح فاذا رأيتم ما تكرهون فقولوا : اللهم انا نسئلك خير هذه الريح وخير ما فيها وخير ما أمرت به ونعوذ بك من شر هذه الريح وشرما فيها وشرما أمرت به
Artinya : Janganlah kamu memaki angin, kalau kamu melihat apa yang tidak kamu senangi, maka berdoalah : Ya Alloh kami minta kepadaMu kebaikan dari angin ini dan kebaikan didalam angin dan kebaikan apa saja dari angin yang Engkau perintah. Dan kami berlindung denganMu dari keburukan angin ini dan keburukan apa saja dalam angin dan keburukan apa saja dari angin yang engkau perintah.

Adapun memaki makhluq seperti ini mendatangkan beberapa kerusakan :
1. Memaki kepada sesuatu yang tidak berhak dimaki, karena dia adalah makhluq yang tidak tahu apa-apa dan diatur secara mutlaq.
2. Memaki kepada makhluq seperti ini berarti memaki yang menciptakan dan mengaturnya yaitu Alloh SWT.
3. Memaki makhluq seperti ini mengandung unsur syirik karena ada pengertian bahwa makhluq ini mampu mencelakakan dan memberi manfaat, padahal yang mampu hanyalah Alloh SWT.

Seharusnya setiap muslim mengembalikan setiap kejadian dialam ini kepada Alloh SWT dan minta kebaikannya serta berlindung kepadaNya dari keburukannya. Tidak boleh dilupakan bahwa musibah dari kejadian-kejadian ini adalah takdir dari Alloh SWT dan disebabkan oleh perbuatan manusia. Sebagaimana firman Alloh dalam Surat Syuro ayat 30
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya : Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
Musibah yang menimpa manusia juga sebagai peringatan karena mereka telah menyimpang dari jalan Alloh dan melakukan dosa-dosa yang mereka anggap biasa, supaya mereka taubat kembali kejalan kebenaran yang ditunjukkan Alloh SWT. Sebagaimana firman Alloh dalam Surat Al-a’rof ayat 168 :
وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya : dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).
Bencana yang melanda dimana-mana silih berganti karena mayoritas ummat mendukung pemimpinnya yang memusuhi dan menindak rakyatnya yag memperjuangkan tegaknya agama Alloh SWT sebagaimana firman Alloh dalam Surat Al-A’rof ayat 130 :
وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya : Dan Sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.


5. Kata seandainya ketika mendapat musibah atau kegagalan.
Kata yang tidak boleh diucapkan karena mengurangi aqidah dan dilarang oleh Rosululloh SAW adalah kata seandainya ketika mendapat musibah atau kegagalan. Misalnya : seandainya ia ikut ngaji ia tidak mendapat kecelakaan, seandainya anak-anakku aku masukkan pesantren mereka akan berbakti kepadaku dan tidak ada yang durhaka kepadaku seperti ini.
Kalimat seperti ini menimbulkan perasaan tidak sabar dan menyesali sesuatu yang sudah terlampaui yang tidak akan kembali, bahkan akan menimbulkan kelemahan iman pada qodlo’ dan takdir serta membuka peluang untuk menanamkan keraguan dan waswas.
Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Huroiroh ra bahwa Rpsululloh SAW bersabda :
المؤمن القوي خيرواحب الى الله من المؤمن الضعيف, وفي كل خير أحرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجزن, وان أصابك شيئ فلا تقل : لو أني فعلت كان كذا وكذا ولكن قل : قدر الله وماشاء فعل, فان لو تفتح عمل الشيطان

Artinya : Mukmin yang kuat itu lebih disukai Alloh daripada mukmin yang lemah, keduanya masih ada kebaikan. Bersemangatlah kamu pada apa yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah pada Alloh dan sungguh jangan sekali-kali kamu lemah. Jika kamu mendapat satu musibahjanganlah kamu katakan : seandainya aku melakukan, maka jadilah ini dan itu, tapi katakanlah : telah ditakdirkan Alloh, apa yang Dia kehendaki, terjadi. Sesungguhnya kata seandainya membuka peluang syethan.

Rosululloh Saw mengarahkan setiap mukmin melakukan perbuatan yang bermanfaat didunia dan akhirat berupa amal-amal yang disyareatkan Alloh SWT kepada hambaNya, dan pada waktu melakukan perbuatan tersebut disertai doa minta tolong kepada Alloh SWT, karena Alloh yang menentukan hasilnya. Mengumpulkan antara melakukan perbuatan dengan tawakal adalah tauhid. Kemudian beliau melarang bersifat lemah yaitu meninggalkan melakukan perbuatan yang bermanfaat tapi harus bersemangat dan melakukan perbuatan yang bermanfaat. Jika yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dikehendakinya atau mendapat musibah tidak boleh mengatakan : ”Seandainya aku melakukan ini, maka mendapat itu”, karena kalimat ini akan menimbulkan kesedihan dan mencela taqdir padahal sabar adalah wajid dan ridlo pada taqdir adalah iman. Oleh karena itu Rosululloh SAW menujukan mengucapkan kalimat yang mengandung iman pada taqdir yaitu :”telah ditaqdirkan Alloh, apa yang dikehendaki pasti terjadi”.
Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan mengenai makna hadits :”jangan kamu lemah melakukan perintah dan jangan kamu sedih karena taqdir”
Oleh karena itu orang beriman harus selalu bersemangat melakukan perintah dan sabar serta ridlo pada taqdir.
Jangan seperti kelakuan orang-orang munafiq yang ringan mulut mencela taqdir, sebagaimana firman Alloh dalam surat Ali Imron ayat : 154 :
يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَا هُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ

Artinya : mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh"






































SABAR DAN KEDUDUKANNYA DALAM AQIDAH

Dimuka telah dibahas tentang larangan mengatakan seandainya ketika seseorang mendapat musibah dan wajib sabar serta meneliti dosa-dosa dan kesalahan – kesalahan yang telah dilakukan.
Imam Ahmad Bin Hanbal rohimahumalloh mengatakan : “Alloh Ta’ala menyebutkan sabar dalam kitab-Nya sebanyak 70 tempat”.
Dalam hadits shoheh yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Muslim, bahwa Rosululloh SAW bersabda : “Sabar itu cahaya”.
Maksudnya bahwa sabar itu cahaya hidup, sehingga orang yang dianugerahi kesabaran maka hidupnya akan tenang, tentram dan menyenangkan serta menjadi panutan masyarakat sekitarnya.
Imam Bukhori meriwayatkan bahwa Umar Bin Khattab ra mengatakan :
وجدنا خير عيشنا بالصبر
Artinya : Kami temukan sebaik-baik hidup kami dengan sabar
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan bahwa Rosululloh SAW bersabda :
ما أعطي أحد عطاء خيرا وواسعا من الصبر
Artinya : Tidaklah seseorang diberi anugerah yang lebih baik dan lebih luas daripada sabar.
Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits bahwa Rosululloh SAW bersabda :
عجبا لامر المؤمن ان امره كله له خير وليس ذلك لاحد الا للمؤمن ان اصابته سراء شكر فكان خيرا له وان اصابته ضراء صبر فكان خيرا له
Artinya : Mengagumkan urusan orang-orang mukmin, sungguh semua urusan mukmin itu baik baginya. Tidak ada yang demikian itu bavi seseorang kecuali pada orang mukmin, jika ia memperoleh kesenangan ia bersyukur, maka baik baginya dan bila ditimpa keburukan ia sabar maka baik baginya.
Makna sabar ialah mencegah, maksudnya mencegah malas melakukan ketaatan, mencegah melakukan maksiat dan mencegah kesedihan hati, mencegah ucapan keluh kesah dan marah, mencegah menyakiti diri dan merusak benda ketika ditimpa musibah.
Sabar itu ada tiga macam :
Pertama; sabar melakukan perintah Alloh SWT, misalnya perintah tholabul ilmi. Dalam Surah Muhammad ayat 19 Alloh berfirman :
فاعلم أنه لااله الا الله
Artinya : Ketahuilah sesungguhnya tidak ada tuhan (yang haq) kecuali Alloh.

Ayat yang pendek ini dijelaskan oleh beribu-ribu ayat dalam Al-Quran dan dalam hadits Rosululloh SAW, yang intinya bahwa setiap mukmin wajib memahami aqidah yang benar yaitu tauhid dan bahwa tauhid ini tidak boleh dinodai oleh unsur-unsur syirik.
Imam Turmudzi meriwayatkan hadits bahwa Rosululloh SAW bersabda :
فان طلب العلم فريضة على كل مسلم
Artinya : Sesungguhnya mencari ilmu wajib bagi tiap-tiap orang Islam.

Ini bukanlah ilmu sosial, budaya, hukum tapi ilmu aqidah dan syariah, karena hanya dengan kedua ilmu inilah amal dan ibadah setiap muslim diterima Alloh SWT. Maka dari itu Imam Ibnu Ruslan dalam kitab Zubad mengatakan :
كل من بغير علم يعمل # عمله مردودة لن تقبل
Artinya : Tiap-tiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tertolak tidak akan diterima.

Kendala yang menghalangi perintah Alloh ini beragam dan banyak, antara lain ialah nafsu. Banyak orang senang menonton sepakbola bahkan jadi supporter, beramai-ramai menghadiri pentas musik dan karaoke, berjam-jam menonton sinetron di televisi. Banyak sekali orang yang senang membaca novel, majalah berbau porno, tabloid-tabloid mistik, buku – buku ilmiyyah yang mengkritisi aqidah bahkan menyimpang. Mayoritas siswa, siswi dan mahasiswa getol mempelajari ilmu sosial, politik, budaya, hukum dengan tujuan mendapatkan pekerjaan yang layak dan memperoleh uang yang banyak.
Mereka lupa bahwa sebagai manusia yang hidup didunia ini, kewajiban yang pertama kali harus dilakukan adalah mempelajari aqidah shohihah dan syariah, kemudian diamalkannya. Mereka tidak merasa kehilangan mutiara yang menyinari hati untuk memilih jalan hidup yang selamat didunia dan akhirat. Mereka senang dan bangga menempuh jalan hidup yang menuju kesengsaraan diakhirat.
Alloh berfirman dalam surat Al-A’rof ayat 179 :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٧٩)
Artinya : Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

Dakwah mengajak ummat beraqidah shohihah itu membutuhkan sabar, karena dakwah ini butuh pikiran, tenaga dan dana yang harus disiapkan, bahkan akan mendapat perlawanan dari orang-orang yang tidak menyukainya. Alloh berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125 dan 127 :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ (125)
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلا بِاللَّهِ وَلا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ (١٢٧)
Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.(125)
Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.(127)

Amar ma’ruf nahi dan mungkar wajib sabar, karena akan mendapat perlawanan dari para pelaku penyakit masyarakat, perusak aqidah, penguasa yang korup dan tipu daya dari golongan sekuler yang ternyata jadi mayoritas di negeri ini. Alloh berfirman dalam Surat Luqman ayat 17 :
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ
Artinya : Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Yang kedua; sabar menjauhi larangan Alloh. Apa yang dilarang Alloh dan RosulNya, pada umumnya itu menggiurkan, menyenangkan dan merasa nikmat melakukannya. Misalnya : hadiah karena jabatan, minuman keras, narkoba, pacaran, seks diluar nikah, dan sebagainya. Oleh karena menggiurkan dan nikmat, maka orang-orang yang melakukan itu lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang yang meninggalkan. Hanya orang-orang yang sabar sajalah yang mampu meninggalkannya. Sebagaimana Yusuf AS yang diberitakan Alloh dalam Surat Yusuf ayat 23 :

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Artinya : Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.

Yang ketiga; sabar ketika mendapat musibah. Setiap mukmin harus sabar menghadapi musibah apapun yang menimpa dirinya dan ridlo menerima taqdir Alloh SWT serta yakin ada hikmahnya. Musibah adalah apa saja yang menyedihkan, menyakitkan dan menyebabkan penderitaan pada manusia. Misalnya : kegagalan usaha, kehilangan harta benda, sakit yang memberatkan, kecelakaan, kematian orang yang menjadi tumpuan hidup dan lain sebagainya.
Ditinggal suami dan ayah yang menjadi tumpuan hidup adalah berat dan membayangkan penderitaan serta menyedihkan. Namun taqdir Alloh sudah berlaku yang harus diimani karena taqdir merupakan salah satu dari makna iman. Maka harus dihadapi dengan tabah dan sabar, serta ridlo menerima taqdir Alloh dan yakin bahwa Alloh akan menolong orang-orang yang sabar.
Barang siapa yang tidak sabar ketika ditimpa musibah dengan menampakkan kesedihan yang berkepanjangan, menangis, meratap bahkan menyalahkan taqdir, ini menunjukkan kelemahan iman dan mengurangi aqidah. Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Huraoiroh ra bahwa Rosululloh SAW bersabda :
اثنتان في الناس هما بهم كفر : الطعن في النسب والنياحة عن الميت
Artinya : Dua hal didalam manusia yang keduanya meyebabkan mereka kafir : menecemarkan nasab dan meratapi mayit.
Yang dimaksud kafir dalam hadits ini adalah kafir kecil yaitu dosa karena ia mengkafiri nasabnya sendiri dan yang meratapi mayit seolah-olah tidak ridlo pada taqdir.

Alloh menimpakan musibah kepada hambaNya itu mengandung hikmah yang agung antara lain ialah :
a. Menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Turmudzi dari Anas ra bahwa Rosululloh SAW bersabda :
اذا اراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا واذا اراد بعبده الشر امسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة
Artinya : Jika Alloh menghendaki bagi hambaNya baik maka Dia menyegerakan siksaNya didunia. Dan apabila Alloh menghendaki pada hambaNya buruk, maka Dia menahan dosanya sehingga disiksa besok pada hari qiyamat.
b. Memperbesar pahala, sehingga mencapai derajat ridlo, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Turmudzi dari Rosululloh SAW :
ان عظم الجزاء مع عظم البلاء وان الله اذا احب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضى ومن سخط فله السخط
Artinya : Besarnya pahala bersama besarnya ujian. Sungguh jika Alloh mencintai kaum Dia mengujinya, barang siapa yang ridlo maka baginya ridlo dan barang siapa yang marah ia dibenci Alloh.
c. Peringatan kepada kaum karena kesalahan dan dosa-dosa yang mereka lakukan agar taubat dan kembali dijalan Alloh. Sebagaimana firman Alloh dalam Surat Syuro ayat 30 :
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya : Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).



PERKARA LAIN YANG MENIADAKAN TAUHID

1. Sangka buruk pada Alloh.
Sangka buruk pada Alloh adalah bahaya, karena baik sangka pada Alloh adalah kewajiban tauhid sedangkan buruk sangka pada Alloh adalah meniadakan tauhid.
Ketika pasukan Islam mendapat sedikit kekalahan dalam perang uhud dengan banyak yang syahid dan luka-luka, disitulah orang-orang munafik menyangka bahwa Alloh tidak menolong utusanNya dan Islam akan lenyap. Inilah buruk sangka pada Alloh, sebagaimana difirmankan Alloh dalam Surat Ali-Imron ayat 154 :
وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الأمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَا هُنَا
Artinya : sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini"
Imam Ibnul Qoyyim menafsiri ayat ini adalah menyangka bahwa Alloh SWT tidak menolong utusanNya dan agama akan lenyap, bahwa musibah yang menimpanya bukan taqdir Alloh dan hikmahNya, bahwa Alloh tidak akan menyempurnakan agama RosulNya untuk mengungguli semua agama. Inilah sangka buruk orang-orang munafiq dan musyrik didalam Surat Fath ayat 6 :
وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ
Artinya : Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah

Barang siapa yang menyangka bahwa Alloh tidak menolong agamaNya dan orang-orang yang memperjuang-kannya, bahwa Alloh akan memenangkan syirik atas tauhid dan syareatNya tidak bisa diberlakukan untuk selamanya, maka ini adalah sangka buruk terhadap Alloh.
Barang siapa yang menyangka bahwa kemenangan, kekalahan, keberuntungan, kegagalan bukan qodlo’ dan taqdir Alloh, tapi merupakan perbuatan manusia saja, maka demikian ini adalah sangka buruk terhadap Alloh.
Barang siapa yang menyangka bahwa apa yang telah ditaqdirkan Alloh tidak ada hikmah dan tujuan yang terpuji dan menyangka bahwa apa yang ditaqdirkan itu keluar dari kehendak Alloh saja tanpa ada hikmah dan tujuan yang lebih dicintai, maka yang demikian ini adalah sangka buruk terhadap Alloh.
Banyak orang yang berprasangka buruk terhadap Alloh tentang apa yang menimpa mereka dan apa yang diperoleh orang lain kemudian mereka putus asa dari rahmat Alloh dan kelapanganNya. Ini seperti sifat orang kafir sebagaimana firman Alloh dalam Surat Yusuf ayat 87 :
وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Artinya : dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.
Barang siapa menyangka bahwa Alloh membiarkan manusia tanpa perintah dan larangan dan tidak mengutus utusan untuk menyampaikan kitabNya supaya dikaji dan diamalkan serta diikuti sunnahnya, maka inilah sangka buruk terhadap Alloh.
Barang siapa menyangka bahwa Alloh tidak akan mengumpulkan manusia besok dihari qiyamat untuk diadili berdasarkan kitabNya dan memberi pahala berupa surga bagi orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan petunjukNya serta menghukum dengan siksa neraka bagi orang-orang yang menentang, berpaling dan tidak mengamalkan petunjukNya, maka inilah sangka buruk terhadap Alloh.
Barang siapa yang menyangka bahwa Alloh SWT memberitakan tentang diriNya, sifat-sifatNya dan perbuatan-perbuatanNya dengan kata-kata yang tampaknya batal, ada penyerupaan bentuk dan tidak memberitakan yang sebenarnya, tapi dengan perlambang-perlambang dan isyarat-isyarat yang samar agar hambaNya menggunakan kekuatan akal dan perasaannya untuk mena’wilnya, maka ini adalah sangka buruk terhadap Alloh.
Barang siapa yang menyangka bahwa dia dan guru-gurunya yang memberitakan kebenaran dengan jelas dan bahwa kalam mereka itulah petunjuk dan kebenaran karena Kalam Alloh itu sulit dipahami, mereka itulah orang-orang yang bingung dan kacau pikirannya serta sangat buruk sangka terhadap Alloh SWT.
Semua ini adalah penjelasan Imam Ibnul Qoyyim yang saya terjemahkan secara singkat dari kitabnya Zadul Maad.

2. Mengejek sesuatu yang ada sebutan Alloh
Tiap-tiap muslim wajib memuliakan kitab Alloh, RosulNya dan Ulama’ dan wajib mengetahui hukum mengolok-olok sesuatu yang ada sebutan Alloh, Al-Quran, Rosul dan As-Sunnah. Orang yang melakukannya hukumnya kafir dengan ijma’.
Alloh Ta’ala memberitakan tentang orang-orang munafiq dengan firmanNya dalam Surat Taubah ayat 65 dan 66 :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (٦٥)لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Artinya : Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"(65)
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman (66)
Ayat ini turun tentang senda gurau orang-orang munafiq yang mengejek para sahabat Rosululloh SAW yang mengajar Al-Quran.
Imam Ibnu Jarir dan yang lain meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, Muhammad Bin Ka’ab, Zaid Bin Aslam bahwa pada waktu istirahat dalam perjalanan perang Tabuk, sekelompok orang sedang berbincang-bincang. Salah seorang dari mereka berkata: “Kami tidak melihat orang seperti guru- guru Qur-an kita, mereka lebih cinta perut, bicaranya dusta dan sangat takut berhadapan dengan musuh” (maksudnya Rosululloh dan sahabatnya yang mengajar Al-Quran). maka Auf Bin Malik membentak mereka :”Dusta kamu, sungguh engkau munafiq, aku akan menceritakan kepada Rosululloh SAW, kemudian ia pergi menemui Rosululloh SAW tapi Al-Quran telah mendahuluinya. Maka orang tersebut datang pada Rosululloh SAW dan beliau sudah naik ontanya untuk berangkat. Orang tersebut berkata :”Wahai Rosululloh kami berbincang-bincang tentang kafilah untuk menghilangkan lelah dalam perjalanan”. Ibnu umar berkata : “Aku melihat orang tersebut bergantung pada tali pelana onta Rosululloh SAW, kemudian jatuh tersandung seraya berkata :”Sungguh kami bicara-bicara dan main-main, maka Rosululloh SAW berkata kepada orang itu :
أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ : لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
Kedua ayat ini dan hadits tentang turunnya ayat ini adalah dalil yang shoreh bahwa orang yang mengolok-olok Alloh, RosulNya, ayat Al-Quran, sunnah Rosululloh dan sahabat Rosululloh adalah kafir, walaupun tidak bertujuan menghina.
Termasuk dalam hal ini adalah meremehkan ilmu agama Islam dan para ahlinya, tidak memuliakan bahkan bicara buruk terhadap mereka karena ilmu agamanya, maka pelakunya adalah kafir sekalipun hanya senda gurau, tidak bertujuan menghina, karena ayat 65 dan 66 Surat At-Taubah itu diturunkan untuk orang-orang yang bercakap-cakap senda gurau dan mereka dihukumi kafir sesudah iman. Sedang alasan mereka tidak diterima, karena semua ini tidak boleh digunakan untuk senda gurau tapi wajib dimuliakan dan diagungkan.
Termasuk dalam hal ini adalah mengejek sunnah yang shoheh dari Rosululloh SAW, seperti memelihara jenggot, memakai siwak, berpakaian conglang tidak menutup mata kaki dan lain-lainnya.
Dari sini jelaslah kafirnya orang-orang yang mengebiri syareat Islam dan mengatakan syareat Islam tidak baik untuk masyarakat sekarang, hukum Islam adalah keras dan buas dan menindas kaum perempuan.
Kami berlindung kepada Alloh SWT dari rayuan syethan yang menyesatkan serta mohon keselamatan dari Alloh SWT.
Kami akhiri disini pembahasan tentang “Petunjuk Aqidah Yang Benar” dalam jilid buku pertama, sedangkan pembahasan tentang tauhid asma’ dan sifat insya Alloh akan saya bahas dalam buku berikutnya. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi orang-orang yang mencari kebenaran dan petunjuk dari Alloh SWT.

Amin. Ya Robbal ‘Alamin.